Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Desa Yang Terpencil


__ADS_3

Malam itu aku mempersiapkan persiapan. Semua barang yang ingin kubawa ku masukan ke dalam tas. slempangku. Tuan Franko mengetuk pintu kamarku meminta perizinan untuk masuk. Aku membukakan pintu kamar dan mempersilahkan untuk masuk.


Tuan Franko membawa sesuatu untukku. Tombak trisula yang panjang 100 cm terbalut di sebuah kain berwarna putih kusam dan 2 pistol FN five-seven. "Ini senjataku dulu ketika pelatihan. Aku sudah pernah mengajarimu menggunakan beberapa senjata dan seni bela diri ala militer Tandum. Jadi gunakan sepuasmu hingga menemukan kebahagiaanmu." Kata Tuan Franko dan meletakkan di atas tanganku.


Aku merasa tidak enak karena terus merepotkannya semenjak aku masuk ke dalam benteng. "Aku merasa senang tuan. Tapi aku tidak bisa menerimanya. Terlalu banyak jasa dan hutang budi tuan yang tidak bisa kubayar." Kataku memberikan kembali kepadanya.


Tuan Franko pun tersenyum.


"Justru memberikanmu senjata ini agar kau selamat dari para iblis di luar sana adalah salah satu cara membalas budiku kepada Kenji." Kata Tuan Franko. Aku tidak mengerti apa maksudnya.


"Kenji mengajarkan kepadaku apa itu namanya pengorbanan. Dia rela menyelamatkan wanita yang notabe-nya hanyalah kakak angkatnya dengan mengorbankan nyawanya. Dia rela mengantarmu jauh-jauh kemari agar kau mendapat perlindungan yang kau notabe-nya hanyalah orang asing baginya. Kami para prajurit sudah sering ikut berperang demi memperjuangkan nasib manusia tapi selalu mengorbankan rekan kami sendiri demi keselamatan kami sendiri. Kami terlalu takut menghadapi kematian. Maka untuk kali ini aku akan berkorban melepasmu dari perlindunganku agar kau bisa mencapai kebahagianmu." Jelas Tuan Franko.


Aku tidak sanggup menahan air mataku. Aku tidak bisa menutup-nutupinya, aku bahkan tidak bisa berucap sepatah kata pun padanya. Aku tidak tahu kalau tuan Franko begitu sulit melepaskanku. Tapi dia tetap melakukannya demi keinginan egoisku. Sedangkan aku hanya membebaninya selama 3 bulan terakhir ini. Tuan Franko memelukku dan aku tenggelam dalam pelukannya. Semalaman itulah aku tidak bisa tidur.


Subuh-subuh Tuan Franko membangunkan ku. Para zombie sangat aktif pada malam hari tapi jika seseorang melihatku keluar gerbang tanpa izin maka aku akan di kembalikan. Maka dari itu waktu yang paling tepat adalah subuh dimana para Zombie mulai diam dan para penjaga sedang berganti shift kerja. Kami pun sampai ke pintu gerbang benteng. Tuan Franko memberiku kudanya yang sudah jarang dia pakai.

__ADS_1


"Tuan Franko, aku tidak tahu harus berkata apa untuk berterima kasih kepadamu." Kataku masih tidak enak.


Dengan tersenyum."Justru jika kau tidak bisa kembali kepada Kenji dengan selamat maka aku tidak akan memaafkanmu." Tuan Franko pun membantuku menaiki kudanya yang berwarna hitam.


"Aku mungkin tidak bisa mengantarmu hingga ke Kenji karena aku takut akan menjadi beban karena aku sudah terlalu tua. Maka hanya ini yang bisa kuberikan kepadamu." Katanya. Sebelum aku sempat berterima kasih, Tuan Franko memacu Kudaku agar segera berlari. Aku tahu dia tidak kuat akan perpisahan begitu juga denganku. Kudaku pun langsung berlari kencang meninggalkan tuan Franko dan Benteng Tandum.


Aku bergerak ke arah barat. Seingatku Kenji ke arah barat tanpa berbelok sedikitpun sebelum para penjaga menutup pintu gerbang saat itu. Maka kuputuskan untuk bergerak ke barat. Selama 1 jam aku menaiki kuda, aku hanya menemukan puing- puing bangunan dan bangunan yang sudah tua. Tidak ada manusia maupun zombie di sekitar. 2 jam telah berlalu. Aku pun memutuskan untuk istirahat di dekat sungai. Aku juga mengikat kudaku di salah satu pohon yang ada disana.


Sama ketika mengendarai kuda. Tidak ada tanda-tanda iblis maupun manusia di sekitar sini. Aku juga sempat berpikiran, Apakah masih ada manusia yang masih bertahan hidup di luar benteng? Itu terus terngiang di benakku. Ketika sedang asyik memakan sepotong roti aku melihat ada sesuatu yang terdampar di pinggir sungai.


