
Pesta telah usai. Setiap tamu kembali meninggalkan kediaman Yoris.
Di perjalanan. Nyonya Veni Yares da Helena tidak saling bicara meskipun berada di mobil yang sama. Keduanya hanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
‘Seperti apa pengasuh Arsen? Aku sungguh penasaran. Tunggu, apa yang telah aku lakukan selama ini? Benarkah aku telah meninggalkan seorang pewaris Yoris Grup yang terkenal itu demi seorang pria yang tidak ada apa-apanya? Akkh.... aku sungguh bodoh. Kenapa aku tidak sadar dari awal bahwa Stefan adalah seorang pewaris tunggal dari keluarga sehebat itu?’
Helena segera mensearching tentang Stefan Alvaro Yoris dan benar saja, disana terpampang nyata wajah mantan kekasih yang sangat menggilainya itu. Helena sangat menyayangkan waktunya yang telah ia buang percuma selama ini, menikah dengan oria yang salah dan dibawa pergi ke negara lain lalu berakhir bangrut dan berujung dengan perceraian.
Kembalinya ke Tanah Air bermaksud untuk mencari mangsa baru yang bisa terpikat dengan pesonanya. Tak sengaja ia menemani tante Veni untuk menghadiri undangan pesta seorang nyonya kaya yang kabarnya memiliki putra tunggal. Helene dengan rasa percaya dirinya berencana menebarkan pesonanya. Siapa tahu saja putra tungga yang dimaksud tante Veni bisa terpikat padanya. Hal yang tak disangka-sangka pula, ternyata putra tunggal nyonya Yoris tak lain adalah Stefan, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan dulu dengan penuh dramatis. Sungguh mengejutkan bagi Helena.
Di posisi yang bersebelahan dengan Helena, nyonya Veni Yoris juga sedang sibuk berperang dengan pikirannya sendiri.
‘Jadi benar Gina, anak tiriku itu ada di rumah keluarga Yoris? bagaimana bisa? Apa benar dugaanku bahwa bocah tadi adalah anak yang dikandung Gina waktu itu? Jika benar demikian, berarti ... aku dan suamiku telah membuang cucu kesayangan keluarga Yoris? tapi ... dia adalah ayah tunggal. Semua orang tahu itu. berarti Gina bukan menantu keluarga itu. lalu, dimana anaknya Gina? Akkhhh! Ini sungguh gila.’
.......
...Kembali ke kediaman keluarga Yoris. ...
“Ma ... Arsen ngantuk,”
“Ngantuk? Kalau begitu, ayo tidur sayang,”
“Ma ... tidur di kamarpapa lagi, mau yah ...”
“Emmmmm, tapi papa belum pulang sayang.”
“Kalau begitu telpon papa deh,”
“Oke, oke, kita telpon papa ya”
Drrruuut drruuut
Telpon terhubung.
(“Iya Gin,” sapa Stefan.)
(“Ini, Arsen ingin bicara”)
(“halo Papa! Papa dimana?”)
(“Papa di perjalanan pulang sayang”)
__ADS_1
(“Pa, Arsen pengen tidur sama papa lagi. bareng mama Gina juga ya pa”)
(“Boleh boy, boleh”)
Arsen dan Gina pun memasuki kama Stefan setelah mengakhiri panggilan telepon.
Keduanya kini berbaring sembari berpelukan.
“Sayang”
“iya Mama”
“Kalau mama pergi, Arsen mau ikut?”
“pergi kemana Mah?”
“Ke tempat yang jauh dari papa”
“Berarti Arsen pisah dari papa?”
“Iya sayang,”
“Oh, jadi tidak mau ikut dengan mama?”
“Mau”
‘Kita berdua akan pergi segera sayang’ batin Gina.
“Sekarang tidurlah sayang,”
“Iya Mama.”
‘Ya Tuhan, apa tidak apa-apa kalau aku membawa anakku pergi dari rumah ini?’
‘Ayahnya sudah menemukan kebahagiaannya sendiri, maka dia akan melepas Arsen seperti yang dia bilang.’
‘Ya, lebih baik pergi dengan Arsen dari pada aku harus menyaksikan anakku dan ayahnya menjadi milik orang lain. Aku tidak akan sanggup menyiksa perasaanku lebih banyak lagi’
Keduanya pun terlelap.
30 menit kemudian, Stefan tiba di rumah. Dengan langkah besar alias buru-buru, ia menaiki tangga untuk segera tiba di kamar, mengetahui Gina dan Arsen sedang menunggunya disana.
__ADS_1
‘Ini gila. Aku merasa sangat merindukan kalian berdua’
Ceklek.
Saat pintu kamarnya terbuka, ternyata Gina dan Arsen sudah terlelap, saling memeluk, seperti ibu dan anak.
‘Kalian berdua terlihat semakin dekat.’ Batinnya,
tersenyum kearah keduanya.
Setelahh membersihkan diri, Stefan segera bergabung dengan keduanya masuk kedalam selimut yang sama. Ia pun memeluk Arsen, membuat posisi wajahnya menjadi sangat dekat dengan Gina.
Lama pria itu memandangi wajah cantik yang hanya beberapa senti darinya ini, entah dorongan dari mana, Stefan semakin mendekatkan wajahnya dan ...
CUP.
Mencuri kecupan singkat di kening Gina.
Degh degh degh.
Jantungnya pun terasa dipacu semakin cepat.
‘Gila ...perasaan apa ini? Apa yang aku lakukan? Kenapa aku begini? Sadar Stefan, sadar!’
Stefan segera beranjak dan meminum beberapa pil yang akan membantunya bisa segera tidur nyenyak. Tak lama, ia pun terlelap.
Pukul 3 dini hari, Arsen terbangun kerena merasa haus. Bocah itu menggeliat dan beranjak dari tempat tidur.
Setelah membasahi tenggorokannya dengan air mineral, anak itu pun hendak kembali ke tempat tidur untuk melanjutkan tidurnya.
“Loh. Kenapa jadinya papa dan mama saling pelukan?” gumamnya.
Bocah itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dengan tatapan bingung. Seharusnya dirinya berada di tengah dua orang dewasa itu, akan tetapi sudah tidak ada cela diantara papa mamanya itu.
Anak pintar itu pun mengambil posisi ke sebelah mama, dimana ada tempat kosong untuknya berbaring.
.
.
Bersambung.
__ADS_1