Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Pesta Tuan Kim


__ADS_3

Oke, karena ini hari libur maka kita up lagi sekali. Tapi, part ini singkat gess🤭


.


.


..............


Pesta perayaan perusahaan SJ Entertainmen milik Tuan Kim.


Para tamu mulai berdatangan.


"Appa, benarkah Arsen hyung akan datang?" tanya Joon kepada sang ayah. Anak itu terlihat sangat tampan dengan balutan jass di tubuh kecilnya. Sang ayah pun membenarkan.


Beberapa hari sebelumnya, ia telah berkenalan kembali dengan Arsen melalui telepon. Benar saja, Joon sudah tidak ingat pernah bertemu sebelumnya dengan Arsen, karena saat itu ia masih berusia 2 tahun.


"Benar Joon, bukan hanya Arsen hyung, tapi ada noona (kakak perempuan), dan hyung (kakak laki-laki) lainnya. Malam ini, akan ada banyak teman." -timpal sang ibu, membuat wajah tampan anak itu kian bersemangat.


Pesta yang diadakan kali ini, Tuan Kim menyediakan sebuah ruangan tempat anak-anak dari semua kerabat akan berkumpul bersama Joon selama acara berlangsung. Ruang yang dimaksud sudah pasti difasilitasi dengan berbagai mainan untuk segala usia dan tentu saja dengan pengawalan ketat oleh beberapa bodyguard.


............

__ADS_1


"Sayang, kau terlihat sangat cantik." -Stefan menghampiri Gina yang sedang mengoles make-up pada wajahnya.


"Iya, aku memang selalu cantik sayang,"


"Tunggu, jangan terlihat lebih cantik dari istri orang lain. Aku tidak ingin banyak pria mengabaikan istri mereka karena sibuk memandangmu."


"Csssh, kau ini, rasanya telingaku akan terlepas dari tempatnya."


"Sayang, aku penasaran. Apa kau ... sekarang tidak merasa cemburu atau khawatir aku akan diambil wanita lain? Kenapa rasanya cuma aku yang mengkhawatirkanmu?"


Stefan mendekat dan membuat posisi mereka saling berhadapan. Melihat kedalam mata istrinya itu, tampaknya belakangan ini, Gina sangat santai seperti tidak menghawatirkan apapun tentang hubungan mereka. Sedangkan dirinya, Stefan sangat protektif bahkan untuk cara berpakaian istrinya pun, ia selalu ikut campur. Apa jangan-jangan perasaan Gina sudah pudar, tidak sama lagi atau bagaimana? Itu yang tiba-tiba ia pikirkan saat ini.


"Sayang, dengar! Yang aku tahu, perasaanku masih sama. Dan lagi, aku pernah bilang, tidak ingin milikku dimiliki oleh wanita lain. Kurasa kamu cukup paham. Dan lagi, aku percaya suamiku tidak akan menggoda wanita lain. Godaan dari wanita lain mungkin akan selalu datang. Tapi, jika suamiku ini tidak merespon, tidak akan terjadi perselingkuhan." -mencubit hidung Stefan.


"Tidak."


"Kenapa?"


Sempat-sempatnya membahas masalah hati. Oke, Gina pun tersenyum jahil lalu mulai menyentuh dada suaminya, memainkan jari disana. "Karena aku, sangat menggoda. Sangat menarik dan ... aku cantik," -bertingkah menggoda membuat Stefan terdiam seraya menelan kasar.


"Kurasa ... hatiku juga baik, Terlebih lagi ... aku sangat mencintai kamu. Apa kamu sanggup berpaling?" -berjinjit dan mengecup nakal bibir suaminya. "Coba saja berpaling, dan ... aku akan angkat kaki bersama Arsen meninggalkanmu." -Tersenyum lalu mengedipkan sebelah mata.

__ADS_1


"Sssh, kau semakin meresahkan. Ayo pergi" -Stefan menyeret tangan Gina keluar dari kamar. "Arsen, ayo berangkat boy!"


Arsen yang dengan setia menunggu kedua orang tianya bersiap, dengan serius menatap televisi yang sedang menyiarkan berita, pun beranjak dan menggandeng tangan mama seperti yang sang ayah lakukan.


..........


Ditempat lain.


Mario sedang duduk manis dengan setelan jas berwarna abu-abu Tua bersama Given yang terlihat sangat manis dengan memakai dress berwarna abu-abu muda. Keduanya sedang menunggu si Mommy Jenni sedang bersiap.


Srrrreeeet. Tirai pembatas terbuka.


"Ganti!" -Lagi-lagi satu kata itu membuat tirai ruang ganti kembali tertutup. "Apa perancang busana disini tidak memiliki akhlak?"


Sudah beberapa kali istrinya itu mencoba beragam dress pesta dari berbagai perancang, namun tidak satu pun sesuai menurut keinginan pria itu.


Jenni hanya menggeleng sembari menghela napas panjang. Sedang Given, sepertinya bocah itu mulai bosan. Tidak tahu apa yang ada di benak anak kecil itu, kini ia menatap wajah sang ayah dengan tatapan polosnya.


"Orang dewasa sangat membingungkan," -gumamnya pelan.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2