Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Aku Mencarimu


__ADS_3

Pagi-pagi, Tomi sudah tiba di rumah sakit. Ia mendapat tugas dari Mario untuk mengantar tas milik Jenni yang didalamnya ponsel wanita itu berada.


Tomi memasuki ruangan dimana dengan perasaan tidak sabar ingin menyapa sahabatnya itu.


Jenni yang sedang dalam posisi duduk menghadap jendela, tidak menyadari kedatangan Tommy.


"Hai!" Sapa seseorang menyadarkan Jenni dari lamunannya.


"Tommm!" Jenni memperhatikan tas miliknya yang sedang dibawa oleh Tommy, lalu tersenyum ceria. Ia pun merentangkan kedua tangannya.


"Jen, kau serius ingin memelukku?"


Jenni mengangguk dengan senyum penuh.


"Tom ... sekarang aku sendiri ... Mama tega, meninggalkanku." -Jenni mulai terisak.


"Sssuuuuut. Kamu tidak sendiri. Kan ada Given. Dia anak kamu kan?" -mengusap kepala Jenni.


"Given? Tom, kamu tahu tentang anakku?"


Tommy mengangguk.


"Tomm, bagaimana kalau mereka membawanya dariku?"


"Jenn, dengar! Kalau Given dibawa, kamu juga akan dibawa. Papa-nya boss aku kan? Tenang, aku sudah menghajarnya tadi malam. Dia hampir saja mati. Apa kau senang mendengarnya?"


"Tomm. Apa yang kau lakukan? Jangan gila. Dia orang yang jahat. Dia bisa saja menghukummu."


"Ssuuuut. Dia tidak akan menjahatiku. Dia juga tidak akan berani jahat lagi pada teman baikku ini. Aku sudah memberitahunya. Lihat saja, setelah ini, dia akan baik padamu."


Jenni menggeleng. "Aku tidak mengharapkan dia baik padaku." Melepaskan pelukan. "Tom, ayo bawa aku pergi dari sini."


'Kau tidak tau saja Jenn, dia sangat menginginkanmu. Mana mungkin dia tega menjahatimu.'


"Jenn, dengarkan aku ... sembuhlah dulu, baru memutuskan kemana kau akan pergi, oke? Kau bahkan tidak bisa berjalan."


"Hei, Tom, aku bisa berjalan dengan tongkat." ujar Jenni dengan penuh semangat.


Bukannya membenarkan perkataan Jenni, Tomi malah tertawa ngakak. "Memangnya kau bisa kabur kemana dengan tongkat? Hmmm?" -ia pun kembali menertawakan Jenni.


"Kabur? Aku tidak kabur. Aku hanya akan pergi kemana seharusnya aku. Buka melarikan diri."


'Jen, Jen ... apa kau pikir orang itu akan membiarkanmu pergi? Kau hanya akan berakhir bersamanya setelah ini.'


"Jen," -memyentuh lengan Jenni. "kemanapun kau setelah ini, aku cuma ingin melihatmu bahagia. Seperti dulu, selalu ceria." -tersenyum tulus.


Jenni pun memgangguk semangat. "Tom, bisakah aku meminta tolong?"


"Ya? Apa itu?"


"Tolong jemput Given-ku." -lalu mencari-cari sesuatu disana."Given sedang di alamat ini." -memberi sebuah kartu pada Tommy.

__ADS_1


"Wahhh. Baiklah, aku akan menjemputnya. Kau istirahatlah."


.......


Kediaman Yoris.


Setelah membantu menyiapkan sarapan, Gina kembali ke kamar dan ternyata suaminya itu masih tidur nyenyak.


"Mentang-mentang ini hari libur, kamu sengaja tidur lebih lama?"


Cup.


Memberi ciuman singkat, yang berhasil membangunkan Stefan.


"Hei, kenapa kamu menahanku? Ayo beranjak. Kita bangunkan anak-anak."


"Tunggu, sayang. Aku masih ingin seperti ini." -memeluk erat dengan satu tangan. Sementara tangan yang lain aktif menjelajah dengan nakalnya.


"Hmmm, papa Arsen. Sudahlah! Ini bukan waktunya enak-enak."


"Lalu kapan sayang, nanti setelah sarapan, boleh?"


