
Untuk mempersiapkan penghuni rumah kami makanan maka dari itu aku sekalian mengajak Jihan untuk ke sebuah market terdekat. Alasan kenapa aku tidak ke pasar adalah karena pasar sudah sepi dan ditutup pada pukul 09.00 pagi. Aku juga ingin sesekali mampir ke bagian market karena di permukaan dulu aku tidak pernah membeli di sana.
"Kak, untuk malam ini kita akan makan apa?" Tanya Jihan.
"Apa ya, Jihan maunya apa?" Sesekali aku menanyai Jihan. Aku ingin pendapatnya juga bisa berkontribusi di rumah sehingga Jihan bisa merasa diperhitungkan.
Itu cukup penting dalam menjaga keutuhan dan kepercayaan dalam sebuah kelompok maupun organisasi.
"Hmm,... " Jihan melihat ke sekelilingnya seolah sedang mencari contoh atau pendapat dari sekitarnya. Tak lama kemudian Jihan berjalan ke arah sebuah lemari pendingin di dekat meja kasir. Karena pintu lemari pendingin nya cukup tinggi dan menghadap ke atas Jihan jadi tidak bisa melihat isinya.
Aku pun menggendongnya sehingga bisa membuatnya melihat isinya dari atas. Karena kaca pintu pendingin nya tertutupi embun es, aku pun mencoba mengelapnya sehingga kami bisa melihat isinya.
"Oh, tempura." Gumamku setelah membaca lebel di dekat tembok lemari pendingin berisi tempura itu.
"Kau menginginkannya?" Tanyaku kepada Jihan. Jihan mengangguk.
"Paman Laser sempat menyuguhkanku tempura dan rasanya sangat enak. Setidaknya aku ingin mencobanya untuk dimakan di rumah." Jelas Jihan. Oh jadi dari situ dia menginginkannya.
Lumayan juga sih. Aku tidak perlu repot-repot untuk memasak. Jika dilihat dari bahannya sepertinya cukup langsung digoreng atau direbus. Aku pun mengambil nampan di dekat lemari pendingin dan penjepit makanan yang tergantung di rak untuk mengambil tempura nya.
Aku hanya membeli secukupnya untuk sekali makan ketika makan malam nanti di rumah. Aku juga harus menghemat nya. Jika aku bisa membuat tempura dari bahan yang kubeli di pasar maka itu akan lebih hemat. Untuk saat ini aku ingin mencoba membelinya dari market.
Harganya tidak terlalu mahal sih. Tapi sangat tidak disarankan untuk dibeli berulang kali. Aku membeli sekitar 1 kilo.
Kami pun sampai di rumah. Karena tidak ada jadwal yang terdengar dari alat komunikasi ku. Kemudian alat komunikasi ku berdering. Ya ampun baru saja sampai rumah. Mau tidak mau aku harus mengangkatnya. Aku juga melihat ke sekitar sepertinya Hisao maupun Kenji juga belum pulang ke rumah.
"Jihan bisakah kau letakkan tempura kita ke dalam kulkas? Setelah selesai kau boleh main dengan Chou." Pintaku kepada Jihan.
"Baiklah." Seru Jihan dengan senang. Tempura pun sudah diletakkan Jihan ke lemari kulkas. Jihan pun berlari ke halaman belakang dan membuka kandang Chou untuk mengajaknya bermain.
"Dengan Emiya di sini." Kataku setelah menekan tombol menerima panggilan.
"Emiya, ini Victor. bisakah kau datang ke bengkel ku? Kita ada tugas." pinta Victor dari alat komunikasi.
"Bukannya kami masih tahap pelatihan?" Tanyaku dengan keheranan.
__ADS_1
"Nona Theresa yang memintamu menjadi partnerku kali ini. Kata beliau ini juga bagian dari latihan untukmu." Jelas Victor. Dengan reflek aku melihat ke arah kantong uang yang tanpa kusadari sudah sedikit isinya.
"Jika ini misi maka aku akan dibayarkan?" Tanyaku langsung to the point.
"Itu diluar kebijakanku. Pokoknya ke bengkel saja dulu. Penjelasan misinya akan ku jelaskan di sana. Akan kukirimkan koordinat nya kepadamu." Victor pun menutup panggilan secara sepihak.
"Ya ampun.... Mau bagaimana lagi." Gumamku melihat ke sekitar rumah.
