
Kenapa keadaan menjadi begini? Aku bahkan sampai kebingungan sendiri akibat syok. Perseus tertembak tepat di depanku. Darahnya sempat menyiprat ke wajahku. Apakah ini sisi gelap dari perang mitologi. Terpaksa berperang dan membunuh satu sama lain hanya demi membunuh makhluk bernama OVERLORD.....Kenapa tidak bekerja sama saja untuk mengalahkannya?
Kenji menggandeng Jihan yang sepertinya sempat dia tinggal untuk menembak kepala Perseus tadi. Tapi ketika melihat Jihan yang sepertinya baik-baik saja membuatku sedikit lebih tenang. Kenji kemudian menyuruh Jihan untuk mendatangiku. Jihan pun mendatangiku tanpa banyak tanya dan segera memelukku. Kenji melewatiku tanpa mempedulikanku. Aku menoleh ke arah Kenji yang sedang berjalan menuju ke arah pesawat. Kami pun mengikutinya dari belakang.
Apa yang membuat Kenji menjadi seperti ini? Apa yang menimpanya sebelum bertemu denganku? Aku sangat yakin kalau efek daging iblis yang dia makan bukanlah penyebab sifat kejam dan dinginnya. Pasti ada sesuatu yang belum aku tahu darinya. Sesuatu yang menutup hatinya. Mau bagaimana pun dia tetaplah orang yang menyelamatkanku. Aku tidak berhak protes kepadanya dan aku sendiri yang memutuskan untuk mengikutinya kemanapun dia pergi.
"Kakak baik-baik saja?" Kata Jihan melihatku dengan cemas. Aku memegang erat tangannya.
"Tidak, tidak apa-apa. Apakah tidurmu nyenyak tadi." Tanyaku mencoba mengalihkan topik. Tapi aku malah menanyakan tidurnya. Manusia mana yang masih bisa tidur ditengah kebisingan dari pertarungan tadi. Tapi Jihan malah mengangguk.
"Begitu ya. Bagus lah." Kataku menatapnya dengan tersenyum.
"Kenapa kakak berpenampilan seperti ini? Setahuku tadi, kakak memakai baju biasa." Tanya Jihan melihatku dari ujung rambutku hingga ujung alas kakiku. Aku masih menggunakan wujud dari Perseus yang belum kunonaktifkan. Aku pun kembali wujud biasaku.
"Ah, aku lupa melepas wujud tadi." Kataku. Jihan malah terlihat begitu senang ketika penampilanku ternyata bisa berubah dalam sekejap mata.
Kami pun masuk ke dalam kokpit. Asap masih mengepul di segala arah tapi tidak setebal tadi. Asap dari ledakan granat Kenji. Meskipun struktur tempat kokpit lembut seperti daging tapi tidak ada yang hancur sedikitpun. Bahkan layar-layar kaca komputer didalamnya saja tidak retak sedikitpun. Kenji menuju sebuah panel komputer paling besar di ujung. Kenji pun mulai menghidupkan komputer tersebut dengan bantuan Hazard.
"Jangan sentuh apapun yang ada di sini. Tempat ini berumur sekitar lebih dari 1 abad. Pasti ada beberapa orang sebelum kita yang menemukan tempat ini dan membuat jebakan. Jangan lengah." Kata Kenji yang matanya masih fokus ke layar panel yang akhirnya hidup. Kami pun menurut tanpa banyak tanya.
Aku mengawasi Jihan yang sedang asyik mengambil sesuatu di ransel milik Kenji yang di letakkan di sampingnya. Aku sempat ingin mencegahnya. Aku takut kalau Kenji marah karena Jihan mengobrak-abrik isi ranselnya. Tapi sebelum aku bergerak, Jihan sudah menemukan dan mengeluarkan sesuatu yang dia cari di dalam ransel milik Kenji. Sebuah mainan. Sebuah patung kecil berbentuk beruang yang sepertinya terbuat dari bahan yang sama dengan revolver Kenji. Sejak kapan dia membuatnya? Dan aku tidak asing ketika melihatnya. Bentuk dan warnanya sama dengan beruang zombie yang kami lawan tadi.
__ADS_1
Aku melambaikan tanganku agar Jihan mendekat. Jihan pun mendekat kepadaku.
"Indah sekali." Pujiku melihat miniatur beruang tersebut.