"Boleh. Tapi, ayo ke kamar Arsen sekarang, kita mandikan anak-anak dulu."


"Okelah, okelah Gina sayang."


Pasangan itu kini berjalan dengan saling merangkul, menuju kamar Arsen. Tak lupa Stefan memberi ciuman singkat beberapa kali di pucuk kepala Gina, merasa gemesh.


"Biarin,"


Tiba di kamar bocah itu, terdengar suara tangisan. Membuat Gina dan Stefan membuka pintu tanpa mengetuk.


"Huuuaaaa huuuuaaa" lagi-lagi Given meraung. Anak kecil itu berdiri di sisi ranjang. Sedangkan Arsen, yang dilakukan bocah itu hanya menutup kedua telinganya dalam posisi terlentang di atas tempat tidur.


"Sayang, kamu kenapa?" - Gina mendekati Given.


Melihat kedatangn papa mama-nya, Arsen segera beranjak turun.


"Pa, pulangkan adik ini. Arsen mau ganti adik yang laki-laki saja."


Permintaan Arsen sontak membuat Stefan menggaruk kepala.


"Ven, kamu kenapa sayang?" tanya Gina.


"Bicaralah. Jangan hanya menangis." -Arsen, dengan nada jutek.


"Kenapa dia Sen?" -Gina, bertanya pada putranya.


"Itu, pampers dia penuh!" -menunjuk ke arah bawah-nya Given.


"Tapi kakak ga mau bantuin buka." -menunjuk Arsen.

__ADS_1


"Hei, kata mama, aku tidak boleh buka celana teman. Iya kan Mah?"- Arsen membela diri.


"Oke, Stop! Biar ontie yang bantu Given yah, ayo sayang." mengangkat tubuh Given menuju kamar mandi.


"Boy, ayo ikut papa." Stefan pun membawa putranya itu ke kamar mandi yang lain untuk mandi. Memang, belakangan ini Arsen selalu dimandikan oleh Stefan. Kenapa? Karena anak itu sudah tahu malu jika harus dimandikan oleh lawan jenis.


"Boy, bisa papa meminta sesuatu?"


"Apa Pah?"


"Berhentilah meminta adik. Itu menyakiti perasaan Mama. Bisa?"


"Oke, Papah!" -menjawab dengan wajah polos penuh tanya.


Setelah menyelesaikan sarapan, keluarga itu tiba-tiba kedatangan tamu asing yang mengaku bahwa dirinya adalah orang yang mendapat perintah untuk menjemput Given. Siapa lagi kalau bukan Tommy.


...........


Kembali ke rumah sakit.


Mario tiba di depan ruang dimana Jenni berada. Jangankan masuk ke ruangan itu. Untuk mengintip lewat kaca pintu saja Mario tidak berani.


Ia pun menatap makanan kesukaan Jenni yang begitu beragam itu dengan tatapan malas. 'Bagaimana cara memberikannya?'


Entah hilang kemana keberaniannya sebagai seorang pria. Rasa tidak percaya diri kini lebih mendominasi pria itu.


Kebetulan seorang petugas lewat dan Mario pun memintanya untuk mengantarkan makanan itu. Ia tersenyum legah setelah perawat itu masuk kesana.


Keluar dari ruangan itu, petugas tersebut memgatakan. "Pak, tidak ada pasien di dalam."


"Apa?" Mario pun menerobos masuk. Setelah memastikan Jenni tidak ada, ia pun merasa panik dan kembali berlari keluar.


"Jenn, Jenn! Kemana dia?"


Dilihatnya petugas jaga yang terdekat disana, dengan wajah panik menanyakan apa mereka melihat Jenni,"


Mereka hanya menjawab tidak tahu.


"Apa yang kalian lakukan? Pasien menghilang dan kalian tidak tahu?" bentaknya, lalu kembali berlari kesana kemari.


"Pak, pak, apa ... dia yang anda maksud?" -seseorang bertanya dan menunjuk ke suatu arah.


Benar saja. Jenni disana, berdiri dengan tongkat alat bantu berjalan sebagai penyanggah.


"Jennn," -Mario berlari ke arah Jenni dan ... sudah pasti memeluknya. Seperti baru saja menemukan sesuatu miliknya yang sangat berharga. "Aku mencarimu, kamu kemana?"


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2