
"Stefan benar-benar mengibarkan bendera perang" Seseorang sedang meniup perlahan asap rokok yang keluar dari hidung dan mulutnya. Siapa lagi orang itu kalau bukan Orland Mario yang dikenal dengan nama Rio.
"Apa kau pikir aku tidak bisa mengambilnya meskipun dia telah menjadi istrimu?" seringai jahat yang diakhiri dengan tawa nyaring memenuhi seluruh ruangan gelap tempatnya berada. Saat ini, ia telah menatap layar televisi yang memberitakan tentang pernikahan Stefan dan Gina, wanita cantik yang sangat ia cintai.
"Bangsat" gumamnya, kembali mengeraskan rahang, lalu mematikan televisi. Rasanya ia sangat sakit hati membayangkan Gina pujaannya itu akan menghabiskan malam dengan Stefan.
"Aku tahu kau hanya akan menyia-nyiakan Gina. Aku tahu kau hanya bermain-main dengannya Stefan. Cinta? Kau tidak memiliki perasaan itu untuk Gina. Aku sangat tahu itu."
Rio menebak bahwa kedekatan Gina dan Stefan tidaklah seperti pasangan normal lainnya, yang menikah atas dasar cinta sama cinta. "Kita akan segera lihat Gina, apa kau bahkan bisa mengadu pada Stefan saat kau dalam masalah? Aku tidak yakin." gumamnya lagi disertai seringai iblisnya.
Ia pun menelpon seseorang.
(Iya Tuan), sahut orang itu.
(Laksanakan rencana kita). Perintah Rio, santai.
Seolah akan mendapatkan sebuah kemenangan, kini ia tersenyum.
\=\=\=\=
"Nio, mama merasa, mama tidak pantas berada di temoat ini.'
"Ma ... Mama adalah ibunya kakal Gina. Mama harus ingat itu."
"Tidak Nio, mama bukan ibu yang baik. mama hanya seorang ibu tiri jahat."
"Ma ... aku tidak tahu bagaimana perasaan mama terhadap kak Gina, tapi... aku ingin mama belajar menyayangi dia sebagai anak mama." Nio memohon, mampu membuat ibunya itu menangis sedih.
Memang benar, selama ini, Gina tidak oernah mendapatkan perhatian yang tilus darinya sebagai seorang ibu pengganti. Sampai saat ini pun wanita itu tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.
...
Dihadapan seluruh yang menghadiri acara sakral itu, Ayah dari Gina mengambil waktu sejenank untuk mengatakan beberapa hal.
Setelah mengumpulkan segenap kemampuannya, pria yang tak lagi muda itu pun mulai mengatakan seauatu.
__ADS_1
"Stefan, saya bukanlah ayah yang baik untuk Gina. Tapi, saya berharap kamu bisa menjadi suami yang baik. Tolong cintai anak saya."
Farrel berkata-kata dengan air matanya. Sesekali pria itu menyapu bawah matanya dengan tisu.
Kalimat itu sukses membuat orang-orang bertanya apa maksud Farrel mengatakan bahwa dirinya bukan ayah yang baik.
"Cinta memang terkadang datang terlambat. Tapi berusahalah untuk mencintai putri saya sebagai wanitamu satu-satunya. Jika pun cinta tidak bisa hadir, kembalikan dia padaku." Farrel benar-benar terisak didepan semua orang.
"Gina, terima kasih telah menjadi putri papa. Sayang, meskipun kamu sudah menjadi istri saat ini, kamu tetap putriku. Jika suamimu mengecewakanmu, mengadulah ke rumah papa."
Semua orang ikut terhanyut dalam suasana haru yang diciptakan seorang Farrel yang terlihat sangat mencintai putrinya.
Acara sakral itu pun berakhir.
....
Malam Harinya.
"Mama ... Papa ..." Arsen, si bocah tampan itu sedang menangis dipojokan kamar ayahnya memanggil-manggil papa mama yang tidak ia temui keberadaannya.
..
Di tempat lain.
Saat ini, tentu saja Stefan dan Gina akan menghabiskan malam pertama setelah mereka sah sebagai suami istri.
"Gin, kau kenapa? Apa ada masalah?" Stefan bertanya karena Gina terlihat seperti sedang berpikir keras.
"Begini ... apa Arsen tidak mencari kita?"
'Waah, sulit dipercaya. Dia malah memikirkan Arsen saat ini?'
"Kalau begitu, mari kita menelponnya." Stefan pun mengambil ponsel dan menghubungi sang ibu.
(Halo Fan, ada apa?) sahut mama.
__ADS_1
(Arsen, apa dia sudah tidur, Ma?)
(Papa ... papa ... paapaaa) terdengarlah tangisan Arsen.
Tak ada pilihan lain, nyonya Yoris hanya bisa memberi ponselnya pada cucunya itu agar bisa berbicara dengan papa mama yang sejak tadi anak itu tangisi.
(Papa ... Arsen merindukan Papa dan Mama) rengek anak itu, yang mana membuat Gina dan Stefan tidak tega.
Setelah menenangkan Arsen, dan berjanji untuk pulang sekarang juga, kini pasangan itu bersiap untuk pergi meninggalkan kamar malam pertamanya itu.
"Beginilah karena kita sudah cetak anak duluan sebelum menikah," gerutu Stefan, sembari melirik Gina.
Gina hanya menampilkan smirk senyum diwajahnya, lalu menggeleng. 'Apa dia pikir kami akan segera melakukannya malam ini? Dia sangat terang-terangan' batinnya.
Tiba di kediaman Yoris.
"Mama .... Papa ...," anak itu berlari menghampiri mama papanya dan memeluk keduanya.
"Jagoan, kenapa semalam ini belum tidur?" tanya Stefan, sembari mencubit gemes hidung anak itu.
"Kan Arsen pengen tidur sama Mama Papa ...." jawab anak itu, polos.
Mama hanya menatap anak dan menantunya itu dengan wajah bersalah dan hanya disenyumi oleh keduanya.
Ayah ibu dan anak itu pun kini masuk ke kamar Stefan yang juga sekarang menjadi kamar Gina.
'Benarkah mulai malam ini aku adalah pemilik kamar ini bersama dia? Rasanya sulit dipercaya'
Dengan gembiranya Arsen naik ke tempat tidur dan meminta kedua orangtuanya itu untuk berbaring dengannya.
'Gawat, bocah ini malah memisahkan aku dari ibunya. Bagaimana kami bisa segera akrab ditempat tidur jika Arsen akan selalu menjadi pembatas?' Stefan menggerutu dalam hati.
Arsen benar-benar tidak mengerti. Bocah itu hanya memikirkan perasaan bahagianya sendiri karena kini ia benar-benar punya mama dan papa yang tak terpisahkan seperti yang dikatakan nenek dan kakeknya.
'Aku dan Arsen tidak mungkin membuat kehebohan dengan memperebutkan Gina kan? Itu sangat konyol.'
__ADS_1
........