"Tentu saja. Ketika kita berhenti cukup lama di lorong tadi, Ayah membuatnya untukku." Kata Jihan. Bagaikan ditusuk tombak ke jantungku. Aku begitu terkejut. Setahuku tadi Jihan begitu ketakutan ketika melihatnya dalam sekejam mata, Jihan menganggap Kenji sebagai ayahnya hanya karena membuatkan Jihan miniatur beruang.
"Sihir macam apa yang kau tanamkan kepada Jihan, Kenji!?" Aku reflek membentak Kenji. Bukannya marah.
"Sihir apaan, coba. Aku hanya membuatkannya mainan. Jihan tampak begitu menyukai beruang. Maka dari itu aku membuatkannya miniatur beruang tadi." Kata Kenji yang masih fokus memandangi panel yang menyala.
Aku baru ingat. Jadi itu alasannya kami berhenti selama 2 jam tadi di lorong. Kenji membuat miniatur beruang ini dengan sangat teliti. Tapi aku masih cukup heran ternyata Kenji memiliki jiwa seni sebagai seorang berdarah dingin. Ini sangat mendetail dan bahkan sama dengan aslinya. Tiba-tiba senyumku muncul.
Apakah ini sifat baik Kenji yang masih tersisa sebelumnya? Ternyata dia cukup baik. Dia bahkan rela berhenti lama dan mengesampingkan tujuannya hanya untuk membuat mainan untuk anak kecil.
Di dalam mimpiku aku bertemu dengan Perseus yang di sampingnya ada Tsukuyomi.
"Akhirnya kau mulai terisi juga." Kata Tsukuyomi dengan tersenyum. Apa yang dia maksud dengan terisi? Apakah dia bisa mengintip dari dalam diriku ketika aku.......
Lah kenapa aku malah malu sendiri ketika memikirkannya?!
"Aku belum sampai ketahapan itu dengan Kenji!" Bentakku secara reflek. Wajahku sepertinya semerah
__ADS_1
apel sekarang. Tsukuyomi langsung tertawa.
"Kenapa kau tertawa?!" Kataku dengan malu.
"Kau juga akan mengerti nantinya. Tuh, wajahmu merah padam lo." Tsukuyomi menunjuk wajahku yang pasti memerah seperti orang yang sedang kepanasan. Tsukuyomi sangat suka membuat orang lain kesal kepadanya, cocok jadi provokator.
Aku pun tanpa sengaja melihat Perseus. Aku begitu menyesal dengan kematiannya.
"Maaf." Kataku akhirnya. Perseus sempat terkejut mendengarnya dan ikut tertawa. Tapi hanya tawa kecil. Aku tahu dia tidak berniat untuk mengejekku.
"Aku ini orang yang sudah pernah mati sekali. Kenapa kau malah meminta maaf? Lagi pula aku malah ingin berterima kasih karena telah di bunuh oleh pria yang menembakku tadi." Jelas Perseus. Lah? Dibunuh kenapa malah menjadi kebahagiaan tersendiri? Bukannya jika orang yang di beri kehidupan untuk kedua kalinya seharusnya menyesal.
"Perang mitologi di dunia ini sudah berlangsung begitu lama dan menumpahkan banyak darah dan nyawa. Akhirnya aku bisa berhenti mengangkat tombakku. Dan aku juga tidak menyangka kau adalah cawan suci yang selama ini di cari oleh Fraksi 13 pahlawan." Jelas Perseus.
"Tunggu dulu. Kau berasal dari Fraksi 13 pahlawan?" Tanyaku.
"Kami berasal dari Fraksi 13 Pahlawan. Cawan suci, bolehkah aku meminta sesuatu?" Pinta Tsukuyomi. Wajahnya tampak begitu serius sekarang tapi juga dengan memohon.
"Maukah kau mengakhiri perang mitologi ini?" Tanyanya.
"Tujuanku hanyalah membantu Kenji sebagai cawan sucinya. Aku tidak bisa berjanji kepadamu. Jika Kenji ingin menghentikan perang ini maka aku akan membantunya. Tapi jika tidak atau bahkan tidak peduli maka aku tidak bisa melakukannya." Jelasku. Bukannya marah Tsukuyomi dan Perseus malah tersenyum setelah mendengar penjelasanku.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku harap laki-laki itu bisa menjagamu dengan baik hingga akhir." timpal Tsukuyomi.
Dan akhirnya aku terbangun dari mimpi itu.