Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
My Son 2


__ADS_3

“Gina, ayo ikut saya,”


Dengan langkah tegas, tanpa menoleh kearah orang yang di maksud, Stefan melewati Gina seraya mengeluarkan kalimat ajakan itu dari


mulutnya.


“Ki-kita mau kemana ya pak?” dengan otak yang penuh tanda tanya, Gina bertanya namun tetap beranjak dari duduknya.


“Apa kamu diberi hak untuk bertanya? Kalau atasan mengajak atau menyuruhmu apapun, kau hanya perlu menuruti.” Berbicara tanpa menoleh,


terus melanjutkan langkah tegasnya.


“ih, jutek banget si?’ 🙄 Gina mengikuti langkah bosnya yang terkadang terlihat angkuh itu, keluar dari gedung perusahaan.


.


Waktu sudah hampir gelap. Mobil yang membawa keduanya kini memasuki gerbang besar, seketika perasaan takut menyelimuti Gina. ‘Jadi, aku


diajak ke rumah ini? Bertemu Arsen lagi? anakku, mama datang’ batin Gina.


”Ini adalah kediaman keluarga saya. Saya ingin


memperkenalkanmu dengan anak dan orangtuaku.”


Degh


Gina tersenyum lebar walaupun jantungnya sangat gugup.


“Apa yang ada di pikiranmu? Jangan berpikir yang aneh-aneh.”


Untuk pertama kalinya, Stefan merasa kesal melihat senyuman Gina. Seolah wanita itu telah berhasil mendapat sesuatu yang sangat berharga. Ia mengira, Gina telah berpikir berlebihan.


“Ma-maaf pak, bu-kan itu maksud saya.”


“lalu kenapa tersenyum senang? Apa kau kira aku akan memperkenalkanmu untuk jadi bagian dari keluargaku?”


‘wajahmu itu tidak bisa berbohong’ kesalnya dalam hati.


“Maaf pak,” ucap Gina, sopan.


‘Tapi bisakah anda tidak seketus itu?’ sambungnya dalam hati.


.

__ADS_1


Stefan dan Gina keluar dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam rumah besar itu. Dengan sikap tau dirinya, Gina berjalan di belakang Stefan seperti biasa.


“Papa!”


Deg


Deg


Deg


Jantung Gina berdegup tak karuan. Seorang anak laki-laki menyambut Stefan dengan meneriaki nama papa.


“wah, anak papa! Apa tidak nakal hari ini?"


“Enggak papa.” Arsen memeluk ayahnya itu. “Papa ... siapa tante ini?” menunjuk Gina dengan telunjuk kecilnya.


Gina hanya mampu menunduk, menahan diri dari rasa ingin memeluk anak itu, ia merasa sangat malu menatap wajah anaknya sendiri.


“Boy, tante ini sekertaris papa. Kamu bisa panggil dia tante Gina.” Stefan memicing saat meirik Gina dan menangkap keanehan dari gelagat Gina.


“Ehm!” Stefan berdehem untuk menyadarkan Gina.


“Hai tante ... namaku Arsen.” Tangan kecilnya itu ia berikan untuk berkenalan.


‘ini mama sayang, aku yang melahirkan kamu. Kamu berasal dari rahim aku. Kamu milikku. Aku hanya menitipmu disini. Apa ... ini saatnya


membawamu pergi?’ Gina tidak ingat untuk melepas jabatan tangan Arsen. Pikiran Gila


sedang mendominasi hampir  di seluruh


otaknya.


“Stefan, kau sudah pulang?” papa Toni menghampiri.


Gina melepas tangan Arsen setelah tersadar dari lamunannya, lalu kembali berdiri.


“Waaa... papa Arsen sudah pulang. senang sayang?” mama Lina pun menyusul suaminya.


‘Syukurlah, sepertinya ... mereka sangat menyayangi anakku,’ Gina berkata lirih dalam hatinya.


“Ma, Pa, dia Gina, sekertaris baru aku.” Stefan


memperkenalkan Gina.

__ADS_1


.


Kini, mereka berada di ruang keluarga yang sangat luas itu. semua orang duduk diam dengan perasaan canggung. Tak ada yang mengeluarkan


suara. Papa dan mama hanya menunggu sekiranya ada penjelasan dari Stefan mengenai wanita cantik yang ada dihadapan mereka ini. Meskipun sudah tau gadis ini adalah sekertaris anaknya, tapi bukanlah hal biasa bagi Stefan mengajak


wanita menemui orang tuanya.


“Arsen, ngobrol sama tante Gina dulu ya, papa mau bicaradengan kakek dan nenekmu.” Mengacak pelan ambut bocah yang ada di pangkuannya


itu.


“Oke Papa,” Arsen turun dari pangkuan ayahnya, lalu menghampiri Gina dan mengajak wanita yang dipanggilnya tante itu untuk melihat kamarnya.


Tentu saja Gina menuruti anak itu dengan senang hati.


.


Tiba di kamar Arsen.


“Silakan tante,” Arsen tersenyum manis mempersilahkan Gina untuk masuk, dan diangguki oleh Gina.


Arsen kembali menutup pintu kamarnya, berlari melewati Gina menuju mainannya yang sangat banyak.


“Arsen,”


Anak itu pun menoleh karena Gina memanggil namanya.


“Apa ... aku boleh memelukmu? Sebentar saja.” Ucap Lina, pelan, sangat hati-hati.


Tak disangka, Arsen merentangkan kedua tangannya.


Tanpa aba-aba, Gina mendekati Arsen dan ... memeluk anak itu dengan sangat erat.


‘Anakku, Arsenku,’  Gina menangis memeluk anaknya itu, menangis dalam diam.


'Terima kasih sudah tumbuh dengan sehat sayang. Mama sayang kamu. Arseen,' Air mata Gina mengalir kian banyak saat anak itu mengelus punggung belakangnya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2