
"Gina, aku serius. Jangan menganggapku bercanda. Aku sudah lama melihatmu. Seperti yang kau lakukan, melihat Stefan dari jauh. Berhentilah menginginkan pria itu. Disini ada aku."
'Sial. Kenapa bisa ada orang asing yang tahu aku menggilai kak Stefan?'
"Aku tidak menganggap kamu bercanda. Maaf, kita tidak saling kenal. Aku rasa kamu sudah mulai mabuk. Lepaskan tanganku." Gina menarik tangannya kasar.
Grep.
Rio tidak habis akal. Kini ia menghimpit Gina ke dinding, membuat wanita itu tidak bisa bergerak.
"Lepas! Lepas! Jangan macam-macam denganku." bentak Gina.
"Sayang, sadarlah. Stefan yang kau cintai itu bahkan tidak peduli saat kau berlama-lama disini. Seharusnya, kau cukup mengerti. Jika dia peduli, dia akan menemanimu atau menyusulmu." Rio menyeringai.
Gina berusaha membebaskan diri. Ia bahkan tak takut menancapkan tatapan tajamnya pada pria itu.
Semakin Gina meronta, semakin pula seringai jahat terlihat di wajah Rio.
Akan tetapi, kesenangannya tak berlangsung lama tatkala, tiba-tiba ada tangan seseorang menariknya kasar.
"Bajingan!"
BUGH
Sebuah kepalan tangan menghantam wajah Rio.
"Cukup. Cukup sekali memukulnya." Gina menarik tubuh Stefan, takut jika pria itu akan melakukan pemukulan lagi. "Dia mabuk. Jangan memukulnya." Gina reflek memeluk Stefan, untuk menahannya.
"Dengar baik-baik. Jangan pernah lagi menyentuh milikku, atau kau akan menyesalinya." tegas Stefan, mengancam.
Sangat jelas aura permusuhan terpancar dari wajah tampan pria itu.
Rio hanya terbaring pasrah. Mau membalas Stefan rasanya juga percuma, mengingat dirinya sendiri sedang dibawah kontrol minuman beralkohol. 'Sialan. Kau akan mendapat balasanku'
Stefan lalu berbalik, Gina pun melepas pelukannya.
"Gina ... kamu tidak apa-apa?" Stefan tampak sangat khawatir. Ia bahkan memeriksa tangan, leher dan bagian tubuh Gina lainnya. "Apa ada yang sakit?"
Gina menggeleng, membalas tatapan Stefan.
"Ayo, kita pergi." Stefan meraih tangan Gina.
Keduanya pun pergi meninggalkan Rio yang hanya bisa menatap kepergian mereka. "Gina, kenapa kau hanya melihat Stefan? Kenapa tidak melihatku, hem?" Rio bergumam.
Stefan pun pergi dari tempat acara itu setelah berpamitan pada beberapa teman.
Tiba di samping mobil.
Tiba-tiba, Stefan kembali memeluk Gina. Tak ada yang dapat Gina lakukan, ia hanya diam menikmati. 'Akhir-akhir ini, dia sering memelukku. Apa dia menyayangi aku?'
"Gin, lain kali jangan sampai kenapa-kenapa lagi. Aku sangat khawatir."
"Merasa khawatir padaku?" tanya Gina, polos.
Stefan melepas pelan pelukannya, lalu memberi tatapan intens pada Gina. "Tentu saja. Kau adalah ibu-nya anakku." semakin intens, mendekatkan wajahnya.
Gina pun membalas tatapan itu. 'Kenapa wajahnya semakin dekat? Apa dia akan menciumku?'
"Gina,"
Wajah keduanya sudah sangat dekat.
"Hmmm?" Perasaan Gina sudah menggebu.
__ADS_1
"Apa perasaanmu yang dulu sudah kembali?"
'Kau adalah ibu dari anakku. Kau harus mencintaiku lagi, sebesar kau mencintai Arsen.'
"Hah? Aku rasa ... belum." jawab Gina, terbatah.
Ceklek.
"Masuklah." Stefan menuju pintu kemudi setelah meminta calon istrinya itu masuk ke mobil.
'Eh? Jadi adegan itu tidak tuntas?'
Gina pun masuk ke mobil.
.....
Stefan dan Gina tiba di kediamannya dalam keadaan lampu-lampu telah dimatikan.
"Jadi semua orang sudah tidur."
"Aku rasa begitu Fan,"
"Mama ... Papaa!"
"Owh? Arsen? Sedang apa sayang?" Gina terkejut anaknya itu sedang duduk sendirian di ruang tengah. Stefan pun demikian.
"Arsen tunggu Papa Mama," jelasnya, yang mana membuat Gina dan Stefan saling curi pandang dalam kegelapan.
"Oke, boy. Karena papa dan mama sudah pulang, maka mari kita ke kamar. Stefan pun menggendong putranya itu.
"Mah, apa Mama sayang Arsen?" tanya anak itu saat sudah berbaring diatas tempat tidurnya.
