Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Misi Pertamaku : Bagian II


__ADS_3

Victor mengizinkan kami untuk pulang terlebih dahulu untuk menyelesaikan segala kebutuhan pokok kami seperti makan, mandi, membersihkan diri, dan lain-lain. Kata Victor diusahakan juga untuk tidur walaupun hanya setengah jam karena ada kemungkinan misi berjangka panjang. Pada pukul 21.00 kami diwajibkan untuk berkumpul di bengkel Victor lagi.


Saat ini pukul adalah pukul 18.00 sore. Sudah waktunya makan malam. Kenji juga sudah pulang dari kegiatan yang ada di jadwalnya hari ini. Jihan setelah selesai bermain pakaiannya menjadi sangat kotor dan ketika ingin masuk ke dalam rumah.


"Pastikan kakimu untuk bersih, ok? Setelah itu cepatlah untuk mandi. Makan malam sebentar lagi tiba." Ucapku memperingati Jihan.


"Baik." Ucap Jihan mencuci kakinya dengan sembarangan dengan menggunakan keran di belakang rumah.


Jihan pun berlari ke dalam rumah dan menaiki tangga untuk mandi. Aku melihat ke lantai. Aku melihat sedikit bercak tanah dan lumpur membentuk kaki di lantai. Ku hela napasku dengan berat lalu mengambil pel untuk membersihkannya.


"Darimana kalian tadi sore? Sampai meninggalkan catatan." Tanya Kenji yang sepertinya sedang melakukan perawatan kepada pistol revolver-nya. Aku bisa melihat bagian serpihan susunannya di atas meja ruang keluarga.


"Panggilan tugas." Jawabku dengan singkat. Jika aku menjawabnya dengan rinci kemungkinan Kenji akan melarang ku dikarenakan terlalu berbahaya. Saat ini kita sangat butuh uang. Karena itu aku tidak ingin Kenji menghentikanku.


"Apakah misi kalian nanti akan mengamankan mobil jarahan dari permukaan?" Tanya Kenji yang dengan jitu tebakan nya benar.Dengan begini tak ada gunanya berbohong untuk menanggapinya.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanyaku dengan heran.


"Karena sebelum kalian ke bengkel Victor aku sudah berada di sana untuk membantu Victor sesuai janjiku. Projek purwarupa untuk tangan kiriku juga sudah mulai kukerjakan. Di tengah-tengah itu Victor meminta izin kepadaku untuk meminjam kalian berdua untuk melakukan misi." Jelas Kenji. Oh dari situ dia bisa tahu. Victor sendiri yang melibatkan Kenji dalam perizinan dalam menggunakan kami.


"Lalu? Kau mengizinkan kami?" Tanyaku sambil memperhatikan masakanku yaitu menggoreng tempura.


"Terserah kalian selama kalian bisa menjaga diri. Jika kalian ingin mundur aku bisa menggantikan kalian berdua untuk misi itu." Ujar Kenji menyusun kembali revolver-nya sehingga bentuknya menjadi utuh kembali. Sudah cukup untuk terlalu bergantung kepada orang lain. Aku juga ingin melakukan hal baru yang sudah lama kutinggalkan selama 200 tahun lalu. Tak akan kubiarkan kesenangan dan calon pengalaman ini diambil oleh Kenji. Lagipula dalam misi ini Euphyllia juga terlibat.

__ADS_1


Jika aku tidak nampak terlibat di misi ini, maka aku akan kehilangan kesempatan untuk menggali informasi masa lalunya yang membuatnya sangat membenciku. Harga diriku sebagai ratu juga akan menurun. Aku tidak ingin itu terjadi.


"Akan kuambil misi ini. Lagipula aku tidak sendirian." Kataku dengan mantap.


"Begitu ya. Semoga beruntung." Ujar Kenji. Bahkan cara kami berinteraksi kembali sama ketika kami pertama kali bertemu. Kenji kembali berbicara tanpa memandangku sedikitpun. Apakah dia marah karena aku selama ini membohonginya?


Pukul 18.30 pun tiba. Kami makan malam tanpa banyak bicara. Hisao mengambil inisiatif untuk mencuci piring dan peralatan makan yang lain. Itu supaya bisa membersihkan diri. Sangat terlihat jelas ketika dia memberi isyarat dan menggeserku dari wastafel tempat cuci piring. Aku tidak menyangka kalau Hisao akan sepeka itu.


Ku manfaatkan kesempatan itu untuk mandi. Aku juga memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk tidur sehingga tidak mengantuk disaat misi.


"Emiya, bangun. Bersiaplah." Hisao membangunkan ku pada pukul 20.30 untuk bersiap-siap dalam misi. Kami pun kembali datang ke bengkel Victor pada tepat pukul 21.00. Kami juga tidak lupa membawa senjata kami.


