Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Main Panas


__ADS_3

Keesokan harinya.


Gina terbangun dan mendapati dirinya berada dalam dekapan seseorang. Ya ... tangan seseorang sedang memeluknya dari belakang. Dari aroma tubuhnya sih, Gina sudah yakin orang ini adalah suami tercinta pastinya. "Ya ampuun, dia memelukku sepanjang malam? Pantes saja aku tertidur pulas." Gina bersorak dalam hati dengan wajah bahagianya.


Gina pun memutar dubuhnya pelan, agar dapat berhadapan dengan sang suami.


"Hai ..." Stefan menyapa saat Gina sudah berbalik sempurna.


'Jadi dia sudah bangun?'


"Kenapa melotot? Apa aku terlihat seperti hantu?" tanya Stefan, merespon tatapan terkejut Gina.


"Kak-kamu sudah bangun?" tanya Gina gugup.


Stefan hanya menjawab lewat sebelah gerakan alis matanya sembari menatap lekat, tentu saja membuat Gina gugup bukan main.


"Kalau begitu aku akan bikin sarapan. Kamu mandi lah."


"Aku ingin sarapan sekarang. Disini" Semakin mengerat pelukannya.


"Yah? Oh, kalau begitu lepaskan. Aku akan mengambilnya. Mungkin saja sarapannya sudah siap."


"Jangan kemana-mana. Aku hanya ingin memakanmu." Menahan pergerakan Gina yang hendak pergi.


"Yah? memangnya terlihat seperti roti atau nasi goreng?"


"Kamu terlihat enak dimakan, Mama Arsen," bisiknya serak, membuat Gina auto paham akan maksud suaminya itu.


"Aaahh, Papa Arsen, jangan menatapku begitu. Aku jadi malu."


"Malu apa mau?" Stefan menahan tengkuk Gina sembari mendekatkan wajahnya dengan wajah cantik istrinya itu. "Sayang, aku ... merindukanmu. Tak apa kan? Hmm?"


'Sayang? Dia benar-benar memanggilku sayang?'


Kalau sudah begini, siapa yang mampu menolak? Gina tidak akan sanggup bahkan sekedar menggeleng untuk berpura-pura jual mahal.


Yang ada, Gina malah melingkari kedua tangannya pada pinggang Stefan. "Aku juga merindukanmu, papa Arsen. Sangat rindu." membalas tatapan yang tak kalah lekat, sembari mendekat perlahan membuat jarak kedua wajah itu kini hanya tersisa 1cm.


Menyadari respon baik dari sang istri, Stefan mulai beraksi. Pelan tapi pasti, membuat sentuhan demi sentuhan yang mampu menghipnotis seorang Gina.


"Papa Arseeeen,"


"Hemmmm?"


"Apa ini bukan mimpi?"


"Tidak, sayang ... ini nyata."


Gina pun tersenyum legah.


"Kamu senang?"


"Hmm" Gina mengangguk.


"Baiklah, mari kita mengulang malam panas itu lagi. Oke,"


"Oke, tapi ini sudah pagi, papa Arsen."


"Tidak apa. Bagi suami istri, pagi maupun malam sama saja, sayang."


"Baiklah, ayo ciptakan pagi panas, papa Arsen."


"Oke, sayang. Ayo, segera sebelum anak itu bangun dan mengacaukan waktu berharga ini."


(Kalian pasti tahu, apa yang terjadi kemudian🤭)


.........

__ADS_1


Ditempat lain.


"Dad, bangun. Ayo cali (cari) Mommy." Given menarik tangan Rio yang bahkan belum membuka matanya pagi ini.


"Given, tunggulah baby, Daddy masih mengantuk. Daddy baru saja menutup mata setelah menyelesaikan kerjaan Daddy yang sangat numpuk."


'Astaga, bicara apa aku dengan anak sekecil dia,'


Benar saja, Given tidak peduli. Kembali anak itu menangis dengan suara kencang.


