
Mario terlihat puas setelah Jenni muncul dengan mengenakan dress yang sangat tertutup. Pakaian dengan bahan lengkap tanpa kekurangan satu apapun seperti penampilan menggelikan sebelumnya.
"Bagus! Ini baru sama dengan seleraku." ucapnya mantap. "Ayo jalan," ajaknya lagi dan ibu - anak itu tentu saja menuruti.
Di dalam mobil.
"Given, nanti disana anak daddy ini harus jadi good girl ya, ada banyak teman disana."
"Oke Dad, Given happy akan punya teman baru, Dad."
"Iya, sayang."
"Jen, bisa aku minta sesuatu?" -menoleh ke arah Jenni yang duduk di sebelahnya.
"Apa itu?"
"Saat disana, bersikaplah seperti istri. Tuan Kim, adalah rekan bisnisku yang baru. Kami baru akan melakukan kerjasama antar perusahaan. Ku dengar ... dia adalah pria yang sangat menyayangi istrinya. Maksudku ... dia ... harus terkesan dengan hubungan kita." -Menjelaskan dengan perlahan, agar tak memyinggung perasaan Jenni.
"Oh, jadi maksudmu ... kau ingin dia menilaimu sebagai suami baik dan sayang istri?"
"Jen! Kau tidak mengerti maksudku? Yang aku maksud adalah sikapmu padaku. Kalau aku, sudah jelas aku menyayangi istri. Tapi, istriku saja yang tidak menyadarinya." -membuang pandangan ke arah lain.
Sang supir yang fokus menyetir, terlihat sangat ingin menertawai perkataan boss-nya ini. Tak menyangka, si pria tukang ngomel bisa juga berbahasa semanis itu.
"Baiklah, aku ... mengerti maksudmu." -ucap Jenni kemudian.
Mobil terhenti di depan sebuah gedung tinggi, yang merupakan hotel bintang lima yang sangat terkenal.
Ting,
Ketiga orang itu keluar dari lift.
"Silahkan Tuan Mario," -para penjaga mempersilahkan masuk.
Ternyata sudah banyak tamu yang hadir. Melihat semua pasangan tengan bergandeng mesrah, Jenni pun berinisiatif melakukan hal yang sama, menggandeng lengan Mario, tanpa perintah. Yang mana membuat pria itu auto menoleh, tak percaya.
"Kenapa? Bukankah tadi kau yang minta aku harus bersikap seperti istri? Aku menirukan mereka." -Jenni menunjuk dengan lirikan mata.
"Oh ... maaf. Terima kasih atas inisiatifmu Jen, aku ... hanya tidak sedikit terkejut.
"Halo Tuan Mario Park, anda sudah datang?" -sapa Tuan Kim yang datang menyapa Mario terlebih dahulu bersama sang istri, sebagai Tuan pemilk acara yang baik.
"Hai, Tuan Kim, suatu kehormatan bisa menghadiri undangan anda." -memberi hormat. "Perkebalkan, mereka ... istri dan anak saya."
"Hai uncle, hai ontie! Saya Given Park" -sapa Given, dengan santun. Jenni pun memperkenalkan dirinya dengan sikap ramah.
"Waaah, si cantik ini sangat pintar!" puji Nyonya Kim, menyentuh pipi Given yang sedikit gembul menggemaskan.
"Eomma! Appa!" -Joon menghampiri kedua orang tuanya.
"Joon, sini sayang," -panggil Nyonya Kim pada putranya.
"Siapa ini?" -tanya Joon pada kedua orangtuany, saat melihat Given dihadapannya.
"Joon, perkenalkan dirimu kepada mereka." -perintah sang ayah tanpa menjawab pertanyaan putranya.
"Halo, saya Joon, berumur 3.11 tahun, tinggiku 97 cm, berat badan 18 kg dengan IQ 130." -lalu memberi salam hormat.
