Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Kenji Menambah Teman Petualangnya


__ADS_3

"Baiklah putri tidur, bangun. Sudah pagi." Kata Kenji.


Hisao pun akhirnya sadar sepenuhnya. Aku tidak menyangka kalau aku harus menelanjanginya atas permintaan Kenji. Hisao begitu terkejut melihat tubuhnya yang terikat oleh tentakel berlendir dan menjijikkan disekujur tubuh telanjangnya.


Kenji kemudian melepaskan tentakel yang membekap mulut Hisao.


"Dengan begini kau bisa berbicara. Kau hanya perlu bicara apabila aku bertanya. Cukup mudah kan?" Kata Kenji masih santai. Tapi entah kenapa hawa intimidasi ya begitu terasa di atmosfer.


"Jika kau adalah anggota fraksi 13 Pahlawan, Apa yang jadi tujuan utama kalian sampai memonopoli kerajaan Tandum dan menyuruh para Uskup untuk memanggil kami para pahlawan dari dunia lain?" Pertanyaan pertama saja sudah sangat telak. Hisao hanya melirik tajam ke arah Kenji.


"Perseta-.." Belum selesai Hisao berbicara, Kenji sudah menamparnya dengan keras menggunakan gagang revolvernya dan meninggalkan luka lecet ringan di pipinya.


Aku bahkan sempat kaget dan menutup mulutku ketika Kenji tiba-tiba menamparnya.


"Jawab pertanyaanku. Apakah masih kurang jelas?" Ancam Kenji. Hisao yang sempat terkejut langsung meludahkan darah dari mulutnya ke wajah Kenji. Seketika itu aku menjadi sangat marah dan mengambil pistolku untuk segera menembak kepalanya. Tapi dengan cepat Kenji menahanku.


"Laki-laki ini pantas menerimanya." Bentak Hisao ke arahku.


"Maka nyawamu bayarannya!" Bentakku kembali menodongkan pistolku ke arah kepala Hisao. Tapi dengan sabar Kenji mengunci pistolku dan dengan perlahan mengeluarkan magazine-nya. Kenji memberikan pistolku kembali kepadaku.


"Tenanglah. Aku baik-baik saja." Kata Kenji mencoba menenangkanku.


"Wah wah romantis sekali kalian..." Kata Hisao ditengah-tengah momen yang bagus itu. Kenji langsung melemparkan pisau lontarnya. Aku segera membalikkan pandanganku. Hening beberapa detik.


Aku pun mencoba perlahan melihat apa yang barusan terjadi. Ternyata Kenji hanya mengenai dinding di bagian kiri kepala Hisao. Seketika Hisao ciut kembali.


"Aku bisa saja mengenai kepalamu tadi. Maka kau tidak perlu repot-repot untuk menjawab pertanyaanku." Kata Kenji dengan nada mengintimidasi.

__ADS_1


Situasi mulai menegang. Kenji mulai menikmati situasi ini. Bahkan aku tidak berani untuk menyentuhnya ataupun menenangkannya. Kenji kembali jongkok di depan Hisao. Kenji memutar-mutar dan memainkan pisau lontarnya.


"Bisakah kau jawab pertanyaanku tadi." Tanya Kenji penuh arti, arti intimidasi.


"Aku tidak akan menjawab perta-"Bahkan Hisao belum selesai berbicara, tentakel yang ada didekat mulut Hisao menyumpal mulutnya.


Hisao menjerit tapi tidak mengeluarkan suara, matanya berair berlinangan air mata karena merasa sakit yang amat pedih.


Bagaimana tidak?! Sendi peluru dilengan kiri Hisao ditusuk oleh Kenji dengan sangat kasar. Darah bercucuran membasahi lantai. Wajah Kenji juga sempat terkena cipratan darah Hisao. Kenji mengeluarkan pisau lontarnya yang lain.


"Hisao, jawab pertanyaanku." Kata Kenji sekali lagi. Hisao sudah berhenti kesakitan tapi masih sulit mengatur napasnya.


"LAKUKAN SESUKAMU!!!" Bentak Hisao. Aku masih tidak mengerti. Kenapa wanita ini begitu tidak ingin untuk buka mulut dan mengatakan semuanya?


Kenji menusuk tempurung siku di tangan kirinya hingga tembus. Hisao makin tidak karuan lagi. Hisao meronta-ronta kesakitan dengan pipinya dibasahi air mata. Tentakel kembali menyumpal mulutnya sehingga suara jeritannya tidak keluar.


Penyiksaan makin lama main membuatku tida tega melihatnya. Tapi aku tidak berhak menghentikan Kenji. Karena apapun keputusan yang dia ambil maka aku harus kuat menerimanya. Suka tidak suka. Sendi peluru di kedua tangan Hisao sudah hancur. Dua tempurung siku tangan Hisao juga sudah hancur. Tapi Hisao masih tidak ingin buka mulut.


Apa yang membuatnya sampai seperti itu? Apakah karena tekanan dan peraturan dari fraksi 13 pahlawan? Itu mungkin saja.