Sementara, ada seseorang yang diam-diam menyaksikan drama pagi itu. "Rasain kamu Mario, salah sendiri menjahati mommy-nya. Dasar anak bodoh." sang ibu mengumpat anaknya yang dianggap sangat jahat dan bodoh itu. "Kenapa sampai jadi anak kalau dulu tidak cinta mommy-nya? Omong kosong." sambungnya lagi.


Ia pun masuk ke kamar putranya itu setelah puas mengumpat dalam diam.


"Mario, cepat temukan mommy Given. Setelah itu, kita bawa pulang mereka ke Seoul dan kalian berdua menikah di sana."


"Iya, Ma ... akan kutemukan wanita itu." Mario lalu beranjak dan memasuki kamar mandi.


Saat ini, Mario menikmati hangatnya hujanan air shower dengan menutup matanya. Kembali teringat kata-kata mama yang mengharuskan dirinya menikahi Jenny.


Tiba-tiba, ingatannya mengulang masa lalu yang masih terekam jelas di dalam otaknya, dimana saat ia dengan mata kepalanya sendiri, mendengar dan melihat Jenny sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon dan mengatakan. ("Tenang saja Ma. Mario adalah ATM berjalan untukku. Dia memenuhi semua kebutuhanku. Bukankah itu keren?")


Kalimat menyakitkan itu seketika menghancurkan kepercayaan Mario terhadap Jenny. Ia tak menyangka, wanita yang mulai ia sukai dan sudah beberapa kali ia tiduri itu adalah seseorang yang hanya menganggap dirinya ATM berjalan. Mario pun menyesal telah menumbuhkan perasaan cinta untuk Jenny, walaupun wanita itu telah berhasil membuat dirinya melupakan cinta pertamanya yaitu Gina, yang entah menghilang kemana waktu itu.


Hal mengejutkan lainnya, Mario memgetahui bahwa ternyata ... Stefan adalah seseorang yang mendukung biaya kuliah Jenny secara penuh. Itu juga merupakan kabar tak menyenangkan yang harus Mario dengar, dan berhasil membuat pria itu semakin membenci Jenny.


'Dasar parasit, untuk apa aku menikahi wanita sepertimu, meskipun kau adalah ibu dari putriku, aku tidak sudi.'


.......


Kembali ke kediaman Yoris.


"Papa ... Mama ..." Arsen berdiri di depan kamar mandi yang ada di kamar ayah ibunya dan tak berhenti menggedor pintu tersebut setelah mendengar suara aneh dari dalam.


"Kenapa boy, jangan ganggu." teriak Stefan dari dalam.


"Papa mama sedang apa di kamar mandi? Kok mama teriak-teriak?" tanya anak itu polos.


"Papa, Arsen juga mau ikut main. Buka pintunya."


Terpaksa kenikmatan yang berlanjut di dalam kamar mandi itu, di hentikan sementara.


"Sayang, aku harus bicara dulu dengan bocah itu."


Stefan berjalan ke arah pintu setelah mencium kening istrinya.


Mengenakan handuk lalu membuka pintu.


Ceklek.


"Boy?"


Ternyata anak itu sudah rapi dengan seragam sekolah lengkap.


"Papa, Arsen akan ke sekolah. Apa kita masih sempat bermain?"


"Boy, papa sudah bilang ke supir untuk mengantarmu."


"Tapi Arsen pengen ikut main juga Pah,"


"Ini permainan orang dewasa Arsen, anak-anak tidak boleh terlibat. Bahaya, mengerti?"


"Oke, papa." jawab anak itu, dengan wajah penuh tanya.


Akhirnya, setelah menyalami ayahnya, anak itu kembali bertanya "mana mama? Arsen pengen salam dulu."


"Untuk kali ini, tidak perlu salam mama ya, soalnya mama tadi kalah mainnya jadi mama sedang mendapat hukuman dari papa. Oke,"

__ADS_1


"Oke deh, Arsen sekolah dulu. Dah papah."