Dengan segera aku meninggalkan catatan di meja dan di pintu kulkas. Kuambil kedua pistol ku dan Trisula dari kamarku kemudian berangkat menuju bengkel yang Victor maksud.
Setelah sampai di titik yang diberikan oleh Victor aku bisa melihat bengkelnya yang sangat besar. Bahkan hampir sebesar katedral. Tapi pintu gerbangnya ditutup rapat seolah sudah tutup. Aku pun melihat jam dan waktu menunjukkan pukul 15.00 sore.
"Kenapa sangat sepi dan ditutup bengkelnya?" Gumamku.
Tiba-tiba pintu bengkel dibuka dengan sempit dari dalam dan aku cukup terkejut siapa yang membukakan pintu.
"Eh?! Hisao?!" Kataku dengan terkejut.
"Emiya?" Hisao sepertinya juga sama terkejutnya denganku. Hisao juga masih menggunakan pakaian yang sama seperti tadi pagi.
"Lebih baik kau cepat ke dalam. Mungkin Victor akan menjelaskan kepada kita setelah kita lengkap." Kata Hisao dengan cepat menilai situasi. Aku pun mengangguk dan segera masuk ke dalam bengkel.
Aku cukup terkejut melihat proyek yang dikerjakan di bengkel ini. Banyak sekali robot-robot perang yang masih setengah jadi dengan keanekaan bentuknya, mobil-mobil dan motor-motor modifikasi dengan senjata dan mesin-mesin yang mengerikan.
"Wow... " Ucapku dengan kagum.
"Kalian berdua menyukainya?" Tanya seorang pria paruh baya yang berotot kekar di ujung belakang bengkel.
"Victor?" Aku mencoba memastikan.
"Yup, ini aku. Masuklah ke ruang kantorku. Akan ku jelaskan apa misi kita dari bunda kita tercinta." Jelas Victor menyuruh kami masuk ke dalam kantornya.
"Baiklah. Setelah ini kita akan ke permukaan. Tepatnya ke daerah distrik Iblis Timur. Ada yang pernah ke sana?" Tanya Victor membuka peta hologram nya dan memperbesar kan petanya ke bagian distrik iblis timur.
"Tidak." Jawabku dengan singkat.
__ADS_1
"Aku pernah ke sana. ketika masih bersama pihak fraksi 13 pahlawan. Kenapa?" Tanya Hisao.
"Ada yang bisa menyetir disini?" Tanya Victor sekali lagi.
"Untuk sekedar bisa, tentu." Jawab Hisao.
Karena dulu aku pernah mengendarainya 200 tahun lalu jadi aku masih ingat setidaknya dasar-dasarnya.
"Aku bisa." Jawabku.
"Biasanya aku meminta ini kepada Laser dan Euphyllia tapi karena Laser sedang dalam misi lain maka kalian yang ditugaskan." Jelas Victor.
"Apa inti misinya Vic?" Tanya Hisao to the point.
"Di distrik Iblis Timur biasa diadakan balapan liar. Di karenakan kita kekurangan Material dan bahan, aku meminta kalian untuk.... " Sebelum Victor menyelesaikan kalimatnya aku memotongnya.
"...Mencuri mobil-mobil di sana." Lanjut ku. Victor kemudian terkekeh dengan perkataanku tadi.
"Pemimpin kita saja seorang biarawati. Mana mungkin beliau mengizinkan pencurian." Kata Victor dengan tertawa keras.
"Lalu?" Tanya Hisao.
"Kita ikuti permainan mereka saja. Kita menang balapan kita dapatkan mobil mereka. Kita kalah balapan mereka dapatkan mobil kita. Cukup mudah bukan?" Kata Victor merentangkan tangannya.
"Kau menyuruh kami untuk bertaruh mobil dalam balapan liar?!" Seruku dengan reflek.
"Pim-pom! 100 untuk anda, Emiya. Tapi santai saja. Tugas kalian hanya membawa mobil jarahan Euphyllia ke point yang ditentukan di map. Akan kukirimkan koordinatnya." Kata Victor menekan beberapa konsol di layar hologram nya.
"Memang berapa mobil biasanya dia bisa memenangkan balapan?" Tanya Hisao.
"Biasanya 4-5 mobil. Sekarang ganti pakaian kalian menjadi pakaian ala gadis kupu-kupu lalu bersiaplah ke permukaan." Kata Victor membukakan lemari otomatis yang berisikan pakaian seksi wanita.
"Astaga... " Kataku dengan reflek.
"Kalian harus terbiasa." Kata Victor.
__ADS_1