Ku gedor pintu bengkelnya supaya pintunya dibuka. Tak lama kemudian wajah Victor muncul setelah pintu bengkel terbuka selebar satu jengkal. Kami pun juga segera masuk ke dalam.


Cukup lama kami untuk mengganti pakaian kami. Perlu sekitar 15 menit. Ku gerai rambutku tanpa, aku mengenakan tank top berwarna putih dan mengenakan kalung berwarna emas, mengenakan hot pants berwarna hitam, mengenakan sepatu boot cokelat muda. Sedangkan Hisao blouse tipe shoulder-off berwarna pink dengan rok micro berwarna putih diikat dengan sabuk berwarna hitam, dan mengenakan sepatu tipe wedge. Aku dan Hisao berjaga-jaga membawa pistol yang kami letakkan di belakang kami. Aku membawa glock 18 sedangkan Hisao membawa revolver magnum.


"Kau pikir penyamaran ini akan berhasil? Bagaimana penampilan ku?" Tanyaku penasaran setelah keluar dari ruang ganti. Hisao melihatku dengan menaikkan salah satu alisnya dan sambil berkacak pinggang.


"Hanya sedikit terbuka dari yang biasanya." Jawab Hisao dibarengi dengan anggukan. Dan tanpa kusadari aku menunjukkan wajah kecut ku.


"Siapa juga yang bakal peduli. Saatnya ke permukaan." Kata Victor menepuk tangannya untuk fokus.


Disaat kami berjalan banyak laki-laki yang melihat kami dengan wajah berbinar dan seperti orang bodoh. Yah wajar masih banyak orang yang berlalu hilir karena masih jam 21.00 malam. Tapi Aku dan Hisao berusaha untuk menghiraukan mereka meskipun sedikit risih saat dilihati seperti ini. Kami pun sampai di sebuah gedung yang jika dilihat mirip seperti tempat. parkir.

__ADS_1


"Dari sini aku hanya akan mengantar kalian ke tempat Euphyllia balapan. Setelah Euphyllia berhasil mendapatkan beberapa mobil dia akan memberikan kunci mobilnya kepada kalian. Disaat itu kalian akan mengantarkan mobil-mobil itu ke tempat titik point yang sudah di tentukan. Setidaknya pelajari dan amati cara Euphyllia menyetir ketika balapan nanti. Siapa tahu kalian akan terinspirasi dan terilhami." Jelas Victor membuka pintu dari garasi itu. Isinya adalah mobil-mobil yang sangat mewah dan mahal. Beragam warna dan jenis ada semuanya di tempat itu.


Mulai dari mobil sport, mobil sport semi-militer, sampai ke kendaraan-kendaraan yang bentuknya sudah bukan kendaraan lagi karena saking banyaknya atribut-atribut senjata yang dipasang.


Kami pun berhenti di mobil yang cukup mewah dan mahal. Bahkan Hisao sampai bersiul melihat body dari mobil tersebut.


"Oh astaga, Underground benar-benar tidak main-main ataupun setengah-setengah dalam memfasilitasi para anggotanya dalam bermain." Ujar Hisao.


"Itu karena aku akan memberikan tumpangan kepada 2 gadis cantik dari Underground ke sebuah tempat orang-orang liar yang menyia-nyiakan hidup mereka. Karena itu aku harus memberikan kalian tumpangan VIP." Jujur saja aku bahkan sampai tidak paham. Karena aku tidak tahu standar bagusnya sebuah mobil karena 200 tahun lalu bentuk-bentuknya tidak seperti ini.


"Apa nama mobil ini? Dalam pemasaran setidaknya memiliki seri dan nama sebagai pembeda dengan mobil-mobil yang lain." Tanyaku.


"Di dunia orang tuaku, mereka menyebutnya Bugatti Divo. Mobil ini dikatakan terbaik karena desainnya panjang dan lebih aerodinamis. Hal ini karena pengaruh downforce yang dimaksimalkan dengan baik.


Saat melesat keluar tikungan bisa cepat dan cengkeraman ban lebih baik saat menyentuh aspal. Namanya sendiri diambil dari pembalap Perancis yakni Albert Divo yang pernah memenangkan balapan Targa Florio sebanyak dua kali pada 1920an. Bugatti Divo memiliki kemampuan yang lincah dan dinamis. Kecepatan maksimal yang bisa ditempuh mobil ini adalah 236 mph." Jelas Victor. Hening beberapa detik setelah Victor menjelaskan seolah penjelasannya tidak meninggalkan kesan.


"Yah percuma mobil bagus tapi selain kursi kemudi, kursi penumpangnya hanya satu." Ujarku memecah keheningan.


"Oh iya, benar juga kita kan bertiga ya?!!" Kata Victor.


"Oh astaga Emiya! Demi Tuhan. Jangan merusak suasananya. Aku bisa memangku mu. Masalah selesai kan?" Sergah Hisao.


HAAAAHHH??!!!!!!!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2