Kembali Stefan menutup pintu setelah putranya itu pergi.


"Kenapa sayang, kok kamu senyum-senyum?" tanya Stefan.


"Habisnya, pembicaraan kalian terdengar lucu. Aku belum pernah membayangkan akan mendengar hal ini, sayang." Gina tersenyum lalu kembali mendekatkan diri.


"Sepertinya, kamu masih mau lanjut, mama Arsen?"


"Iya ... aku masih merindukanmu, papa Arsen."


"Oke, sayang! Kita akan puas-puas kali ini. Kau tahu, aku juga sangat merindukan sentuhanmu. Aku ... tidak pernah membayangkan akan melakukan ini lagi dengan wanita lain selain wanita yang malam itu. Gin, terima kasih karena telah menjadi wanita itu. Hmm?"


"Terima kasih juga sayang, karena kamu tidak membenciku. Terima kasih telah membalas cintaku, papa Arsen."


"I Love you Gina sayang,"


"I Love you too, suamiku sayang."


"Berjanjilah jangan pernah oleng ke siapapun hmm?"


"Tenang, cintaku itu kamu papa Arsen, aku hanya mau kamu."


.


.


Di RSJ.


Jenny, dengan perasaan tidak enak hati dan tidak percaya dirinya, kini berdiri di depan pintu ruangan direktur rumah sakit itu.


'Bagaimana ini, aku sudah sangat sering menemuinya. Apa kali ini aku masih akan dimaklumi?'


Tok tok tok.


"Masuk"


Jenny pun membuka pintu.


"Jenny, silahkan."


"Pak, maaf mengganggu anda."


"Ya? Ada yang perlu kamu bicarakan?"


"Maaf sebelumnya pak, saya ... mohon agar ibu saya segera mendapatkan tindakan operasi."


"Tapi ... apa ... biaya sebelumnya sudah kamu selesaikan?"


Jenny menggeleng. Ia kemudian berlutut dan lagi-lagi memohon pengertian. Wanita itu berjanji akan melunasi semua tunggakan rumah sakit dan biaya operasi ibunya yang juga sedang menderita sakit mematikan.


"Saya pasti akan mencicilnya pak, tolong kasihani ibu saya."


"Jenny, kalau boleh saya tahu, apa pekerjaan kamu?"


"Yah? Sa-saya bekerja di rumah sakut ini sebagai petugas cleaning service pak, selain itu, saya juga bekerja di restoran saya juga bekerja part time di tempat lain. Pak, saya ini pekerja keras. Saya pasti akan melunasi semuanya." terang Jenni, cukup meyakinkan.


"Baiklah, bawa ini ke bagian administrasi." sang Direktur itu lagi-lagi hanya bisa bermurah hati untuk keluarga pasien yang satu ini.


Jenny pun keluar dari ruangan itu dengan menampilkan sedikit senyum. 'Jen, tidak ada yang tidak bisa ... setelah ini, kamu hanya perlu kerja lebih giat untuk mendapatkan uang.' wanita itu menyemangati dirinya. Ia lalu menuju ruang penyimpanan alat pembersih untuk melaksanakan tugasnya sebagai Cleaning Service.


"Huff. Apa ada orang lain yang hidupnya yang sama tragis denganku? Kalau ada aku ingin merangkul bahunya dan bilang, kita satu perjuangan" Jenny menatap dirinya di hadapan cermin di ruang penyimpanan. Ia tatap tubuhnya yang sudah sangat tidak menarik itu. Tubuh kurusnya seolah menggambarkan betapa kerasnya hidup yang ia jalani.


'Given, mama sangat merindukanmu. Tapi, nikmati saja kebersamaanmu dengan Grandma dan Daddy kamu. Maaf mama pergi karena mama harus mengurus nenek hingga akhir. Maafkan aku Given.'


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2