
Mengetahui dirinya dihalangi dan yang menghalangi jalannya adalah orang yang paling dia benci yaitu aku, Euphyllia segera memasang wajah yang sangat masam dan sebal kepadaku.
Euphyllia dengan sangat kasar menarik kerah pakaianku untuk menyingkirkanku dari hadapannya.
"Jujur saja aku tidak keberatan kalau kau membenciku. Tapi aku cukup keberatan karena tidak mengetahui penyebabnya." Kataku dengan blak-blakan. Euphyllia yang sudah menggenggam gagang pintu ruang Theresa melepaskan genggamannya dari gagang pintu dan mulai menoleh ke arahku dengan ekspresi yang kalau dilihat cukup membuat mataku sakit.
"Begitu ya, kau tidak tahu? Kau cukup bersenang-senang ya dengan penderitaan orang lain, yang bisa kau sebut rakyatmu jika dilihat dari sudut pandangmu. Bahkan kau sampai melupakannya." Ujar Euphyllia. Dilihat dari kosa kata yang dipilih oleh Euphyllia sepertinya dia tahu diriku yang sebenarnya.
"Apakah karena itu kau menahan diri untuk tidak membunuhku?" Tanyaku mencoba memprovokasi.
Euphyllia menarik sabit yang tersandang di punggungnya. Gagang sabit itu kemudian memanjang sepanjang tongkat toya.
"Jangan mencoba menguji kesabaranku, Leonheart." Tegas Euphyllia mengeluarkan aura mengintimidasi dan mengambil posisi kuda-kuda untuk bertarung.
"Hentikan. Aku tidak berniat untuk bertarung. Begini saja, akanku ikuti permainanmu saja. Bagaimana caranya supaya kau mau memberitahu dosa apa saja yang telah kuperbuat sehingga kau begitu dendam dan benci kepadaku?" Kataku menjawab niat bertarung Euphyllia.
"Lalu apa? Kau akan berlutut dan meminta maaf kepadaku setelah apa yang telah kau lakukan jika aku memberitahu perbuatan brengsekmu?! Tidak semudah itu!" Bentak Euphyllia. Cukup sulit juga untuk bernegosiasi dengan gadis ini. Kalau begitu...
Aku pun tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan kasar dari Euphyllia. Euphyllia masih memelototiku dengan curiga karena melihat dan mendengar tawaku.
"APA YANG LUCU?!!" Euphyllia mulai menodongkan bilah sabitnya lebih dekat ke leherku.
"Tak kusangka kau se-pengecut itu. Heran saja Theresa malah memasukkanmu ke dalam Guardian. Kau padahal yang menguasai permainan lo. Kau bisa memilih permainan yang kau suka dan yang bisa kau menangkan dengan mudah tapi kenapa kau malah menghindarinya. Jadi cukup wajar jika aku melupakan hal buruk apa saja yang telah kuperbuat kepadamu. Karena kau cukup penakut." Aku mulai memprovokasi Euphyllia lebih keras lagi.
Mata dan wajah Euphyllia mulai memerah hingga warnanya menjadi merah padam. Kedua tangannya mulai bergetar hebat. Giginya menggeretak dengan keras. Benar-benar kemarahan murni yang luar biasa. Dengan sangat marah, Euphyllia menebaskan sabitnya ke arahku tapi gerakannya terhenti.
"Iya, sampai di situ. Euphyllia." Kata Theresa mengekang Euphyllia dengan beberapa segel rantai berwarna ungu yang keluar dari portal lingkaran sihir.
__ADS_1
"Tapi...!!" Euphyllia masih berusaha untuk menebasku tapi tubuhnya tidak mau bergerak.
"Kalau kalian ingin bertarung setidaknya jangan di Katedral arenanya. Biaya renovasi nya bisa membuat krisis moneter untuk Underground. Buruh bangunan yang kita punya sedikit lo." Kata Theresa menatap kami bergantian dengan cara menatap yang sangat menyebalkan.
"Dan Euphyllia, kenapa kau tidak terima saja tantangan beliau. Coba pikirkan lagi. Jika kau menang kau bisa mempermalukannya di depan orang banyak alias di depan rakyatnya sendiri. Bukankah itu cukup menggiurkan?" Bujuk Theresa. Euphyllia kemudian menatapku dengan tajam.
