Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Underground 2 Setengah Tahun Lalu (Bagian III)


__ADS_3

Si wanita berkulit sawo matang itu menyerang kami terlebih dahulu menggunakan pedang yang ia letakkan tadi di punggungnya.


Tapi dengan mudah Tsukuyomi menepis nya menggunakan pedang besarnya. Tepat setelah 2 bilah mereka beradu tiba-tiba Tsukuyomi merasakan lemas. Bahkan Tsukuyomi sampai dibuat berlutut.


"Kenapa?!" Tanyaku dari alam bawah sadar.


"Pedang wanita ini...... dapat menyerap manna lawannya." Kata Tsukuyomi berjuang untuk berdiri tapi semakin lama pedang mereka beradu kekuatan Tsukuyomi malah berkurang. Dengan mengambil tindakan cerdas, Tsukuyomi menggunakan selendang bulu yang tersampir di bahunya untuk di jadikan tali untuk mengikat wanita berkulit sawo matang itu dan berhasil mengikat pergelangan kakinya.


Dengan tenaga yang tersisa, Tsukuyomi melempar wanita itu ke dinding kanan kami menggunakan selendang buluku. Belum sempat mengambil napas si pria machete itu mencoba menebas kami menjadi 2. Aku pun mengganti Tsukuyomi menjadi Perseus sehingga gerakan kami bisa menjadi lebih cepat untuk menghindar.


Pria machete itu mencoba menyerang kami dengan tebasan nya yang bringas tapi cukup beruntung kami bisa menghindarinya. Yang terluka hanyalah temboknya saja yang penuh dengan bekas tebasan machete sepanjang 7 meter. Perseus pun beradu dengan pria machete itu. Kecepatan mereka dalam menyerang, menangkis, dan menghindar sangat sama.


Tapi lama kelamaan kami mulai terpojok. Karena pria machete itu melihat celah dengan cepat menggunakan gerakan tipuan yang mungkin hanya bisa dilakukan oleh pejuang terlatih. Tombak bilah lengkung ku di buatnya terlepas dari genggamanku dan terlempar ke atas menancap di atas langit-langit.


Pria machete itu dengan segera menodongkan ujung machete nya ke arah leherku. Tamat sudah riwayatku. Wanita berkulit matang itu juga berjalan ke arah kemari. Sepertinya mereka berdua ingin menghabisiku bersama-sama dan yang kubisa kulakukan hanyalah menatap ke arah Kenji yang mungkin itu terakhir kalinya mata kami bertemu.


Kenji juga secara kebetulan menatapku meskipun dia juga masih fokus memperkokoh tamengnya. Dunia serasa melambat seolah waktu menjadi tidak berarti. Tapi Kenji kemudian melihat ke arah atasku dan memberi aba-aba kepada bagian atasku dengan anggukan. Tiba-tiba sesuatu di atasku meluncur dengan cepat menabrak wanita berkulit sawo matang itu menjauh. Kejadian itu terjadi begitu cepat dan aku mendapat ide yang bagus.


"Hisao?" Yap, Hisao lah yang melakukannya. Jihan juga baik-baik saja yang posisinya digendong di belakangnya.


"Kau bisa berterimakasih nanti." Kata Hisao. Pria machete itu pun menoleh ke belakang untuk melihat kondisi rekannya. Bagus dia teralihkan. Ku tarik sesuatu yang ada di pinggangnya lalu menendang pria itu menjauh.


"Sialan kau wanita....!" Dan bum! Bunyi flash bang yang tadi ku tarik pin nya meledak tepat ketika flash bang itu jatuh di lantai. Pria itu seketika buta dan terjatuh ke lantai. Aku bisa mendapat ide seperti itu karena terkadang aku melihat Kenji membuat benda itu dan cara kerjanya ketika Kenji bertarung menggunakannya.


Kebetulan sekali tombak bilah lengkung ku juga terjatuh dari langit-langit. Kutangkap tombak itu lalu ku todongkan ke arah lehernya.


Pria itu yang sudah sembuh dari buta akibat flash bang tadi sangat terkejut melihat kalau bilah lengkung dari tombak ku sudah menempel di lehernya.

__ADS_1


Di saat aku ingin membunuhnya tiba-tiba terdengar suara teriakan. Teriakan Hisao.


"Jangan dibunuh!" Karena tombak sudah ku angkat aku pun menggunakan ujung bagian yang tidak ada bilahnya untuk memukul perut pria itu dengan sangat keras sehingga membuatnya tidak sadarkan diri.


"Kenapa woi?! Beruntung teriakanmu sempat membuatku mengubah pola tombakku! Apa masalahnya?!" Tanyaku dengan mengomel. Hisao berjalan ke arahku sambil menyeret wanita berkulit sawo matang itu dengan keadaannya yang juga sama-sama tidak sadar.


