Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Kedamaian yang Sementara


__ADS_3

Keesokan harinya, ketika aku terbangun dari tidurku Kenji sudah tidak ada di kamar. Aku mencarinya hingga setiap penjuru kamar tapi aku tidak kunjung menemukannya. Aku pun berhenti di dekat meja dan duduk di kursi.


Kemudian di atas meja terdapat selembar kertas kecil. Di atas lipatannya tertulis "Untuk Emiya". Aku membuka lipatannya dan melihat isinya.


*Jika kau membuka kertas berarti aku sudah pergi. Tenang saja, aku hanya pergi sebentar. Aku cuma ingin mengambil barang-barang di gudang harta Tandum. Jika kau ingin keluar untuk jalan-jalan aku tidak melarangnya. Pihak Gereja selama ini mengawasi penginapan kita, mereka akan memastikan dirimu dan Jihan tetap aman. Tapi tetaplah waspada! Karena mereka memastikanmu tetap aman bukan dari hasil kepercayaan namun karena kontrakku dengan Luke.


Tatsumaki Kenji*.


"Kau seperti seorang bapak-bapak saja. Baik, baik. Aku akan berhati-hati." Ejekku kepadanya.


"Kau juga...." Gumamku sambil memeluk surat itu. Aku tidak menyangka kalau Kenji bisa seperhatian dan bisa seterbuka ini ketika menulis. Padahal ketika berbicara langsung dengannya seperti berbicara dengan orang yang minim kosakata. Orang yang lucu.


Aku pun kembali ke ranjang untuk membangunkan Jihan. Tapi aneh. Baru pertama kalinya aku melihat Jihan tidur seperti orang gelisah. Matanya berkedut, dari raut wajah seperti orang yang ketakutan. Aku tidak tega melihatnya tidur seperti itu, akhirnya aku membangunkannya secara perlahan.


"Jihan, bangun. Sudah pagi." ucapku pelan. Tapi reaksi Jihan seperti baru bertemu hantu. Wajahnya pucat, keringat dingin terlihat begitu jelas di leher dan pipinya, napasnya sangat buas seperti seseorang selesai melakukan lari Marathon. Dia langsung reflek memelukku dengan sangat erat. Aku pun mencoba untuk tidak breaksi secara berlebihan.


"Hei, habis mimpi buruk?" Tanyaku dengan lembut. Jihan kemudian meneteskan air matanya. Jihan mengangguk tidak kuat untuk membuka mulutnya. Aku pun memeluk Jihan juga untuk menenangkannya. Aku mencoba untuk menahannya sampai Jihan mau melepaskan pelukannya. Tapi pelukannya lama juga, 30 menit coba. Tapi itu tidak masalah.


Setelah itu Jihan baru mulai berbicara.


"Aku rindu... Ayah kandungku, aku rindu ibuku...." Ucapnya terbata-bata.


Tentu saja aku lupa hal yang sangat penting bagi Jihan. Orang tuanya. Jihan ikut bersama dengan kami karena situasi yang tidak bisa dihindari, mau bagaimana pun alasannya jika dia masih punya keluarga maka kami harus segera mengembalikannya kepada orangtuanya. Tapi dalam situasi dan kondisi seperti ini mungkin akan sangat sulit.


"Tenanglah. Kami akan membawamu ke tempat ayah dan ibumu. Jadi berhentilah menangis." Kataku mengelus kepalanya dengan lembut. Jihan tidak menjawab atau merespon. Tapi perlahan Jihan mulai melepaskan pelukannya meskipun sangat enggan dia lakukan. Aku langsung mengusap air matanya yang masih berlinang.

__ADS_1


"Cuci wajahmu dan bersiaplah. Kita akan keluar." Kataku dengan tersenyum.


"Kemana?" Tanya Jihan dengan suara serak.


"Jalan-jalan." Kataku.


Akhirnya kami mandi bersama dan bersiap-siap untuk keluar. Meskipun masih berumur 10 tahun, Jihan termasuk anak yang mandiri. Dia bahkan memasang pakaian yang cara memakainya sama seperti mencari jarum di tumpukan jerami dengan sangat mudah. Ketika aku selesai memakai pakaianku, aku lupa akan sesuatu. Selendang bulu yang di berikan oleh Kenji.


Aku heran saja. Kenapa aku malah mengkhawatirkan selendang ini ketika aku tidak memakainya ya? Aku memakainya dengan cara pertama kali aku memakainya. Mengikat simpul selendang tersebut di bawah ketiak kananku. Ketika aku bercermin aku bahkan terkejut. Ternyata sangat cocok dan cantik. Kau lebih membutuhkannya daripada aku. Aku jadi teringat kata-kata Kenji ketika aku menerima selendang bulu ini.


