Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Mantan Kekasih?


__ADS_3

Mengerti akan kekesalan Tommy, Mario pun berinisiatif untuk mencairkan suasana dengan makan terlebih dahulu. "Tomm, kita makan dulu. Nanti saja lagi di sambung ceritanya."


Keduanya pun makan dengan lahap.


Di Rumah Sakit.


Perlahan, Jenni terbangun setelah dirinya menutup mata dalam beberapa jam.


Membuka mata dan mendapatkan dirinya hanya seorang diri di kamar, dalam keadaan tangan kanan terbalut dan kaki kanannya yang terasa sangat sakit. Bekum lagi, terdapat selang infush yang terpasang di tangan kirinya.


'Kenapa aku?' batinnya, karena masih setengah sadar.


Ceklek. Pintu terbuka. "Jenn, sayang ... kamu sudah bangun?" nyonya Park Yoo Ra mempercepat langkahnya. "Jenn, yang mana yang sakit sayang?"


bertanya, sembari menekan tombol yang terhubung dengan tim medis.


Jenni tidak menjawab apapun.


.....


Di Pesta.


Given terlihat berbeda setelah Arsen kembali menghampirinya setelah turun dari podium.


"Given, kamu kenapa?" tanya Arsen, karena Given memanyunkan bibir bawahnya.


"Kamu merindukan mommy lagi?"-Arsen kembali bertanya karena Given menggeleng kepala tidak ingin mengatakan apapun.


Adik kecil itu hanya diam.


"Kamu sedih, kakak tidak mengajakmu tadi?"


Anak itu menunduk dengan wajah manyun, sehingga diartikan sebagai jawaban (iya) oleh Arsen.


"Hei! Yang di depan itu mama dan papa-nya kakak, jadi makanya kakak yang kesana. Kamu tidak perlu ikut. Mereka bukan daddy and mommy Given. Mengerti?"


Perkataan Arsen malah membuat anak itu semakin tertunduk. Mengapa kedua orangtua Arsen terlihat bahagia bersama sedangkan mommy and daddy-nya tidak begitu. Hal itu membuat Given merasa sedih.


"Sayang, kalian sini, ikut mama."


Gina menghampiri dua anak itu ingin mengajak keduanya memilih beberapa hidangan makanan.


"Ma, adik Given sedih karena tadi Arsen tidak mengakaknya naik ke podium bareng papa Mama."

__ADS_1


"Ya? Anak manis ini, sedih?" Gina menangkup wajah anak perempuan itu. Tampaklah wajah lucu itu terlihat sangat menggemaskan ketika sedih.


"Ontie, apa keluarga harus saling sayang?" -Given bertanya saat berhadapan dengan onty Gina.


Gina tersenyum lalu mengangguk. "Benar sekali. Harus saling sayang."


"Tapi, Daddy tidak sayang Mommy Given. Daddy tidak sayang Given." suaranya pelan, kembali menunduk, sembari memainkan ujung telapak kaki ke lantai.


'Jadi ini tentang si Mario, apa yang harus aku bilang biar anak ini memgerti?'


Gina terlihat berpikir sejenak.


"Given, orang dewasa memang sulit dimengerti. Tapi, onty yakin Daddy menyayangi Given dan Mommy."


Yang dikatakan Gina sepertinya sedikit berefek pada Gadis kecil itu. Kini wajah murunhnya sudah krmbali ke mode normal. 'Given tidak perlu Daddy yang jahati mommy. Given akan bawa mommy cari daddy yang lain.' batin-nya kemudian.


(Kecil² udah pandai ikut membatin kamu bocah).


........


Di suatu ruangan yang tampak remang-remang, tepatnya di sebuah club malam.


Helena sedang duduk manis bersandar di ranjang berukuran king size, menghadap televisi yang sedang menyiarkan acara resepsi pernikahan Stefan dan Gina. Tidak tampak seperti resepsi pernikahan si, karena... terlihat pengantinnya berbaur denhan para tamu, bukan di pelaminan.


Ceklek, pintu kamar itu terbuka dan masuklah seorang pria gagah yang diketahui sebagai pemilik club ini. Selain itu, pria asing ini juga adalah seorang germo alias mucikari. Kali ini, sang germo ingin mencicip nikmatnya surga dunia bersama Helena. Pria itu bernama Lee.


Beberapa hari yang lalu keduanya berkenalan dan memutuskan untuk menjalin hubungan di atas ranjang. Awalnya, Lee mengira Helena ingin mencari pelanggan, tidak taunya ... wanita itu malah menawarkan diri pada Lee.


Barang gratis tidak mungkin di tolak oleh pria normal seperti Lee. Ia pun dengan senang hati menjadikan Helena sebagai wanitanya. Catat, Lee memang belum berkeluarga, padahal usia pria itu sudah berusia 35 tahun.


Bukan sebagai pelampiasan napsu atau sebagainya, Helena memang berniat memikat Lee untuk memjadi milik pria itu.


"Benarkah kau bukan milik siapapun Helena?" tanya Lee karena tidak ingin gegabah dan berakhir menjadi selingkuhan seseorang. Dia yau persis bagaimana kehidupan rumah tangga yang diwarnai perselingkuhan karena setiap hari pekerjaannya adalah memghubungkan pasangan tukang selingkuh.


"Aku memang pernah menjadi seorang istri. Tapi ... itu sudah berakhir. Apa kau percaya?"


"Baiklah, aku mempercayaimu. Ini, minumlah." memberi sebiji pil kepada Helena.


"Apa ini?" tanya Helena.


"Ini penangkal kehamilan. Aku tidak ingin repot jika kau hamil kemudian."


"Tidak Aku tidak ingin meminum itu."

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan memasang ini padan juniorku." mengambil alat kontrasepsi yang dikenal dengan nama ******.


"Tidak, Mr. Lee, rasanya tidak enak jika memakai itu. Baiklah. Aku akam meminumnya." Helena pun mengambil pil tersebut dan meminumnya.


Keduanyanpun memulai pemanasan. Helena berusaha berperan lebih aktif dan agresif membuat kesan bercinta yang akan membuat pria itu terngiang-ngiang.


Setelah melakukan pemanasan selama 30 menit hubungan itu menjadi kian panas dan intim.


Helena berhasil membuat pria itu mabuk dalam kenikmatan.


"Punyamu masih sangat sempit Helena, ini sangat enak," puji pria itu sembari mengerang nikmat.


"Ini karena juniormu yang big size syang, aku sangat puas menerima serangan ini, aahh" Helena pun membalas pujian kepada pria itu.


SKIP.


.....


Di dalam mobil.


"Tom, sambung ceritamu" pinta Mario, yang terdengar persis sebuah perintah.


"Sebelum aku bercerita bagian yang sangat ingin anda ketahui, jawab dulu pertanyaanku. Anda menyukai Jenni?" Tommy sepertinya mulai resah.


"Aku? Suka dia? Oh, dia ... adalah mantan kekasihku."


Sshiiiitttttt!


Mobil terhenti karena Mario menekan pedal rem secara mendadak.


"Apa yang kau lakukan Tom? Kau ingin kita celaka?" bentak Mario.


Bukannya menaggapi bentakan itu, Tommy malah melempar pertanyaan baru dengan tatapan nyalang.


"Mantan kekasih? Mantan yang mana?"


.


.


Bersambung....


assiiik double up

__ADS_1


__ADS_2