
"Bunuh mereka semua, Hisao." Kata Kenji dengan nada memerintah.
"Jangan memerintahku!!!" Bentak Hisao dengan kesal. Keadaan semakin menjadi-jadi. Jika wajah kami sampai dikenali maka kami akan semakin sukit untuk bergerak di Kerajaan Tandum.
"Tim Alpha lapor, lantai 1 bersih." Aku mendengar salah satu prajurit yang sedang melapor.
"Tim Bravo, lantai 2 bersih." Kali ini tim Bravo yang melapor. Mereka semakin mendekat. Suara di tangga sudah sangat berisik karena hentakan sepatu boot mereka.
Tim lantai 3 mulai menyusuri dan menyisir segala sisi lantai 3. Mereka pasti cukup kesulitan karena dilantai tiga memiliki koridor yang cukup sempit dan memiliki banyak kamar dan pintu. Senter-senter mulai menyorot ke segala arah.
Ketika semua kamar sudah diperiksa, kamar terakhir paling kiri pun mulai diperiksa.
"Kami menemukan tetesan lendir." Kata salah satu prajurit dan melapor setelah dia mendobrak pintunya.
Prajurit itu pun melihat ke atas. Betapa terkejutnya prajurit itu. Ada mayat prajurit yang tergantung dengan usus yang terburai keluar dari perutnya kemudian dijadikan media gantung. Jelas prajurit itu panik.
"Kalian tidak seharusnya kesini." Kata seseorang di belakangnya. Prajurit itu segera mengarahkan senapannya ke belakang. seseorang dibelakangnya pun melempar prajurit itu keluar ruangan hingga membentur pintu kamar depannya hingga rusak.
Prajurit yang mengetahuinya segera mengarah ke kamar itu. Dengan cepat, Hisao keluar dan menghadang mereka.
__ADS_1
"Nona Hisao?" Kata salah satu prajurit. kemudian salah satu prajurit yang lain melihat tangan Hisao yang ternyata adalah tangan monster dan berlumuran darah. Para prajurit dengan sigap menodongkan senjata mereka dan menembaki Hisao.
Hisao menggunakan tangan kirinya sebagai tameng dari tembakan peluru mereka dan berjalan mendekati para prajurit. Kemudian Hisao menebaskan tangan yang dia gunakan untuk menjadi perisai. Semua prajurit pun terpental terkena tebasan itu.
"Terlalu sempit. Ayo kita pindah ke tempat yang lebih luas." Kata Hisao melakukan pemanasan pergelangan kaki. Hisao bersalto hingga pojok koridor kemudian berlari dengan kecepatan tinggi ke arah para prajurit yang masih kesulitan untuk berdiri karena koridor lantai 3 memang sangat sempit.
Seperti atap yang runtuh. Aku bahkan tidak menduganya. Hisao menggunakan kaki iblisnya untuk mendorong semua pasukan musuh ke bawah lantai 2 melalui tangga.
Asap mengepul sangat tebal dibawah. Semua pasukan musuh sudah bersiap di posisi cover dan menembak.
"Ya ampun, orang itu tahu kalau gerombolan sampah seperti kalian akan kesulitan di ruangan sempit. Sampai-sampai aku harus mendorong mereka dengan sedikit tendangan kecil untuk turun ke lantai yang lebih luas." Hisao dumel dan mengeluh dengan kondisi lantai 3.
Hisao berlari dengan sangat cepat mengelilingi ruangan sambil menebasi para prajurit yang ia lewati. Semua prajurit mati satu per satu. bahkan kecepatan bidikan prajurit terlatih kalah cepat dengan kaki baru Hisao. Bahkan saat berlari, Hisao sempat menarik beberapa pin granat yang ada di perlengkapan musuh di tengah Hisao berlari. Ledakan granat menewaskan 5 prajurit. Pisau mulai dipenuhi banyak darah dan potongan-potongan daging dan organ. Membuatnya sangat tumpul dan hampir tidak bisa digunakan lagi.
