
Tok tok tok.
Veni dan Gina menyudahi pelukan setelah mendengar suara ketukan pintu.
Ceklek.
"Sayang, kamu sudah siap?"
Dan orang yang datang tak lain adalah mama mertua dan pangeran tampannya. Siapa lagi kalau bukan Stefan.
"Iya nih, ma."
'Waaaw. Dia sangat cantik' hanya kalimat mengagumi itu yang terlintas di pikiran Stefan.
"Bagus. Ayo, berangkat. Semuanya sudah siap." Stefan pun memberi tangannya ke arah Gina. Tentu saja wanita itu menyambutnya dengan senang hati.
.....
Kembali ke Rumah Sakit.
Operasi telah berhasil dilakukan. Jeni pun dipindahkan ke ruang rawat inap.
Park Yoo Ra, ibu dari Orland Mario Park itu kini sedang menatap Jenni yang masih belum siuman.
'Apa benar yang dikatakan putraku, bahwa wanita ini penggila harta? Kalau iya, memangnya kenapa? Seorang wanita memang harus begitu. Tak apa Jenni, kamu sudah memberiku cucu. Kamu berhak menjadi menantuku sekarang. Ya Tuhan, semoga diluar sana tidak ada cucu lain selain Given. Biarlah putraku dengan satu wanita saja.'
Biar bagaimana pun, di pikiran mama satu ini masih terngiang-ngiang tentang yang beberapa waktu lalu dikatakan Mario yang mengakui bahwa dia tidak hanya meniduri satu wanita. Memikirkan itu membuat wanita cantik yang tak muda lagi itu, merasa kesal.
........
Beralih ke Mario.
Bagaikan tersambar kilat yang menyengat seperti aliran listrik, Mario mematung seakan tak bisa bergerak. Bahkan untuk bernapas saja rasanya sangat sulit ia lakukan.
__ADS_1
Mendapatkan kenyataan bahwa Jenni hidup dengan segala kesulitannya selama ini, membuat pria itu kini menitikkan air mata. 'Jadi ... selama ini aku sudah menjadi orang jahat?'
'Aku bahkan tega meninggalkannya saat dia mengandung anakku.'
Lama ia memandang ruangan gelap dimana koper milik Jenni berada. Benar, pria itu diberitahukan bahwa Jenni tinggal sementara di ruang ini karena belum mendapatkan tempat tinggal. selain sebagai pekerja, wanita itu juga adalah wali dari salah satu pasien rumah sakit ini.
Mario tak kalah terkejut saat mengetahui pasien gila yang telah mencelakai Jenni adalah ibu kandung wanita itu sendiri.
"Bagaimana aku harus menjelaskan bahwa kamu telah kehilangan ibumu, Jen."
Ya, sang ibu telah merenggang nyawa tepat saat menerima tindakan operasi darurat untuk penyakit yang dialaminya.
Drrrrrt drrrrt drrrrt.
Mario segera meraba ponselnya yang berada di saku celana. Tapi, rupanya bukan ponsel miliknya yang berdering. Mario mendekati sebuah tas selempang yang menggantung disana. Benar, ada sebuah ponsel disana. Dari wallpapernya, ponsel itu adalah milik Jenni.
"Gina? Kenapa dia menghubungi Jenni? Sejak kapan mereka dekat?"
"Kenapa Stefan dan Gina mengirimkan banyak sekali pesan untuknya?"
"Apa tidak masalah jika aku membuka satu pesan saja? Apa yang mereka katakan?"
Mario pun memutuskan membuka 1 pesan dari Stefan.
[Jenn, apa yang kamu lakukan? Apa tidak datang ke resepsi pernikahanku? Putrimu disini menunggumu menjemputnya.]
"Apa? Jadi Given sedang bersama mereka? Apa yang Jenni pikirkan, menitip putriku pada orang lain?"
Karena penasaran, ia pun membuka pesan dari kontak bernama Gina.
[Jenn, putrimu sudah siap hadir ke pestaku. Dia sudah di dandan dengan sangat manis dengan gaun berwarna abu-abu. Apa kamu tidak penasaran? Dimana kamu? Stefan meminta supir menjemputmu di tempat kerja, tapi kamu tidak ada di restoran itu.]
"Restoran? Dia juga bekerja di restoran? Lalu kenapa dia sangat kurus kalau tempat kerjanya berlimpah makanan?" -bergumam.
__ADS_1
Mario kembali menscroll layar ponsel itu, hingga menemukan pesan dari kontak bernama Tommy. Kembali Mario membuka pesan dengan lancangnya.
[Jenn, yang sabar ya ... aku tahu, kamu kesulitan. Jadi mintalah bantuan padaku kapan saja. Aku siap membantumu. Kulihat kamu sangat kurus. Jangan berlebihan diet. Kamu jelek jika terlalu kurus.]
"Bicara apa si kunyuk ini? Dia ingin sok perhatian? Dia tidak bisa dibiarkan."
Tok tok tok.
"Boss, semuanya sudah beres. Pemakaman sudah siap dilakukan."
Tommy datang melapor bahwa dirinya sudah menyelesaikan segala urusan rumah sakit termasuk pemakaman untuk ibu dari Jenni, temannya itu.
"Baiklah, ayo pergi ..."
Mario tak lupa menyeret koper milik Jenni bersamanya, membuat Tommy bertanya-tanya, apa sebenarnya hubungan antara atasannya ini dengan teman baiknya.
'Setelah dari pemakaman, aku akan menanyakan hal ini padanya'
"Pak, biarkan saya yang membawanya."
"Tidak perlu. Aku bisa membawanya."
Bahkan sekedar membawa koper Jenni saja Mario merasa tidak rela jika Tommy menyentuhnya.
'Tumben, biasanya ... tanpa perasaan dia memintaku melakukan semua pekerjaan. Mungkin saja dia sedang dirasuk malaikat baik? Tunggu! kenapa matanya memerah? Apa dia habis menangis?'
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1