"Apakah ini maksud perkataanku itu?" gumamku di depan cermin.


"Kakak sudah selesai?" Tanya Jihan dari balik pintu. Aku pun segera menyusulnya.


"Iya. Tunggu sebentar." Jawabku. Kami pun mengunci pintu dengan kunci cadangan yang Kenji tinggal di atas meja tadi. Kami pun turun ke lantai satu. Semua orang melihatku seolah aku ini adalah sesuatu yang baru bagi mereka.


"Jadi kemana kita akan pergi?" Tanya Jihan dengan ceria. Biasanya aku yang menanyakan itu pada Kenji tapi tak kusangka aku yang akan ditanyai hal itu kepada Jihan. Karena dari sakuku masih ada uang yang biasa Tuan Franko berikan ketika aku ke pasar jadi kami bisa membeli sesuatu.


Kami membeli sarapan di kedai terdekat, lalu kami lanjutkan pergi ke mall dan taman bermain. Sebenarnya aku ingin mengajak Jihan ke tempat tuan Franko tapi karena kami sudah terlibat kontrak dengan organisasi pihak Gereja maka aku mengurungkan niatku. Aku tidak ingin mereka menyentuh atau bahkan mengganggu Tuan Franko yang sudah hidup dalam damai. Jadi aku kami hanya bisa melewati rumahnya.


"Ini rumah siapa?" Tanya Jihan dengan polosnya.


"Rumah orang tua yang sudah menjagaku selama 2 bulan. Yang mengajariku tentang apa itu arti hidup, rumah Tuan Franko." Jawabku dengan tersenyum. Jihan memperhatikan struktur rumahnya.


"Kenapa kakak tidak menemuinya?" Tanya Jihan lagi.

__ADS_1


"Aku tidak ingin merepotkannya lagi." Lengang sekitar 6 detik.


"Tempat ini akan membuatku ingin kembali. Ayo kita ke taman." Jihan mengangguk dengan ceria. Kami melewati sebuah gereja yang selalu membuatku gelisah. Gereja tempat Luke. Dan yang paling tidak beruntungnya, Luke juga saat itu sepertinya ingin keluar.


Wajah kami bertemu. Dengan reflek wajahku memasang wajah tidak nyaman dan curiga. Tapi Luke malah tersenyum kepadaku.


"Bapa Luke?" sapa Jihan secara tiba-tiba. Bagus sekali Jihan.


"Wah, Nona Emiya, sebuah kebetulan bertemu denganmu di sini. Dan siapa nama gadis imut ini?" Tanya Luke mencoba mengajak Jihan bersalaman. Tapi aku langsung menarik Jihan dan menyembunyikannya di dalam selendangku.


"Namanya Jihan." Jawabku singkat. Bukannya merasa tersinggung, Luke malah tersenyum kepadaku.


Aku pun terpaksa menemani Luke yang ternyata juga ingin ke taman bunga beberapa blok dari gereja. Pasukan Pihak Gereja semakin banyak, hawa keberadaan mereka sangat pekat. Aku membiarkan Jihan bermain dengan bumerangnya di sekitar taman bunga tersebut sementara aku duduk bersebelahan dengan Luke tanpa berbicara sedikitpun. Meskipun aku tidak menyukainya, tapi tidak obrolan seperti jelas membuatku tidak nyaman.


"Kamu tampak tidak suka jika kita bertemu. Apakah aku ini mengganggumu?" tanya Luke.


Kenapa topiknya jadi berat seperti ini?!


"Mau sampai kapan kau akan memanfaatkan Kenji?" Sergahku tanpa basa-basi.


"Sampai tujuanku tercapai. Dan sesuai dengan kontrak dengannya aku tidak akan menyentuh kalian. Jadi tenang saja." Jelasnya. ada seekor burung merpati berwarna putih hingga di tangan Luke. Ternyata itu adalah burung pengantar pesan. Luke kemudian membuka isi kertasnya lalu membacanya.


"Jadi begitu. Kenji berhasil membunuh target bernama Raizen Brook. Dengan begini Fraksi 13 Pahlawan akan diam untuk sementara waktu karena pabrik senjata mereka berhenti untuk sementara waktu." Luke kemudian meremas kertas tersebut dan membakarnya. Jadi dia berbohong kepadaku di surat itu? Kenapa kau sampai seperti itu agar untuk tidak melibatkan kami?!


"Kenapa kalian Pihak Gereja ingin sekali menggulingkan kerajaan?" Tanyaku secara blak-blakan setelah mendengar apa yang di bacakan Luke tadi. Luke kemudian menyondorkan kertas kepadaku.

__ADS_1


"Jawabannya dan bayaran untuk Kenji ada di dalam kertas ini." Jawab Luke.


__ADS_2