__ADS_1
Mario dan Jenni perlahan saling menatap heran, tak menyangka anak laki-laki ini bisa lebih menggemaskan dari pada Given, putri mereka. Dengan gamblangnya anak itu memperkenalkan dirinya sedetile mungkin. Ia bahkan mengetahui tinggi badannya saat ini serta yang lebih ngejutkan lagi, dengan penuh percaya diri ia menyebutkan keberadaan IQ yang ia miliki yang berada di level Superior. Hampir Jenius.
"Ehmmm! Joon, kamu sangat pintar!" -Jenni mengacak pelan rambut anak laki-laki itu.
"Joon memang begitu. Dia selalu memantau perkembangannya sendiri dengan cara menghubungi dokter pribadinya" -terang Nyonya Kim, tersenyum.
Tiba - tiba ...
"Kakaaaak!" -teriak Given, seperti sedang memanggil seseorang.
"Mom, Dad, itu kakak Arsen."- Menunjuk anak laki-laki itu, membuat kedua orang tuanya menoleh.
Tidak perlu aba-aba, Given segera berlari ke arah Arsen dengan perasaan senang.
Grreeep. Memeluk bocah tampan itu. "Kakak, I miss you!" -dengan pelukan semakin erat. Sementara Arsen, hanya diam dengan isi kepala penuh tanda tanya. Ia pun menengadah kearah papa dan mama, seolah memohon pertolongan agar menghentikan aksi memalukan adik perempuan heboh ini. Sayangnya, papa mama tidak merespon tatapannya, keduanya hanya menatap lurus kearah orang tua Given.
"Sayang, jadi ... mereka juga ada disini?" -Gina.
"Aku heran, kenapa Mario selalu ada dimanapun." -Stefan.
"Hai! Kalian baru tiba?" -Tuan Kim mengajak istri beserta Mario dan tentu saja Jenni juga untuk menghampiri Stefan. Tak lupa juga si bocah dengan kecerdasan tinggi itu mengikuti langkah kaki kedua orang tuanya.
Dengan melipat kedua tangan di dada, Joon menatap aksi Given yang masih dengan manjanya memeluk Arsen hyung.
"Hei! Sampai kapan kamu akan memeluk hyung-ku?"
"Hyung-mu?" Given melepas pelukannya. Dia lebih dulu menjadi Oppa-ku." -ucapnya lantang. Semenyara para orang tua, hanya diam menyimak.
"Sejak kapan dia jadi oppa kamu?" tanya Joon lagi, dengan wajah santai, sedikit terlihat cool.
"Sejak aku masih di Indonesia." jawab Given, kesal.
"Sejak bulan lalu Joon." Jawab Arsen. "Anak ini tidak mengerti hitungan hari." -sambungnya lagi, meledek Given.
"Aku sudah mengenal Arsen hyung selama 379 hari." -lagi, Joon berucap santai.
"Yaa?" Given terlihat menatap 10 jari tangannya, menggerakkan jari-jarinya itu seperti sedang menghitung sesuatu.
"Mario, Stefan, melihat anak-anak saling mengenal, aku rasa ... kalian berdua juga saling mengenal dengan baik. Wah... ini kebetulan yang menyenangkan." ujar Tuan Kim memecah keheningan dari keseriusan memperhatikan interaksi anak-anak mereka.
"Oh, tentu saja Kim, kami saling memgenal dengan sangat baik." -jawab Stefan, berbohong.
'Baik apanya? Kau bahkan pernah hampir membunuhku.' batin Mario, mengingat masa lalu saat reuni.
"Joon! Joon!" -dua anak laki-laki datang menyapa Joon dengan hebohnya. Keduanya adalah teman Joon yangbdatqng bersama kedua orang tua mereka.
"Oh, Tuan Min, Tuan Jung, selamat datang!" -sapa Tuan Kim menyambut kedatangan koleganya.
Dunia benar-benar sempit. Dua sahabat Mario itu ternyata adalah orang terdekat dari seorang Tuan Kim.
.
"Jen, bagaimana kabarmu?" -tanya Gina saat mereka bersama para wanita lainnya, terpisah dari para suami. Anak-anak juga sedang asik bermain bersama Joon.
