Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Tegas


__ADS_3

HAI... TERIMA KASIH MASIH MENUNGGU KISAH INI. MAAF KARENA TIDAK UPDATE BEBERAPA HARI, DIKARENAKAN OTHOR PUNYA BANYAAAAAK SEKALI KESIBUKAN.


Othor usahakan akan double up untuk hari ini. Terima kasih🙏


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


“Gina, ayo pulang bersama kami, nak.” Sang ibu tiri yang sedari awal tidak tulus terhadap Gina itu, menatap gina dengan tatapan memohon.


Melihat itu, Gina merasa sangat muak, sehingga menyunggingkan senyum kecil disudut bibir kanannya. “Aku memang akan pergi dari sini, tapi bukan untuk ke rumah kalian.” Ucapnya, datar.


“Nak, maafkan Papa yang berdosa ini sayang,” Farrel kembali mendekati Gina.


“Maaf? Aku sudah lama memaafkan kalian. Aku juga berharap kalian juga memaafkanku yang telah mencoreng nama baik kalian.


Veni ikut menhampiri Gina. “Sayang, ayo kita pulang dan ... hidup bahagia, perbaiki hubungan kita sebelum kamu benar-benar pergi untuk melanjutkan hidup dengan keluarga suami-mu.”


“Tidak perlu repot-repot peduli padaku. Aku bukan anak kalian lagi. begitukan, yang kalian bilang padaku lebih dari 6 tahun lalu? Ah ... ternyata sudah sangat lama, tapi aku masih mengingatnya dengan sangat jelas.”


“Sayang, Gina ... tolong beri papa kesempatan.” Farel terus memohon, membuat Gina semakin merasa muak.


“Csssshhh. Jangan berlebihan. Aku masuk ke keluarga ini, karena demi Arsen.” Ucapnya lagi, yang mana membuat kedua alis Stefan mengerut, keberatan. “Kalian berdua jangan berpikir hubunganku dengan keluarga ini akan membawa keuntungan untuk kalian. Cukup pedulikan Nio saja, seperti selama ini. Hargai sedikit penderitaanku.”


“Aku, memang pernah menunggu dan menunggu mungkin saja kalian akan mencariku dan membawaku pulang, saat aku sedang mengandung putraku ini. Betapa takutnya aku, saat akan melahirkan dan tidak didampingi oleh keluargaku sendiri, hanya ada orang lain yang merawatku. Tapi apa? Kalian sama sekali tidak menghawatirkanku. Aku bahkan beberapa kali ingin mencoba mengakhiri hidupku, agar mama menjemputku dan membawaku bersamanya. Aaaaa, aku jadi sedih memikirkannya,” Gina tersenyum pahit.


Nyonya dan Tuan Yoris terlihat beberapa kali menarik napas dalam. Sedangakan kedua orang tua Gina itu, seperti tak berdaya, hanya mempu menjadi pendengar. Stefan? Ingin rasanya pria itu memeluk Gina yang terlihat mulai kacau. Tapi, entahlah, kenapa pria itu menahan tindakannya.


“Oh, satu lagi. Katakan kepada keponakan kalian itu, siapa namanya? Helena ya. Bilang padanya untuk berusahalah lebih giat untuk bisa memiliki kekasihnya lagi. Karena kalau tidak, aku akan benar-benar mengambilnya. Katakan, jika sampai aku menikahi kekasihnya, jangan harap bisa mengambilnya lagi.” diujung kalimat panjangnya, Gina melirik Stefan.


Ayah dari Arsen itu, kini menatap Gina dengan tatapan penuh makna.


‘Calon menantuku sangat keren’ batin Ny. Yoris.


‘Mama-nya Arsen ternyata seorang yang tegas’ batin Tn. Yoris pula.


Kedua orangtua Stefan itu menatap Gina dengan perasaan bangga.


Setelah mengatakan yang ingin ia katakan, Gina melanjutkan langkahnya.


“Maaf, saya permisi.” Menggandeng tangan Arsen.


‘Aku bahkan tidak diperkenalkan dengan cucuku,’ Papa Farrel menatap kepergian Gina.


‘Anak ini sudah tidak penurut lagi seperti dulu’ mama Veni mengelus punggung belakang suaminya yang terlihat sangat sedih.


DI DALAM MOBIL


Tidak ada yang mengatakan sepatah katapun. Termasuk si bocah Arsen, anak itu juga ikut diam-diaman seperti kedua orangtuanya.

__ADS_1


Stefan melirik Gina dari ekor matanya dan melihat wajah Gina yang tampak sangat tidak bersemangat.


‘Sepertinya dia sedih.’


Gina kini menutup matanya. ‘Apa yang kurasakan ini?apa aku merasa sedih dan bersalah kepada orangtuaku setelah mengatakan hal tadi? '


Stefan menghentikan mobil di jalan sepi. “Hei ... kamu kenapa Gin?”


Gina hanya menjawab dengan menggeleng dengan kepalanya yang masih tertunduk.