"Akan ku kalahkan kau di setiap sesi latihan yang akan diberikan kepadamu selama seminggu ini. Jika kau menang akan ku beritahu kebusukanmu yang telah kau lakukan di masa laluku. Jika aku menang akan kubuat kau menyesal karena sudah terlahir ke dunia ini." Kata Euphyllia dengan tegas.
"Baiklah, sepakat." Kataku. Rantai-rantai yang meliliti tubuh Euphyllia pun mengendor dan menghilang.
"Kuharap kita bersaing dengan jujur dan adil." Kataku mengulurkan tanganku kepada Euphyllia tapi ditampar dan ditolak mentah-mentah. Euphyllia dengan cepat memasuki ruangan Theresa tanpa berucap apapun. Theresa hanya bisa mengangkat bahu dan memberikan ekspresi jahil kepadaku dan masuk kembali ke dalam ruangan.
Bagus, dia terpancing. Mari kita dengar apa saja list yang disiapkan Theresa untuk lomba anak-anak ini.
Tiba-tiba terdengar notifikasi dari alat komunikasi ku. Aku cukup penasaran karena ini notifikasi berupa panggilan masuk. Siapa yang mencoba menghubungiku. Aku pun menekan tombol "menerima panggilan".
"Ah, Emiya. Ini Laser, bisakah kau menjemput Jihan sekarang? Aku mendapatkan tugas dan misi untuk pergi permukaan." Kata Laser melalui alat komunikasi.
"Baiklah, aku dalam perjalanan." Balas ku kemudian aku mematikan panggilan secara sepihak.
...****************...
Sesampainya aku di komplek khusus tepatnya di rumah Laser yang kulihat dari GPS aku cukup terkesima. Ternyata rumah milik Laser berseberangan dengan rumah kami dan rumahnya jauh lebih besar dari milik kami.
Apa yang bisa dilakukan kucing yang bisa berdiri menggunakan 2 kaki sehingga dia bisa digaji dan diberikan rumah sebesar dan semewah ini. Bukannya aku iri karena mewah rumahnya tapi aku sangat ke heranan. Di depan beranda teras, Laser sudah duduk di kursi teras sambil minum menggunakan gelas mug-nya yang berwarna hitam. Di halaman depan aku bisa melihat Jihan bermain boomerang yang dibuatkan oleh Kenji ketika kami diluar tembok.
Mengetahui kehadiranku, Laser segera meletakkan gelas mug-nya dan berjalan mendekatiku. Aku dan Laser pun bersalaman. Aku bahkan harus berjongkok untuk bisa bersalaman dengannya.
__ADS_1
"Apakah Jihan merepotkanmu?" Tanyaku.
"Ah, tidak. Dia gadis yang baik dan mengasyikkan. Jika dia sedang kosong anda bisa menitipkan nya kemari." Kata Laser melambaikan tangannya menyangkal perkataanku.
"Rumah yang besar." Kataku mencoba menyindir masalah rumah.
"Iya begitulah, semua Guardian juga tinggal di sini jadi wajar saja kalau harus dibuat sebesar ini." Kata Laser. Oh jadi itu alasan kenapa rumahnya sebesar ini. Ternyata dihuni lebih dari 1 individu.
"Kudengar kau mendapat misi." Kataku mencoba berbasa-basi.
"1 jam dari sekarang. Iya. Karena itu akanku kembalikan Jihan kepadamu." Jawab Laser.
"Apakah misi-mu dirahasiakan?" Tanyaku.
"Bisa di bilang begitu. Jujur, aku akan sangat senang bisa lebih lama untuk mengajak anda berbicara. Tapi tugas tetaplah tugas. Jadi saya permisi dulu, Nona Emiya." Kata Laser.
"Hei, tidak perlu se-formal itu kepadaku. Aku harap para Guardian juga bisa lebih dekat dan akrab dengan kami. Maaf sudah merepotkanmu." Kataku. Laser tanpa dia sadari tersenyum mendengar perkataanku tadi.
"Baiklah Non. Tidak, aku sama sekali tidak repot." Kata Laser.
"Jihan, kau sudah berpamitan dengan Laser?" Seruku mencoba mendapatkan perhatian dari Jihan. Jihan pun menoleh lalu berlari ke arahku.
"Belum." Balas Jihan.
"Kami pamit dulu ya, Tn Laser." Kata Jihan. Tidak kusangka Jihan bakal se-sopan itu. Apakah Kenji yang mengajarkannya?
"Tentu, Jika kau kosong datanglah kemari." Ujar Laser.
__ADS_1
Aku dan Jihan pun pulang