Mengetahui kondisi pisaunya sudah hampir tidak bisa digunakan lagi, Hisao melemparkannya ke 2 prajurit yang ada jauh di sebrangnya. 2 pisau itu tepat mengenai kepala mereka. Jelas itu kematian instan. Pasukan yang berada di lantai 2 pun tersapu habis. Tidak ada yang dibiarkan hidup oleh Hisao. Bahkan Hisao sengaja berkeliling memeriksa mayat-mayat mereka untuk memastikan benar-benar tidak ada yang hidup. Jika dia menemukan ada nadi yang masih berdenyut maka dia segera menggencet kepala prajurit itu.
Hisao kemudian mengambil salah satu shotgun yang tergeletak di lantai dan beberapa flash bang dari mayat prajurit musuh. Hisao pun menuruni tangga agarxsampai ke lantai satu. Hisao melepas semua pin flash bang ysng ia bawa ke lantai satu sebelum turun. Ledakan yang menyilaukan mata pun terjadi. Sisa prajurit yang ada dilantai satu pun terbutakan karena ledakan cahaya itu.
Melihat kondisi semua musuh yang buta. Dengan santainya Hisao menembak satu demi satu prajurit musuh menggunakan shotgun. Hisao sempat membunuh 6 musuh disaat mereka masih terkena efek flash bang. Tapi efek flash bang tidak akan selamanya. Mereka yang sudah mulai bisa menggunakan mata mereka berusaha mengarahkan senapan mereka ke arah Hisao. Hisao mendekati salah satu prajurit yang masih terkena efek flash bang kemudian merebut senjatanya yaitu Scar-L dengan pistol P99. Hisao segera menembak semua prajuritvysng tersisa hingga akhirnya semuanya mati. Ada sesuatu yang menuruni tangga. Hisao segera menodongkan senapannya ke arah orang yang turun dari tangga tersebut. Tapi Hisao tidak bisa menarik pelatuknya. Ya yang sedang Hisao todong adalah Kenji.
__ADS_1
"Bahkan aku tidak bisa menarik pelatuk senapan ini ketika aku menodongkannya kepadamu. Menyebalkan." Hisao begitu jengkel dengan apa yang telah menimpanya. Tapi Kenji tidak menghiraukannya sedikitpun. Aku yang turun bersamaan dengan Kenji masih sedikit takut untuk mendekati Hisao jadi aku mengacuhkannya juga.
"Kita tinggalkan tempat ini selagi bisa. Tempat ini akan segera di temukan oleh para pahlawan dan prajurit kerajaan Tandum." Jelas Kenji melihat situasi diluar melalui jendela.
"Kemana kita akan pergi?" Tanyaku kebingungan.
"Ke tempat dimana orang-orang berdoa." Kata Kenji mulai menutupi kepalanya dengan tudung dan menutupi tubuhku dengan mantel ungunya. Kami pun mulai berjalan menuju gereja milik Luke. Kenji kemudian menoleh ke arah Hisao yang masih saja diam ditempat.
"Jika kau disana terus kau akan ketinggalan." Kenji memperingati.
"Siapa juga yang mau ikut denganmu!" Balas Hisao dengan ketus. Benar-benar wanita yang dingin dan judes.
"Jika kau ingin dijadikan kelinci percobaan oleh kerajaan karena tangan dan kakimu itu maka pergilah. Tapi jika kau ingin peluang balas dendam kepada pembunuh orang tuamu maka ikutlah denganku." Kata Kenji berjalan menjauh. Hisao masih ditempat. Kurasa jika aku jadi Hisao maka aku akan melakukan hal yang sama.
Kami pun menyusuri jalanan di malam hari. Jalanan begitu sepi dan gelap. Kami hanya ditemani cahaya lampu jalan yang redup. Aku menoleh kebelakang Hisao sudah tidak ada. Mungkin dia pergi dengan jalannya sendiri.
"Kau benar-benar membebaskannya, Kenji?" Tanyaku kepada Kenji.
"Ya. Aku tidak butuh sekutu berkedok musuh lagi dalam hidupku." Jawab Kenji.
__ADS_1