“Lihat aku, Gin.” Dengan lembut mengangkat wajah Gina.


Gina pun mengangkat wajahnya, pelan. Stefan sempat tercekat beberapa saat, karena begitu Gina membalas tatapannya, cairan bening yang sedari mungkin saja ia tahan, keluar begitu saja, membuat aliran sampai membasahi pipi mulus wanita itu.


Stefan mengusap airmata nakal itu dengan lembut. “maaf, harus melakukan ini.” Stefan memeluk Gina. “Menangislah! Menangislah!”


Merekapu menghabiskan puluhan menit dalam posisi itu. dengan kerelaan penuh, Stefan membiarkan Gina menangis sesegukan didalam dekapan nya. Beruntung putra mereka sedang ketiduran jadi tidak menyaksikan hal itu.


Setelah puas meratapi kesedihannya, merekapun melanjutkan perjalanan.


TIBA DI KONTRAKAN YANG DIMAKSUD.


‘Dasar keras kepala’ Stefan membatin, kesal setelah melihat penampakan rumah yang akan ditempati oleh Gina. “Gin, kamu yakin akan tinggal disini?”


“Kenapa? Ada masalah?”


“Rumah apa? Ini rumah untuk kita berdua sayang,”


“Arsen takut tinggal dirumah ini. Sangat kecil dan jorok.” Ucap Arsen dengan wajah polosnya.


Stefan melirik Gina, ingin tahu ekspresi wajah wanita itu. ternyata, Gina juga melirik Stefan, membuat pandangan mereka kini bertemu.


“Ayo, ke apartemen saja.”


Gina menggeleng.


“Anak kita tidak terbiasa tinggal ditempat seperti ini, Gin. Mengertilah.”


“Bawa saja dia pulang. aku sendirian akan tinggal disini.”


“Mama. Arsen mau tinggal disini kalau kita ditemani Papa.” Anak itu menatap Gina dan Stefan bergantian dengan ekspresi penuh harap.


“Kalau begitu, Arsen pulanglah dengan papa.”


Entah kenapa, Arsen tiba-tiba menangis kencang sambil mengatakan bahwa dirinya tidak mau berpisah dari papa dan mama. Ia mengatakan ingin mereka bertiga tinggal bersama.


“Sayang, belum saatnya untuk tinggal bersama.” Gina mencoba memberi pengertian pada Arsen. Namun sayangnya, bocah itu malah terlihat semakin sedih.

__ADS_1


“Sudahlah Gin, ayo turuti dia. Lebih baik kita pulang saja. Anak ini sudah mengerti bahwa kita berdua adalah orangtuanya. Dia pasti sedih jika kita tinggal terpisah.


Gina membuang napasnya kasar. Sangat percuma bernegosiasi dengan Arsen. Anak itu benar-benar masih menangis. Padahal bocah itu pernah berjanji akan ikut kemanapun Gina akan pergi.


Akhirnya, karena tidak tega Gina terpaksa menuruti Arsen. Mau tak mau, harus kembali lagi ke kediaman keluarga Yoris, yang mana membuat ayah dan anak itu tersenyum senang.


‘Calon istriku ada-ada saja,’


‘Ah, aku merasa seperti orang bodoh’ batin Gina.


TIBA DI KEDIAMAN YORIS.


“Nenek! Kakek! Kami pulang!” teriak Arsen kegirangan. Ia pun berlari kearah dua paruh baya itu dengan wajah bersemangat.


Kedua orang tua itu tentu saja merasa senang. Ternyata rencana mereka berhasil. “jagoan, kau sangat keren. Mama tidak jadi pindah dari rumah ini” bisik sang kakek di telingan Arsen. Ketiga orang itu pun melakukan tos dengan senyum kemenangan diwajahnya.


“Ma-afkan saya Nyonya, Tuan, saya keluar masuk rumah ini dengan tidak sopan.” Gina menuntuk, hormat.


“Sudahlah, tinggal disini memang lebih baik. Biasakan diri untuk selalu dekat dengan calon suamimu.” Ujar Tn Yoris, yang diangguki oleh istri tercinta dan cucu satu-satunya itu.


“Iya, sayang. Mulai sekarang, biasakan juga memanggil kami mama dan Papa seperti Stefan.” Sambung ny. Yoris pula.


Lagi-lagi, Stefan dan Gina saling menatap.


“Ah, sayang, kita jalan-jalan dengan kakekmu yuk, biarkan mama dan papa beristirahat.” Ajak sang nenek kepada cucunya. Tentu saja bocah itu tidak menolak.


“Fan, antar Gina ke kamarnya”


“Baik Pah,”


“Ayo Gin”


“Ah, i-ya, baiklah”


TIBA DI KAMAR GINA.


“Gina, ini kamarmu untuk sementara.”


“Oh, iya. Terima kasih.”


‘Dan setelah menikah, tentu saja kau akan pindah ke kamarku’


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2