
Setelah menepis pelukan Gina, Stefan membuka pakaiannya tanpa sungkan di depan Gina, setelah itu mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya lalu keluar dari kamar mandi. Sebelum benar-benar meninggalkan Gina yang kini hanya mematung, Stefan memberitahukan bahwa dirinya akan tidur di kamar Arsen. Pria itu pun menghilang di balik pintu menuju ruang ganti, mengenakan pakaian bersih tanpa mandi terlebih dahulu.
'Kita bahkan belum tidur berdua sejak resmi menjadi suami istri. Sekarang kamu malah menghindariku, ya sudah, nikmati saja rasa marahmu.' Gina lalu lanjut untuk mandi.
Beralih ke kamar Arsen.
Stefan memasuki kamar putranya dan berbaring di sebelah anak itu yang sedang tertidur pulas, memberinya pelukan. Arsen benar-benar menjadi obat yang mampu memulihkan mood ayahnya yang sedang kacau akibat ulah ibu dari anak itu.
"Boy, papa sedang kesal. Tadi papa memarahi mama karena mama kamu nakal. Itu tidak akan membuat mama meninggalkan kita kan? Papa hanya memarahinya sedikit." Adunya pada anak itu sambil melirik tangannya yang terluka karena hantamannya pada tembok barusan. "Tangan ini tak seberapa sakit dari pada yang hatiku rasakan. Gina ... Gina ... kau benar-benar membuatku kesal kali ini."
Sementara di kediaman keluarga Orland Mario.
Sang ibu menyeret putranya yang biasanya akan tinggal di apartemen dan sangat jarang pulang ke kediaman utama keluarga. Tentu saja diikuti oleh cucu perempuan dan mantan kekasih putranya, yaitu Jeni.
Setelah meminta Jeni dan anaknya masuk ke kamar mereka yang di antar oleh pelayan, sang mama membawa Rio ke kamar milik putranya itu untuk bicara.
"Dengarkan mama baik-baik Mario. Suka atau tidak suka, nikahi Jenni secepatnya."
"Ma ... jangan gila. Aku tidak mencintai dia."
"Brengsek kamu, ya. Kenapa dia bisa hamil anak kamu kalau kamu tidak menginginkan dia?"
"Dia yang menginginkan aku Mah. Dia yang bodoh."
"Tidak ada alasan. Nikahi ibu dari putrimu."
"Ambil saja anak itu, buang ibunya. Yang mama inginkan adalah cucu kan, lagi pula dia hanya wanita miskin. Lempar saja selembar cek ke wajah. Maka dia pasti akan pergi."
"Dasar sinting kamu Mario, ingat ini baik-baik. Jika kamu menolak, posisimu di perusahaan, terancam." sang ibu pun pergi setelah mencaci dan memberi ultimatum kapada anak kepala batu yang disangkanya sebagai pria teladan itu.
__ADS_1
Setelah kepergian mama dari kamar Mario, pria itu kini membawa kegeraman hatinya menemui Jenni.
Ceklek,
Pintu dibuka dengan tiba-tiba tanpa di ketuk, membuat Jenni dan putrinya yang tengah asik bercerita sebelum tertidur itu pun terkejut.
"Daddy" sapa anak kecil itu dan tanpa sungkan berlari ke arah Mario dan sudah pasti memeluknya erat. Wajah gadis kecil itu dihiasi oleh senyuman penuh, yang mana membuat Mario tidak tega mengabaikannya.
"Sayang, bisa daddy pinjam mommy sebentar?" sembari nyegir kuda melirik Jenni.
'Tidak. Aku pasti sedang terancam.'
"Boleh dad," jawab anak itu polos, tanpa mengerti ancaman yang sedang mengintai sang ibu.
"Ikut denganku. Kita harus bicara."
Dengan kasar pria itu mendorong tubuh Jenni ke atas kasur. Bukan untuk untuk mengulangi hal romantis yang pernah mereka lakukan 5 tahun lalu, melainkan untuk memberi wanita itu pelajaran karena telah menipu dirinya.
"Jeni, kenapa kau berani menipuku? Aku memintamu menggugurkannya waktu itu, tapi kau ... aaarrrgghhh." Rio mengusap kasar wajahnya sendiri. Pria itu lalu berdiri dan pergi membuka sebuah laci.
"Ambil ini dan pergilah. Tinggalkan anak itu untuk menjadi hiburan orangtuaku." Titah Rio setelah melayangkan selembar cek senilai 500juta ke hadapan Jenni.
'Dulu kau memberiku 100 juta untuk menggugurkannya. Sekarang kau memberiku 500 juta untuk meninggalkannya?'
"Aku mohon, aku mohon jangan pisahkan aku dari putriku. Aku akan membawanya pergi kemanapun. Kami berdua bisa pergi sekarang juga. Tapi tolong jangan mengambilnya dariku. Aku mohon." Dengan seluruh tubuhnya yang bergetar, Jenni tersungkur di hadapan Rio, memohon belas kasihan.
"Dasar wanita cengeng. Apa kau pikir aku akan kasihan melihatmu? Jangan harap bisa membawanya pergi setelah kau berani membawanya kesini."
"Setelah hasil DNA itu keluar dan membuktikan dia adalah putriku, ibuku tidak akan membiarkan anak itu pergi. Dan kau, kau hanya akan terjebak sebagai seorang pengasuh untuk anak itu. Karena aku, akan menikahi seseorang yang aku cintai dan orang itu sudah pasti bukan dirimu.
__ADS_1
"Tidak! Tidak! Ku mohon. Orang yang harus kamu nikahi adalah aku. Bukan wanita lain."
"Ya? Kau mulai berkhayal sekarang? Ingat, wanita miskin sepertimu tidak pantas untukku. Kau terlalu berada di bawah. Aku tidak bisa membawamu naik ketempat di mana levelku berada Jeni." dengan nada menghina diiringi seringai iblis-nya, Rio merendahkan Jeni serendah-rendahnya.
Jenni menyudahi simpuhannya di kaki Mario yang tak berperasaan itu. Setelah mendengar kalimat penghinaan dari pria itu, Jenni bertekad untuk mencari cara agar bisa terlepas dari semua ini.
"Aku memang miskin. Tapi kau tidak pantas menghinaku seperti ini. Tenang saja, terlepas anak itu putrimu atau bukan, aku akan tetap membawanya pergi. Selamat malam."
........
Kembali ke kediaman Yoris.
Malam ini langit tampak indah berseri dengan kelap kelip bintang yang menghiasinya. Namun, berbeda dengan ati dan pikiran Gina yang sangat gelisah. Wanita itu bahkan tidak bisa memejamkan mata.
Kini ia melangkah menuju kamar putranya dimana suaminya juga berada saat ini, wanita itu baru ingat bahwa tangan suaminya pasti terluka akibat menghantam tembok beberapa jam lalu. Ia pun membawa kotak P3K bersamanya.
"Kalian yang memaksaku masuk ke keluarga ini, tapi kalian berdua mengabaikanku sekarang? Tidak sopan." gumam Gina, tatkala meliha suami dan anaknya itu tidur nyenyak membiarkan Gina yang resah hati seorang diri.
Ia lalu membenarkan letak selimut keduanya dan duduk di sisi tempat tidur dan mengobati luka itu serta membalutnya dengan perban. Tak lupa ia tulis kata "I'm sorry" pada perban putih yang membalut luka suaminya itu.
Lama ia memegang tangan pria itu dan pada akhirnya memberi tangan itu ciuman singkat.
"Papa Arsen, aku ... merindukanmu."
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Gina, jan lebay.
🥰🥰🥰