
Percuma juga jika melawannya menggunakan Glock-18. Dia pasti dengan mudah bisa menanganinya. Jangankan Glock-18, Sniper anti tank saja bisa dia tangkis layaknya menepis kerikil. Kusarungkan kembali pistol ku.
Aku pun merubah penampilan ku ke bentuk Perseus. Menggunakan baju ketat hitam tanpa lengan dengan pola berwarna putih yang menghiasinya menggunakan sepatu boot abu-abu dengan garis berwarna merah, memakai sarung tangan hitam tanpa jari, dan menggunakan kain putih kusam yang menutupi separuh tubuhku.
"Ya, wujud itu....Wujud dari pahlawan Yunani yang memiliki akhir bahagia." Slave yang di depanku kemudian memasang kuda-kuda ala ahli tombak. Aku pun juga dengan secara memasang kuda-kuda juga.
Dengan cepat kami beradu tebasan tombak. Kami menebas kesana kemari bahkan sampai aspal jalan yang ada di sekitar kami terkelupas.
Bagaimana bisa job class Chariot bisa seimbang dengan roh legenda job class Assaulter dengan sangat mudah?!
Slave ini bahkan jauh lebih ahli dari Perseus dalam memainkan tombaknya. Siapa slave ini sebenarnya?! Karena tipe tombak ku berbilah melengkung jadi serangan yang ku berikan berupa tebasan bukan tusukan sedangkan tombak slave ini berbentuk kerucut seperti pena. Semua serangannya bisa dia luncurkan dengan cepat.
Aku mencoba bergerak lebih cepat. Aku melakukan gerakan seperti gasing sehingga menciptakan serangan tebasan horizontal bertubi-tubi. Slave itu masih bisa menangkis serangan beruntun milikku tapi aku bisa melihat dari ekspresinya kalau slave ini cukup kesulitan. Slave itu pun terpaksa mundur beberapa langkah. Aku berhenti berputar dan melompat sekitar 2 meter.
Selama di udara aku melakukan salto kemudian menukik untuk melakukan serangan tebasan vertikal. Slave itu lebih memilih untuk menghadapinya daripada menghindarinya. Aspal pijakan nya sampai hampir membentuk kawah.
"Kau sudah selesai?" Tanya slave itu dengan sombong.
Dengan sigap, tombak slave itu ia miringkan sehingga tebasan ku tombak ku mengarah ke samping slave itu dan menancap ke aspal. Dengan reflek, aku memilih untuk mundur. Aku pun bersalto 3 kali dan mendarat tepat disamping gladius dari slave itu yang ia lempar untuk mengenai mobilku.
"Kau tidak seharusnya meninggalkan tombakmu kepada musuhmu kecuali kau ingin memberikan kepada-nya." Dengan sangat lihai, Slave itu mencongkel tombak bilah lengkung ku sehingga terlempar ke udara. Slave itu menangkapnya. Mantap, sekarang dia memiliki tombak ku sekarang. Kenapa aku reflek meninggalkannya?!! Bodohnya aku?!!
Slave itu memutar kedua tombak yang ia pegang dan berpose kuda-kuda dengan pose pengguna 2 tombak.
__ADS_1
"Sekarang giliranku." Ujarnya dengan tersenyum bersemangat. Slave itu dengan cepat menerjang ke arahku. Ku tarik gladius itu dari tempatnya menancap lalu menangkis serangan-serangan dari slave itu.
Kali ini aku yang dibuat terpojok. Slave itu menggabungkan serangannya menjadi tusukan dan tebasan secara bergiliran. Serangan tebasan menggunakan tombak ku dan serangan tusukan menggunakan tombak miliknya. Kombinasi itu membuatku mendapat luka di bahu kananku berupa tusukan, paha kiriku terkena tebasan, dan leher kiriku terserempet tusukan tombak. Dengan melihat sedikit celah kugunakan gagang pedang ku untuk memblokir serangannya sehingga aku bisa mundur untuk menjaga jarak.
"Hmm, tombak yang bagus." Ujar Slave itu melirik ke arah tombak ku.
"Tapi kau cukup keras kepala juga ya, wanita pengguna wujud Perseus. Meskipun gerakanmu sangat amatir tapi kau sangat cepat dalam reflek dan menghindar." Ucap Slave itu memujiku.
"Terima kasih sudah memujiku." Ujarku. Luka yang slave itu berikan membuatku sulit untuk bergerak karena rasa perih dan nyeri yang dihasilkan.
Tiba-tiba terlintas bayangan di benakku berupa gambar karikatur kuno seorang prajurit Yunani yang menggunakan sebuah helm sehingga membuatnya tidak bisa dilihat oleh monster wanita berambut ular yang sedang ia hadapi. Apa ini? Ingatan tentang perjalanan hidup dari Perseus? Aku kemudian melihat ke arah mobil yang terbalik.