"Masalahnya ada padamu.... ratu!" Kata Hisao menjitak kepalaku. Tapi jarinya tidak bisa sampai ke arah dahiku karena dari awal tubuhnya dimodifikasi oleh Kenji, Hisao disetting untuk tidak bisa menyakitiku.


"Tindakanmu membuat keadaan menjadi seperti ini." Kata Hisao melemparkan tubuh wanita sawo matang itu di dekat pria machete itu.


"Mereka yang memulai serangan duluan!" Kataku mencoba beralasan.


"Memulai serangan "Kepalamu"!!! Kau jelas orang yang melompat ke arah meja seperti orang gila tadi. Apa sih masalahmu?!" Kata Hisao. Tidak kusangka dia mengajak ku untuk adu mulut.


"Maaf mengganggu nona-nona, tapi apakah kalian yakin tidak ingin menikmati pertarungan yang satu ini? Yang ini cukup seru loh." Tiba-tiba Theresa mendatangi kami dengan santai dan menunjuk ke arah Kenji. Kami bertiga pun dengan bersamaan menoleh ke arah Kenji.


Dengan masih posisi bertahan menggunakan tameng. Kenji menggunakan tameng itu sebagai media untuk membentuk sebuah tentakel dan menarik satu tubuh prajurit underground ke arah Kenji. Kenji kemudian menempelkan prajurit itu ke tamengnya. Kenji menjadikannya sebagai tameng hidup.


"Tembak saja aku bersama monster ini!" Kata prajurit yang menempel di tameng Kenji. Kenji kemudian menemukan sesuatu di hostler prajurit itu. Sebuah pistol.


"Berapa amunisi yang kau punya? hmm? 3 magazine? Baiklah itu sudah lebih dari cukup." Gumam Kenji yang bahkan aku bisa mendengarnya.


Kenji kemudian melemparkan perisainya kearah para prajurit dengan sangat kencang sehingga mereka terkena lemparan tameng tersebut dengan sangat kencang dan telak. Mereka semua pun tergeletak dengan sangat kesakitan.


"Tidak seperti biasanya Kenji tidak membunuh?" Tanyaku kebingungan dan heran.


"Itu karena aku sedang mengetes kalian. Semua ini sudah direncanakan oleh Kenji dan aku yang memintanya. Aku ingin tahu setinggi apa skill kalian maka dari itu Kenji bersedia membantuku membuat kondisi dimana kalian bisa bertarung antara hidup dan mati." Jelas Theresa.

__ADS_1


"Lalu kesepakatan yang kau buat tadi dengan Kenji?" Tanyaku.


"Tentu saja itu juga cuma akting supaya bisa membuat Anda panas Yang Mulia. Dengan begitu kami para Underground bisa melihat potensi anda sebagai seorang petarung." Jawab Theresa.


"Sejak awal, Kenji tidak berbuat menjualmu demi tujuan semata saja." Kata Hisao.


"Kau juga tahu ini bagian rencananya Kenji?" Tanyaku sambil mencengkram kerah baju Hisao.


"Tepat ketika kau mulai mengamuk tadi. Kenji memberitahuku." Kata Hisao.


KUUUUURANG AJAAAAAARR!!!!! JADI INI SUDAH DISETTING OLEH SI RAMBUT PUNK ITU!!!!!!!!!


"Lalu kenapa tidak ada yang memberitahuku?!" Tanyaku dengan kesal.


"Karena kau wanita yang paling mudah disulut emosinya." Kata Hisao dengan nada datar.


"Hisao, sialan kau!.... " Kataku mencengkram kerah baju lebih kuat.


"Hey kalian akan melewatkan keseruannya lo." Kata Theresa memperingatkan kami untuk melihat pertarungan Kenji layaknya hiburan.


"Jadi ini pahlawan dengan job class Avenger yang bisa selamat dan hidup diluar dinding selama 3 bulan. Mari kita lihat apa yang kau bisa, pahlawan." Kata seorang robot raksasa berwarna hitam dengan tulisan Mark V di belakang punggung nya.


"Lebih baik kau tidak mengecewakan kami." Kata seseorang wanita pembawa sabit dengan wajah datar yang sama seperti Kenji. berambut putih panjang.


"Dan jika kau tidak serius maka kau akan mati." Kata seorang pria dengan tubuh penuh dengan tato, memakai topeng penyaring gas. bersenjatakan pisau dan pistol energi.


"Mari kita lihat apa yang kau bisa. Manusia." Kata seekor kucing yang berjalan menggunakan dua kaki berpakaian ketat dan membawa senjata yang tidak sesuai ukurannya. Dan di dalam pikiran ku dia sangat imut.

__ADS_1


"Siapa mereka ini?" Tanyaku penasaran. Mereka juga punya kapasitas manna yang sangat mengerikan. Aura mereka bahkan berbeda dari pahlawan dunia lain.


"Keturunan dari pahlawan dunia lain yang terdahulu. Aku menyebutnya, sebagai Guardians." Jelas Theresa.


__ADS_2