
Kepalaku sangat pusing. Aku begitu lemah dan tak berdaya. Kubuka mataku secara perlahan meskipun aku masih belum bisa bangun. Pandanganku kabur dan hanya bisa melihat beberapa titik cahaya yang kuduga yaitu obor.
Setelah bisa membuka mataku sepenuhnya aku mencoba untuk bangun dari tempatku tergeletak. Aku melihat sekitar. Ada seseorang yang bersandar di dekatku. Awalnya aku mengira itu adalah Kenji tetapi bukan. Hamato yang bersender di dekatku. Dia sedang menikmati segelas anggur dengan gelas emas. Aku heran dimana dia mendapatkannya?
"Apa yang kau lakukan di sini, Hamato? Dimana ini?" tanyaku singkat.
"Ousama-ku yang menyuruhku untuk melindungimu. Ini adalah sel tahanan yang di buat oleh para iblis. Tepatnya, di tempat tambang yang kau datangi tadi." Jawabnya.
Aku langsung berdiri dan berjalan tergopoh-gopoh untuk melihat diluar apa yang dibalik jeruji besi. Meskipun masih terlihat kabur aku bisa percaya apa yang dikatakan Hamato. Aku melihat ke bawah dan melihat gerbang besar yang sedikit terbuka. Itu gerbang masuk yang kumasuki beberapa saat lalu. Tapi bagaimana Hamato bisa tahu?
"Kau mengikutiku?" Kataku menoleh ke arahnya.
"Iya." Katanya santai melihat gelas emasnya.
"Sejak kapan?" Tanyaku lagi.
"Sejak awal." Jawabnya singkat.
__ADS_1
Awal? Awal mana yang dia maksud? Sejak awal kami bertemu? Ah, sudahlah itu tidak penting. Aku pun sadar akan sesuatu. Aku mencoba membuka pintu jeruji. Tidak bisa terbuka. Bagaimana dia bisa masuk?! Hamato pun menyesap semua anggurnya. Gelas emasnya menghilang layaknya debu yang tertiup angin. Dia pun berdiri dan berjalan mendekatiku atau mungkin pintu jeruji.
"Hei, bantu aku keluar dari sini." Kataku langsung to the point.
"Kau pikir kau berbicara dengan siapa, anjing betina?! Kau tidak berhak mendapatkan bantuan dariku sedikitpun. Lagi pula aku di perintahkan untuk melindungimu bukan membantumu keluar dari kandang berkarat ini." Katanya dengan angkuh kemudian menghilang seperti kilauan debu emas.
Ok kali ini dia membuatku terdiam. Alasannya sangat logis. Saking logisnya aku hampir melemparnya dengan batu. Tapi kuurungkan. Yang bisa kulakukan hanyalah duduk menunggu nasib selanjutnya. Semua senjataku di rampas ketika aku tidak sadarkan diri dan tidak ada alat yang bisa kupakai untuk membuka pintu jerujinya.
Sekitar 1 jam telah berlalu. Suara kunci diputar terdengar. Para kanibal sepertinya sudah kehabisan stok makanan dan mulai mencari stok ke ruang tahanan. Mereka pun mulai mendekat. Aku hanya bisa pasrah. Tapi apa yang mereka lakukan. Mereka hanya memborgol kedua tanganku. Mereka pun menyeretku keluar jeruji.
Aku sangat terkejut sekaligus heran. Apa yang mereka rencanakan? Ini jelas membuatku curiga. Dan diantara mereka tidak ada yang waspada denganku setelah memberikan senjata-senjata ini. Mereka pun perlahan mundur. Itu menambah kecurigaan ku. Tiba- tiba ada sesuatu yang menyentuh leher belakangku. Sebelum sempat bereaksi tubuhku menjadi kaku dan tak bisa di gerakkan. Para kanibal pun mulai mendekat dan membuka borgol yang mengikat tanganku.
Tapi aku tidak bisa bergerak bebas sedikitpun. Tubuh bergerak sendiri menuju lorong yang berada didepanku. Ketika sempat melirik di bagian pantulan bayangan aku sangat terkejut. Bayangannya seperti manusia tapi di penuhi sulur,daun, dan juga lumpur rawa. Dia menuntunku secara perlahan melewati lorong. Tak lama kemudian aku menemukan gerbang jeruji lagi sekaligus cahaya matahari yang menyilaukan mata. gerbang pun terbuka. Tubuhku mulai terkena cahaya matahari yang sangat terik.
