Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Truck Gandeng


__ADS_3

Hai readers... tengkyuu banyak atas ucapan dan doa dari kalian untuk diriku. 🥰🥰🥰🥰


Semoga kalian juga sehat dimanapun berada yah!


Dan ... semoga para pejuang garis 2 bisa tertular juga. ☺


Selamat membaca😁


..........


Ditengah ayah anak itu menikmati pelukannya, Tommy pun menyingkir dari sana. Baginya, melihat itu sangat mengharukan dan membuat dirinya terbawa perasaan. Ia tak tahu ternyata ... Mario punya sisi ini dalam kepribadiannya yang biasanya tak ramah.


"Glend'ma ...!" seru Given, melihat Park Yoo Ra datang. Ia pun melepas pelukan daddy dan berlari ke arah sang nenek.


"Oh, sayangku! Nenek sangat merindukanmu, sayang!" -mendekati keduanya dan duduk di sana lalu memeluk Given.


"Gland'ma, adakah daddy yang lain? Given mau ganti aja daddy-nya!" -menatap sang nenek penuh harap.


Tak disangka, mulut kecil anak itu langsung menanyakan hal konyol itu tanpa basa-basi dan tidak memikirkan perasaan Mario yang mendengarnya.


Nyonya Park Yoo Ra pun mengalihkan tatapannya untuk melihat reaksi Mario atas perkataan Given. Sesuai dugaan, putra satu-satunya itu terlihat putus asa dan hanya menundukkan kepala.


"Given, tidak ada namanya ganti daddy sayang, daddy kamu hanya yang ini," menyentuh bahu Mario.


"Tapi daddy yang ini gak sayang mommy Given Glen'ma," -tertunduk sedih. Tak lupa bibir nya terlihat seperti akan mewek.


'Kata siapa aku tidak sayang mommy kamu Given? Aku hanya tidak tahu cara mengatakannya padamu.' gumam Rio dalam hati, kemudian menatap sang anak.


"Mario, pergilah ajak Given jalan-jalan. Biar mama yang temani Jenni. yah,"


"Oke, Ma ... aku ... titip Jenni yah, tolong mama bicara dengannya agar dia, bisa membuka pintu maaf untukku. Aku, akan berusaha kembali mencuri hati putriku lagi."


"Oke, sayang. Pergilah, selamat bersenang -senang."


"Sayang, ayo ... pergi dengan daddy, yah!"


"Tapi, mommy?"


"Ada Grandma yang menjaga mommy, sayang."


"Baiklah dad." -Given menganguk ragu.


Keduanya pun pergi dari sana, lalu sang grandma masuk ke ruangan untuk melihat keadaan Jenni.

__ADS_1


"Nyonya, anda datang lagi?"


Terlihat Park Yoo Ra membuang napas kasar. "Tentu saja aku kembali. Calon menantu sedang sakit, aku tidak bisa duduk tenang di rumah." ujarnya cuek.


........


Ditempat lain.


Helena mengunjungi Club milik Mr. Lee, pada saat waktu masih menjelang siang. Bukannya Mr. Lee yang jadi tergila-gila padanya, namun dirinya sendirilah yang terus menginginkan pria itu. Untuknya saat ini, lelaki tampan itu adalah satu-satunya pelabuhan terakhir, meskipun tidak ada ikatan pasti diantara mereka. 'Ya. Saat ini, kami hanya menjadi lawan main di tempat tidur. Tapi aku harus optimis, bisa mendapatkan pria itu sepenuhnya.'


Ceklek,


Helena membuka pintu ruang pribadi Mr. Lee, tanpa mengetuk.


"Hai! Kau benar-benar kemari?"


"Tentu saja! Aku, sangat merindukanmu dan itu membuatku tidak tahan untuk menunggu malam hari."


"Apa? Maksudmu adalah ... kau merindukan itu?" Mendekati Helena dan ... dan ... dan ... menuntun tangan Helena menuju senjata berharga miliknya.


Tentu saja ini membuat Helena segera melancarkan aksinya dengan senang hati.


"Ouuuuhhh, sayang, caramu membangunkan dia sangat hebat." -Lee, dengan napas terengah-engah, menikmati sentuhan Helena yang sedang aktif mengemut sesuatu dibawah sana.


Lee sudah benar-benar lupa akan kontrasepsi saat ini dan itu membuat Helena merasa gembira bukan main.


Ahhhhhh, skip!🤭


.........


Stefan, Gina dan Arsen sedang berada di taman dari istana megahnya itu, dengan beralaskan tikar, ketiganya menikmati kebersamaan hari libur dengan cara berlomba melukis.


Matahari siang hari ini tidak memberikan rasa gerah karena tertutup awan yang lumayan tebal. Tambah lagi, disana terdapat pohon ketapang yang lebat jadi cukup terasa adem bagi Arsen dan kedua orangtuanya.


"Waaaa ... lihatlah lukisan mama, Sen. Itu terlihat bagus."


"Iya, bener pah. Ternyata mama pintar melukis."


"Ye ... kalian belum tahu saja, dulu mama selalu juara melukis saat sekolah."


"Benarkah, sayang? Wahh, jadi makin cinta sama kamu. Ternyata istriku sangat hebat."


"Hehehe. Ada satu kekuranganku saat aku muda,"

__ADS_1


"Apa itu Gin?"


"Emmmm. Menguntit cinta pertamaku, tidak berani mengakui perasaan." -Gina, dengan tetap fokus menghadap papan likisannya.


"Cssssh, 'bocah! Belajar yang bener. Jangan cinta-cintaan.' Aku akan mengatakan itu kalau saja kau berani mengungkapkan cinta padaku saat itu. Hmm,"


"Yaaah? Aku tidak yakin kau akan menolakku papa Arsen, aku hanya tidak berani mencoba."


"Begitukah? Kau terdengar sangat PD."


"Tentu saja, aku bisa menjamin, kau pasti klepek-klepek dan aku menjadi cinta pertama untukmu."


"Cssssh, meskipun begitu, kau tetap pertama bagiku, Gina sayang!"


"Papa! Mama! Lalu Arsen cinta keberapa?"


Pertanyaan polos dari Arsen sontak membuat papa mama-nya tertawa lalu menjawab "Arsen pertama di hati papa dan mama."


"Assiiiik!" seru bocah itu, gembira.


Terlihat, salah satu pelayan datang ke arah ketiganya.


"Permisi Tuan, Nyonya, itu ..., ada ... tamu yang katanya mencari Nyonya." lapornya, kemudian.


"Cari saya? oh baiklah bik. Terima kasih." ucap Gina.


"Papa, Arsen, ... Mama ... ketemu tamu dulu ya," pamitnya pada dua kesayangannya itu.


"Tunggu!" Stefan menahan tangan Gina. "Siapa itu yang cari kamu?" bertanya dengan ekspresi wajah tak ramah.


"Ya, mana aku tahu,"


"Ikut."


"Ya silahkan! Siapa yang melarangmu?"


Keduanya pun berdiri dan melangkah pergi.


Tentu saja Stefan menggandeng erat tangan istrinya. Buat ngasih kode bahwa mereka adalah pasangan. Kali aja yang datang adalah bakal pebinor atau sejenisnya.


Melihat kepergian mama papanya Arsen menggeleng. 'Kayak truck aja, gandengan.' batinnya, kemudian tersenyum kecil.


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2