"Kau masih belum ingin menjawab, Hisao?" Tanya Kenji dengan wajah psikopatnya yang dihiasi darah Hisao.


"Kau bunuh saja aku. Aku tidak akan mengatakan apapun.....tidak akan....." Hisao mulai kehilangan kesadarannya karena kehabisan banyak darah. Kenji kemudian mengeluarkan beberapa pil yang terbuat dari potongan daun. Kenji memasukkan pil itu ke dalam mulut Hisao menggunakan tentakelnya.


Aku melihat dari leher Hisao, tentakel itu mendorongnya hingga ke leher. Hisao seketika terbangun dengan terbatuk-batuk.


"Kalau begitu kuubah pertanyaanku. Bagaimana caranya agar kau mau buka mulut?" Tanya Kenji. Hisao tidak langsung menjawabnya. Hening beberapa detik.

__ADS_1


"Sekitar 10 tahun lalu. Ketika itu umurku sekitar 7 tahun. Kejadian itu tidak akan kulupakan dan tidak akan kumaafkan. Keluargaku termasuk dalam organisasi pihak gereja. Ayahku yang mengikuti pihak gereja terpilih untuk dijadikan tumbal dalam suatu ritual oleh pendeta yang berprestasi yang masih muda. Ibuku yang mengetahui suaminya yang ditumbal mencoba membunuh pendeta muda itu. Tapi karena pendeta muda itu sangat berbakat dan tidak kenal ampun. Dengan cepat membunuh ibuku menggunakan 3 black key-nya. Aku yang melihat langsung melalui jendela berlari tanpa arah. Aku begitu ketakutan. Aku tidak melihat kebelakang sedikitpun karena takut bakal ada seseorang yang mengejarku. 3 hari kemudian aku tidur dijalanan. Aku takut mereka akan menemukanku dirumah. Aku terus berjalan ke penjuru kota untuk meminta tolong tapi tidak ada yang mendengarkanku."


"Hingga robot militer mendatangiku. Aku awalnya ketakutan. Tapi Cyborg memperlakukanku dengan baik. Dia bahkan memungutku, melatihku, dan mengajarkanku cara untuk bertahan hidup. Bahkan dia juga yang mempromosikanku menjadi anggota fraksi 13 Pahlawan. Maka dari itu aku akan memanfaatkan posisi itu mencari pendeta itu dan membunuhnya." Jelas Hisao.


Sekarang aku paham kenapa wanita ini tetap diam meskipun disiksa sekalipun. Dia begitu menyayangi orang yang memungutnya itu. Entah benar atau salah, wanita ini akan tetap membelanya. Sama sepertiku yang membela Kenji.


"Begitu ya. Dengan begini, Kau pasti ada peluang." Kata Kenji. Aku pun terkejut dengan apa yang terjadi kepada Hisao.


Hisao yang kebingungan melihat ke kedua tangannya. Tangannya yang rusak tadi berubah menjadi tangan monster. Seketika itu Hisao menjerit. Dia begitu ketakutan melihat tangannya sendiri.


"Apa yang kau lakukan kepada tanganku?!!" Hisao begitu ketakutan. Aku yang melihatnya pun sampai menutup mulutku menggunakan telapak tanganku.


"Kau butuh tangan yang lebih kuat untuk membunuh pendeta itu. Maka aku memberimu sedikit hadiah kepadamu karena berhasil bertahan dari siksaanku." Kata Kenji. Kenji kemudian melepaskan jeratan tentakelnya yang meliliti Hisao.


Hisao dengan cepat menyerang Kenji tepat setelah lilitan tentakel yang meliliti tubuhnya lepas. Aku segera mengambil Trisulaku untuk menghadangnya. Tapi anehnya, kenapa Hisao berhenti ketika ujung cakarnya berjarak 2 cm dari leher Kenji.


"Kenapa. Kenapa ini? Tubuhku berhenti bergerak. Apa yang kau lakukan kepada tubuhku?!" Hisao mencoba memaksakan gerakannya tapi tubuhnya begitu sulit sekali untuk digerakkan. Aku pun juga bingung.


"Tidak ada. Aku hanya menanamkan parasit ke hati dan juga otakmu. Dengan begini aku bisa mengontrolmu dengan mudah. Oh iya." Kata Kenji dan sempat ingat sesuatu.


Hisao kemudian menargetkan dan mencoba menyerangku. Tapi sebelum sampai tubuh Hisao langsung terjatuh ke tanah seperti lumpuh tiba-tiba.


"Aku baru saja ingin mengatakannya. Jika kau mencoba menyakiti dan menyentuh Emiya tanpa seizinku maka dampaknya lebih parah." Jelas Kenji. Hisao hanya bisa memukul-mukul lantai seolah baru saj mendapat kegagalan.


Entah karena berisik atau apa. Pasukan Kerajaan sepertinya memasuki gedung kami. Aku, Kenji, dan Hisao merasakannya.


"Nah waktu yang tepat. Tunjukkan kalau kau adalah peliharaan yang berguna, Hisao." Kata Kenji bersedekap walaupun dengan satu tangan.

__ADS_1


__ADS_2