Wanita itu berambut panjang berwarna hitam, sangat halus dan lembut, kulitnya putih sedikit pucat. Ketika kuperiksa lagi ternyata di bagian bahu kirinya terdapat luka tebasan yang sangat dalam. dari bekas luka keluar kilauan emas yang memudar. Wanita itu pun tersadar.


"Bertahanlah!" Kataku untuk menyemangatinya agar tetap hidup, kupangku kepalanya dan kupegang tangannya.


Tapi sebelum sempat berkata-kata wanita itu memudar dan menghilang menjadi kilauan emas. Kilauan emas itu pun berkumpul menjadi satu dan masuk ke dalam tubuhku. Aku segera melihat ke sekitar. Tidak ada siapapun. Siapa yang menyerangnya?

__ADS_1


Tapi jika ada wanita sekarat yang hanyut di sungai pasti ada tanda kehidupan di sekitar sini. Aku pun menyudahi istirahatku dan mulai memacu kudaku. Kutelusuri sungai tersebut dengan arah yang berlawanan dari arusnya. Pasti ada sesuatu.


Tanpa kusadari, aku sudah masuk ke dalam hutan tropis. Aku memperlambat laju kudaku. Kemudian aku melihat sesuatu lagi dipinggir sungai. Sebuah gapura. Gapura atau tanda yang terbuat dari tulang-tulang dan kayu dengan kepala sapi dan kambing. Aku segera turun dari kudaku dan mengikatnya ke daerah tersembunyi. Kudaku mengibas-ngibas ekornya tidak nyaman, kakinya berderap tanpa henti. Hawa di hutan inilah penyebabnya. Hawa yang sangat mistis dan tidak mengenakkan. Kata tuan Franko bangsa iblis akan memancarkan hawa seperti itu.


Aku pun mengeluarkan satu pistolku untuk berjaga-jaga. Aku maju dengan perlahan mengikuti jalur sungai. Tak kusangka beberapa meter aku menyusuri sungai aku menemukan sebuah pemukiman. Terlihat seperti desa terpencil. Aku semakin meningkatkan kewaspadaan ku disini. Aku memutuskan untuk memutari desa tersebut, menggunakan pohon-pohon dan semak- semak untuk berkamuflase.


Desa itu sangat sunyi seperti tidak ada orang satu pun di sana. Aku sadar jika di sini sangat berbahaya. Tapi tujuanku untuk mengejar Kenji tetap tidak berubah. Aku yakin Kenji pasti ke desa ini juga. Aku mulai mendekati desa itu semeter demi semeter, selangkah demi selangkah. Hawa menegangkan selalu hadir membuatku takut.


Aku mulai masuk ke dalam desa. kuperhatikan setiap detailnya tanpa ada yang kulewatkan ketika aku berjalan dari jalanan rumah ke rumah. Aku pun sampai di alun-alun desa. Sangat sepi. Suara angin bahkan bisa membuatku takut dan menodong ke arah udara kosong. Kulihat ada salah satu kandang sapi perah yang terang dalamnya. Aku pun memutuskan untuk kesana untuk melihat apa yang ada di dalamnya.


Sudah kuperiksa bagian belakang dan sampingnya. Aku tidak menemukan apapun. Kuputuskan untuk memulai memasukinya melalui pintu depan. Pintu depannya terbuka lebar. Kumpulkan keberanian ku untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Kutodongkan pistolku. Tidak ada siapapun. Hanya kandang berisi beberapa sapi. Kuawasi sekitarku, memungkinkan sekali jika ada jebakan disini. Aku melihat meja tepat di bawah lampu. Karena penasaran, aku membuka buku itu. Baru beberapa halaman kubaca keringat dingin mulai keluar dari tubuhku. Tanganku bergetar memegang buku tersebut. Tidak kusangka akan secepat ini menemukan desa ini.


Ketika aku berbalik ada seorang petani yang badannya besar berdiri 3 langkah dariku. Petani itu membawa garpu rumput. Aku hampir tidak bisa bereaksi. Petani tersebut langsung menyerangku menggunakan garpu rumputnya dengan membabi buta. Aku langsung reflek menghindari serangannya dan menbuat garpu rumputnya tertancap di gentong kayu dan tersangkut. Kutembak petani tersebut hingga 3 kali tembakan.


Sang petani langsung mengaum keras karena kesakitan. Para penduduk pun datang sambil membawa pisau, garpu rumput, sabut, dan alat- alat tajam lainnya. Disaat itulah aku baru menyadari kalau aku berada di desa para kanibal.

__ADS_1


__ADS_2