Ketika mataku sudah mulai terbiasa akan sinar matahari aku tidak harus bahagia atau takut. Kenji seperti bermandikan darah. Disekelilingnya dipenuhi dengan mayat-mayat iblis yang begitu banyak bahkan hingga menggunung. Mulutku bahkan tidak bisa berucap apapun setelah melihatnya.
Kenji menyadari keberadaan ku kemudian menoleh ke arahku. Di matanya sempat menunjukkan rasa bingung dan kaget. Kenapa begitu? Karena tanganku tanpa sadar menodongkan pistol ke arahnya. Makhluk rawa di belakangku-lah yang melakukannya.
__ADS_1
Ternyata aku berada di tengah candi yang tadi kudatangi. Jadi begitu, candi ini adalah perangkap sekaligus tempat latihan dan bahan tonton para iblis. Dan aku di paksa bertarung melawan Kenji dari makhluk rawa yang ada dibelakangku.
"Kenji, awas.....aku tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri......cepat hindari tembakan ku ini....." Tanganku langsung menarik pelatuk tersebut. Tapi Kenji tidak menghiraukannya dan membiarkan dirinya tertembak. tepat di bahunya. Aku sempat menggeser arah bidikan makhluk rawa ini. Makhluk ini menarik pelatuk lagi dan Kenji tertembak lagi, lagi, lagi, dan lagi. Ini sangat mengerikan. Para iblis sangat menikmatinya, aku bisa merasakan kalau mereka sedang mentertawai kami para manusia yang sangat bodoh saling membunuh untuk jadi tontonan mereka.
Peluru pun habis. Tapi masih terdapat pistol lagi di tanganku yang satunya. Seperti nya makhluk rawa ini tidak tahu cara reloading senjata modern. Dia mulai membuatku menembak Kenji lagi. Lagi-lagi Kenji tidak bergerak sedikitpun. Meskipun bidikan makhluk rawa di belakangku tidak begitu bagus. Tapi aku tetap tidak tega melihat semua ini. Air mataku tanpa sadar mengalir deras. Jadi ini nasibku? Membunuh orang yang pernah menyelamatkan nyawaku yang kalau dipikir tidak berharga. Iblis rawa di belakangku juga mulai menikmatinya. Tapi lagi- lagi semua tembakannya hanya menyasar ke tempat yang bukan daerah vital. Tapi Kenji meringis kesakitan. Tubuhnya dipenuhi 12 lubang peluru dan meneteskan banyak darah. Aku semakin tidak tega melihatnya. Aku semakin merasa bersalah di saat itu. Hatiku mulai dipenuhi rasa sakit.
"Kenji, tembak aku......tak usah pedulikan....aku.....tembak aku." Yah tanpa sadar aku mengatakan itu.
Kenji menjatuhkan pistol magnumnya. Dia pun langsung tumbang dan berlutut. Makhluk rawa itu pun mengendalikan tubuhku untuk mengeluarkan trisulaku. Kami pun mulai mendekati Kenji. Meskipun kaki menolak untuk ke sana tapi aku tidak bisa. selama akar yang menempel di leher belakangku terhubung dengan tubuh makhluk berawa itu aku tidak akan bebas.
Aku semakin dekat dengan Kenji. Aku tahu maksud makhluk rawa ini. Dia ingin membuatku menusuk jantung Kenji. Aku makin tidak berdaya. Yang masih bebas dari tubuhku hanyalah mulut dan hatiku saja. "Kenapa?!....Kau tidak menghindarinya?!" Kataku penuh penyesalan. Rasa kesal dan bersalah menghantuiku.
"Kenji.....TEMBAK SAJA AKU!!!" Seluruh candi mungkin mendengar jeritan ku.
"Beneran, boleh?" Kata Kenji dengan nada polos.
"Ok, aku tidak akan sungkan." Kenji mengambil pistol magnumnya dan dia pun menarik pelatuknya.
__ADS_1