
Saat ini,di depan semua tamu dan awak media yang hadir. Stefan mengajak istrinya menuju podium.
"Mungkin, pernikahanku ini sangat tiba-tiba bagi semua orang. Seperti yang semua ketahui, beberpa tahun lalu saya, secara mengejutkan, telah menjadi seorang ayah tanpa istri. Malam ini, saya mengumumkan bahwa ... wanita yang ada di sebelah saya ini adalah istri saya. Dia, adalah wanita yang melahirkan Arsen, putra saya. Sebelum mengumumkan berita ini, saya telah memikirkan semua konsekuensinya. Entah bagaimana rekan-rekan media bahkan semua relasi bisnis akan menyikapinya. Saya telah memikirkan semua itu. Mungkin banyak orang kecewa kenapa seperti ini kehidupan saya sebagai satu-satunya penerus Yoris Grup yang reputasinya membanggakan. Sekali lagi saya tegaskan, masalalu adalah sebuah kesalahan, akan tetapi ... saya bersama istri bertekad membangun komitmen untuk menjadi orang lebih baik. Mungkin banyak yang ingin bertanya detile dari kisah kami, akan tetapi ... kami tidak bisa menceritakan masalalu itu. Kalian hanya cukup tahu, bahwa ... yang terjadi di masa lalu kami, adalah sebuah kesalahan. Untuk itu, dari sini kami ingin memohon maaf kepada keluarga yang pernah kecewa terhadap kami berdua. Terutama Arsen Albethra Yoris, Papa dan mama ... meminta maaf ... menghadirkan kamu kedunia ini dengan cara yang salah."
Mendengar namanya disebut, Arsen yang asik bermain dengan Given, beralih menatap kedua orang tuanya. Tanpa perintah, anak itu berlari ke podium, menghampiri Stefan dan Gina.
Kini, anak itu pun berada di tengah kedua orang tuanya dengan wajah tersenyum.
"Saya tidak menyembunyikan keberadaan istri saya selama ini, akan tetapi ... saya hanya baru menemukannya. Saya mencari keberadaannya selama bertahun-tahun dan akhirnya ... saya menemukan dia." menatap Gina dengan senyuman lepas. Terlihat sangat bahagia.
Tak disangka, ternyata ... reaksi semua orang tampak berbeda. Tidak seperti perkiraan Stefan. Pria itu mengira, karena keterusterangannya malam ini dirinya akan dihujat dan reputasinya akan luntur perlahan. Namun, justru ia mendapatkan tepukan tangan dan senyum bangga dari semua yang hadir.
........
Di sebuah restoran.
Setelah melakukan berbagai prosesi pemakaman, Mario mengajak Tommy makan malam bersama.
Sudah lima menit menunggu dan keduanya hanya dalam mode hening tanpa kata. Padahal, dalam benak kedua orang itu, mereka memiliki pertanyaan masing-masing.
"Pak, bolehkah saya bertanya?"
__ADS_1
tanya Tommy, memberanikan diri.
"Silahkan, tanya saja."
"Sebenarnya ... apa hubungan anda dengan Jenni?"
"Sebelum menjawab, bolehkah saya bertanya?"
"Yah? Oh, silahkan"
'Sejak kapan anda butuh permisi saat ingin menanyakan apapun padaku?' Tommy membatin.
"Seberapa dekat kau mengenal Jenni?"
Respon dari raut wajah Mario yang seakan sedang bertanya, membuat Tommy melanjutkan penjelasannya.
"Saat SMA, keluarga saya tiba-tiba bangkrut. Hanya Jenni satu-satunya teman yang tidak menjauhi saya. Dia tetap sama, tetap tulus berteman dengan saya. Dia bahkan membiayai sekolah saya dengan uang jajan yang dia terima dari orangtuanya. Awalnya saya sempat berpikir mungkin saja dia menyukai saya sebagai pria. Tapi ternyata ... tidak. Dia tulus menjadi teman."
Mendengar penggalan kisah itu, Mario terlihat sedikit menyunggingkan senyum. Dalam hati ia merasa legah.
"Saat lulus SMA, saya tidak lanjut kuliah di kampus yang sama dengannya karena saya tidak mampu membayar. Tapi, kami tetap berkomunikasi dengan lancar. Beberapa Tahun kemudian, dia curhat tentang keluarganya yang hancur karena perselingkuhan sang ayah. Tidak hanya berselingkuh, ayahnya itu dengan teganya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan, meninggalkan banyak hutang pula. Keluarga dia, berubah miskin seketika."
__ADS_1
"Semenjak itu, ibunya terlihat berubah. Kemarahannya ia lampiaskan pada Jenni. Ia bahkan mendesak Jenni mengencani pria kaya, seperti yang dilakukan wanita selingkuhan papanya, agar kebutuhan mereka bisa tercukupi. Itu yang membuat Jenni membawanya ke rumah sakit jiwa. Dan ternyata ... ibunya itu mengalami stress berat karena tidak bisa menerima kenyataan hidup.
'Apa ... waktu itu dia sedang bicara ditelepon dengan mama-nya?' Mario menebak dalam hati.
Tommy kini berdiam, karena pelayan datang mengantarkan menu pesanan mereka.
Setelah pelayan pergi, Mario kembali bertanya, "Ada lagi hal yang kau tahu tentang dia?"
"Yah?"
"Tentang kisah cintanya mungkin?" -Mario menggerakkan alis, menandakan bahwa dirinya masih sangat ingin tau.
Mengingat kisah cinta Jenni, seketika membuat raut wajah Tommy berubah kesal.
"Oh ... tentang itu, saya rasa ... saya tidak ingin mengingat bagian hidupnya yang itu."
.
.
Bersambung
__ADS_1
Lanjut double up deh, 😁