"Aku, sehat. Given juga semakin ceria setiap hari."
"Aku senang, kamu juga terlihat lebih bahagia sekarang, Jenn, selamat ya, sudah kembali bersama dengan cinta pertamamu, hiduplah bahagia. Aku percaya, dari caranya menatapmu, ku pikir ... Mario sudah sangat sadar hatinya berada dimana. Lihatlah disana ... dia terus memandang kesini." -melirik Mario yang ada di kejauhan.
__ADS_1
Jenni pun menoleh ke arah dimana pria itu berada dan mata keduanya pun bertemu pandang, rupanya Mario kebetulan melihat kearahnya lagi, untuk kesekian kalinya. Uuuh, Jenni merasa ada sesuatu yang sedang mencubit jantungnya. Entah apa yang dirasakan Mario, sepertinya pria itu lupa untuk bernapas.
"Cieh, Jenn ... kenapa kalian berdua bertingkah seperti orang yang baru saling jatuh cinta?" -Gina menggoda Jenni dengan menyentil lengan wanita itu.
"Kau ini, kau yang memintaku melihat kesana."
.
.
Beberapa jam bersama di pesta, tiba - tiba ... "Mommy ...! Mommy! Daddy!" -Given keluar dari arena bermain berlari ke arah ibunya, disusul Arsen dan Joon.
"Given, kenapa menangis?"
"Mom, Given ngompol! Kakak marah!" -Lapornya, seraya menunjuk Arsen.
Joon yang berada di dekat Arsen pun menggeleng malas. "Hei! Noona! (panggilan untuk kakak perempuan) Nuna jangan menyalahkan hyung." protesnya.
"Arsen, kamu marahi Given lagi?" -tanya Gina.
"Dia jorok lagi Maah, kenapa selalu ngompol?" -sahut Arsen yang selalu terbiasa hidup bersih.
"Tak apa Gina, Given mungkin lupa bahwa sedang tidak mengenakan pampers."
Karena keadaan darurat itu, terpaksa Mario membawa anak beserta istrinya untuk pamit lebih dulu.
Di dalam lift.
"Dad, Mom, I'm so sorry!" -ucap Given menengadah menatap wajah kedua orangtuanya, merasa bersalah karena mengompol dan mungkin saja mempermalukan keduanya.
"No problem, sayang, daddy tidak marah." -jawab Mario mengacak rambut putrinya yang saat ini berdiri ditengah mereka.
"Mommy juga tidak marah sayang." -sambung Jenni.
Jleb. Tiba-tiba lampu lift tersebut padam dan seiring dengan itu, lift pun terhenti. Tentu saja Given auto panik dan berteriak ketakutan, karena sangatlah gelap.
Mario pun tak kalah panik. "Ada orang disana? Tolong kami!" -menggedor percuma pintu lift.
"Daddy, dimana tangan daddy, Given takuut! Gendong Dad,"
setelah meraih tangan putrinya, Mario pun menggendong anak itu.
Jenni dengan sigap mencari ponselnya untuk membuat penerangan. Sedang Mario, ia pun berpikir untuk menelpon Kim meminta bantuan.
"Ah, sial. Tidak asa jaringan" umpatnya.
"Mario, apa yang harus kita lakukan?" -Jenni pun berusaha memukul-mukul pintu lift, berharap ada yang mendengar.
"Sudah! Tenang ya, jangan panik."
Menyala, padam, nyala, padam. Penerangan mulai bermain-main, membangkitkan rasa takut seorang Jenni.
Menyadari wajah ketakutan istrinya, Mario pun mendekat. "Sini," menarik pelan kepala istrinya dan membenamkan wajah wanita itu ke dada bidang miliknya. "Bersembunyilah. Tutup matamu. Jangan takut, disini ada aku."
"Mario, apa disini ada hantu? Aku takut." -memeluk pinggang Mario.
Degh.
__ADS_1
'Ya, dia memelukku dengan kesadaran penuh.'