"Tentu saja sayang." tersenyum hangat kearah putranya.
"Mana sayangnya?" Arsen membalas senyuman.
Mmmuah mmuaah. Gina memberi ciuman singkat dikedua pipi anak itu. "I Love you sayang,"
"I love you Mah," dengan senyum semkin mengembang.
'Adegan romantis ini sungguh membuatku cemburu' batin Stefan, yang hanya bisa menyaksikan dan tidak berani ikut campur.
"Mah, apa Mama sayang Papa?"
degh.
'Pertanyaan apa ini?' batin Gina berteriak.
Akhirnya, ia pun menjawab "tentu saja sayang" setelah melirik Stefan sekilas.
Sementara Stefan, pria itu malah seperti sedang menahan senyuman 'Ini seperti pertanyaan jebakan' batinnya.
"Ya udah, mana sayangnya?"
Gina auto melebarkan matanya, merasa dirinya masuk dalam jebakan seorang anak kecil. "Kamu usil Arsen,"
"Loh, kan kalau sayang harus kiss dulu Maah,"
"Arsen, kiss-nya Mama Papa berbeda boy." celetuk Stefan, tanpa beban, sontak membuat Gina menatapnya tajam.
"Berbeda? Gimana itu Pah?"
"Tunggu ya, Arsen masih usia 5 tahun. Tunggu 15 tahun lagi, pasti sudah tau kissnya orang dewasa.
__ADS_1
Wanita itu menghadap Stefan yang memang sedari tadi berada di dekatnya.
"Bicara apa kamu sama anak? Kamu ajari anakku berbuat mesum heh?" ketusnya setengah berbisik, tak lupa tatapan tajamnya seakan ingin mengiris.
"Hei ... aku mengatakan yang sebenarnya Gina, itu tidak salah. Dia juga akan mengerti nantinya."
Perdebatan dengan nada pelan itu pun berlangsung beberapa menit. Alhasil, membuat anak tampan itu ketiduran, kelelahan menunggu tanda sayang yang tadi ia tuntut.
"Eh? Dia tertidur," Gina lalu membenarkan selimut di tubuh putranya, kemudian pergi dari sana.
"Gina, tunggu." Stefan pun menyusul.
"Kenapa?"
"Maaf. Aku tadi hanya bercanda supaya anak itu diam dan berhenti menuntut hal gila itu. Aku membantumu keluar dari rasa panikmu. Apa itu salah?"
"Begitukah? Baiklah. Perdebatan selesai." ujar Gina, acuh.
"Gin, tanganku sedikit bengkak karena meninju wajah si brengsek tadi."
"Benarkah? Lalu?"
"Lalu? Kau tidak merasa bersalah jika mengabaikannya? Setidaknya kau harus berterima kasih aku telah menolongmu."
Beberapa saat, Gina menatap tangan yang dimaksud, sembari berpikir. 'Apa itu benar bengkak? Apa sakit? Atau ... apa dia ingin terus didekatku?'
"Kau kelamaan berpikir Gina, sudahlah. Aku bisa mengurusnya sendiri" Stefan berbalik lalu menghilang dibalik pintu kamar miliknya.
"Eh? Dia ngambek? Ah, air hangat, Obat pereda rasa sakit, salep." Gina lalu berlari mencari benda yang ia perlukan untuk memberi pertolongan pertama walaupun sudah sangat terlambat.
Tok tok tok
Beberapa kali mengetuk, barulah pria itu membuka pintu. "Kenapa?" tanya-nya setelah memunculkan kepalanya dari celah pintu.
"Obat" Gina memperlihatkan apa yang ia bawa, disertai dengan senyuman yang bikin adem.
"Masuk."
Sesuai perintah, Gina pun masuk. Setelah meletakkan air hangat beserta obat diatas nakas, Gina melepaskan jass mik Stefan yang memang melekat ditubuhnya selama beberapa jam terakhir ini.
"Hei! Apa maksudmu melepas itu?"
"Yah? ini kan milikmu? Aku hanya mengembalikannya."
"Bukan. Maksudku adalah ... keindahan tubuhmu terekspose."
'Waah, gila. Apa yang aku katakan?'
"Jangan berlebihan. Aku tidak akan melepas semuanya. Lihat dirimu. Kau hanya mengenakan handuk. Tubuhmu yang lebih terekspose."
Stefan lalu mengikuti arah pandang Gina, meyoroti tubuhnya. 'Benar juga katanya'
Kini pria itu mengenakan pakaian yang nyaman untuk tidur.
"Terima kasih ya, tadi sudah menolongku." ucap Gina, sembari mengoleskan salep pada tangan Stefan.
Stefan tak membalas ucapan Gina. Ia malah asik menikmati objek pandangan matanya, yaitu wajah Gina.
"Gin, bolehkah aku ... meminta itu?"
"Yah? Itu apa?"
.
__ADS_1
.
Lanjut👇👇