"Sepertinya sudah waktunya mengakhiri semua ini. Cawan Suci akan kuambil." Ujar Slave itu berjalan mendekatiku. Ku lempar pedang gladius yang kupegang tadi ke arah Slave itu.
Slave itu kemudian terhempas seolah terkena pukulan dari arah kirinya sehingga dia terjatuh. Dengan cepat Slave itu bangkit untuk berdiri kembali. Slave itu kemudian waspada ke arah kiri. Tapi dari belakang terasa ada orang yang menendangnya dari arah belakang sehingga membuatnya terjungkal. Wajahnya mencium aspal jalan dengan sangat jitu.
"Cih! Trik yang bagus." Ujar Slave itu mencoba berdiri lagi. Sebelum sempat berdiri sepenuhnya slave itu terhempas ke belakang seolah ada yang menendang wajahnya dengan sangat keras. Aku cukup terkesan bahwa slave itu cukup mudah di kelabuhi.
Slave itu kemudian bersalto kebelakang untuk mengurangi dampak hempasan nya. Tiba saat pukulan ke empat meluncur Slave itu mengayunkan tombak ku ke arah kanan. Bagaimana bisa dia tahu?!!
Pukulan tanganku berhasil tertahan menggunakan gagang tombaknya. Dengan sigap tombak satunya ia hunuskan ke arahku sehingga tepat menancap di perutku hingga tembus ke belakang. Penyamaran ku pun terlihat.
"Hanya dengan 3 pola serangan aku bisa tahu serangan yang akan kau luncurkan." ujar Slave itu mengusap darah yang ada di sudut bibirnya. Aku pun memuntahkan darah.
__ADS_1
"Santai saja. Aku menghindari titik vitalmu. Kau akan pingsan karena darah yang berkurang kemudian akan kubawa kau ke tempat pendeta itu." Ujarnya.
"Begitu ya. Kalau begitu aku ingin bertanya untuk terakhir kalinya. Jika boleh tahu siapa slave yang berada di depanku yang berhasil menangkapku ini? Setidaknya aku ingin bisa mengingat betapa hebatnya dia." Ucapku. Mulutku sudah penuh dengan darah.
"Ingat baik-baik namaku ini. Aku adalah anak dari Pahlawan Peleus dan Dewi laut Thetis, Pahlawan dalam perang Troya. Namaku adalah....!" Sebelum dia menyebut namanya Euphyllia memukul kepalanya dari belakang menggunakan bagian tumpul sabitnya sehingga membuatnya terpental menabrak aspal. Tombak bilah lengkung ku pun juga terlepas dari genggamannya. Kucabut tombak dari slave itu dari perutku.
"Astaga...!" Desah ku mencabut tombak itu dari perutku. Aku pun dengan segera berubah ke wujud Tsukuyomi untuk menyembuhkan lukaku. Karena cukup beruntung kami bertarung di malam hari sehingga kekuatan Tsukuyomi sebagai dewi bulan bisa lebih optimal. Lukaku pun sembuh.
"Terima kasih sudah paham kodeku tadi." Ujarku kepada Euphyllia.
"Takkan kubiarkan kau mati sebelum pertandingan kita selesai. Hanya itu alasan kenapa aku mau membantumu." Ujar Euphyllia membantuku berdiri.
"Akan kuterima penghinaan ini para gadis. Terutama kau, gadis cawan." Ujar Slave itu sambil berdiri.
"Akan kubiarkan kalian kali ini. Sudah lama aku tidak merasakan serangan sesakit ini di perang Troya. Sebutkan nama kalian sehingga aku bisa mengukirnya di dalam benakku dengan 2 nama yang berhasil membuatku terluka sehingga aku bisa memamerkannya ke Elysium." Ujar Slave itu.
"Emiya." Jawabku.
"Euphyllia." Jawab Euphyllia.
"Emiya dan Euphyllia. Sepertinya pertemuan ini sudah ditakdirkan. Wahai Dewa-Dewi Olympus! Berkatilah Pertarungan kami kali ini dan yang akan datang dengan Rahmat kalian!!!" Seru Slave yang kemudian bersiul memanggil Chariotnya. Kuda itu kemudian menghampiri pemiliknya.Slave itu kemudian bersalto ke belakang dan menaiki kereta perangnya.
"Jika kita ditakdirkan untuk beradu serangan maka aku akan menghadapi kalian dengan kekuatan penuhku." Slave itu kemudian memacu ketiga kudanya dan mulai melaju dengan sangat cepat meninggalkan kami.
__ADS_1