Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Akhir Flashback


__ADS_3

“Helena, sayang, please jangan pergi. Dengarlah dulu penjelasan aku.”


PLAK


Stefan malah mendapat tamparan dari tangan halus kekasihnya yang biasanya selalu bergandengan dengannya itu.


“Kamu, jahat. Kamu sudah berhiatan Fan. Aku kecewa sama kamu. Kita putus.”


“Tapi sayang, aku, aku benar-benar tidak bermaksud menghianati kamu. Percayala! Yah..”


“Apanya yang tidak bermaksud berkhianat? Apa ini? Anting? Gelang? Darah?” itu milik siapa? Kamu ... tega. Aku akan pergi, mulai sekarang kita putus.”


“Sayang tunggu! Oke, kamu boleh tenangin diri dulu yah, setelah itu kembali lagi ke aku, kita menikah. Hidup bahagia selamanya. Aku janji, hal seperti ini gak akan terjadi lagi.” Stefan


meraih tangan Helena, menatapnya dengan penuh harap. Berharap Gadis tercintanya itu memaafkannya, tapi ternyata tidak. Helena, pergi.


..................


1 BULAN KEMUDIAN


Gina dikejutkan dengan kenyataan bahwa kini, ia telah hamil. Hamil diluar nikah tepatnya. Sedih? Sudah pasti. Takut? Tentu saja, karena ayahnya adalah seseorang yang tegas, sangat menakutkan apabila sudah marah. Tapi, ini adalah janin dari cinta pertamanya.


“Gina? Kamu, hamil?” suara mama Veni, ibu tiri Gina, melengking.


“Maaf mama ... maaf!” Gina hanya bisa menangis, agar tidak dimarahi.


Beberapa jam kemudian, Farrel mendatangi kamar Gina, melihat putrinya yang sedang duduk manis menonton televisi di kamarnya.


“Apa? Hamil? Gina, kau ini, kau berani mengecewakan papa?


"Ha?”


Gina akhirnya menangis lagi


“Siapa? Siapa laki-laki yang menghamili kamu?”


Gina menggeleng. “Pa, dia tidak bisa tanggungjawab Pa, Gina akan merawatnya sendiri, Gina mohon Papa mengerti ya Pa..” Gadis itu


mengatupkan kedua tangannya memohon.

__ADS_1


“Angkat kaki dari rumah ini Gina. Papa tidak lagi punya anak perempuan. Kau mengecewakan papa.” Tegas Farrel.


“Pa ... maaf Pa, maaf! Pa, tolong tetap sayangi Gina Pa, ampun Pa!”


Gina Veroni, mulai sekarang, papa coret nama kamu dari kartu keluarga.”


Tak  ada lagi kata negosisasi. Gina harus menerima konsekuensi dari perbuatannya.


Papa Farel adalah seorang pebisnis restoran kelas atas yang ia beri nama GN Restaurant, yang ia ambil dari inisial nama kedua anaknya.


Untuk menyelamatkan bisnisnya yang baru saja berkembang pesat itu, ia tak ragu menyingkirkan Gina yang bisa saja membawa kesialan bagi


usahanya. Padahal, Farrel adalah seorang ayah yang selalu memanjakan Gina. Segala fasilitas ia berikan untuk mendukung anaknya itu, tapi siapa sangka Gina mampu mengecewakan hatinya.


Gina pun, pergi dari rumah itu.


“Gina, bawalah ini. Pakai untuk hidupmu” mama Veni memberikan sebuah amplop tebal berisi uang kepada Gina. Bagaimanapun juga, kepergian Gina dari rumah ini karena hasutan-hasutannya pada sang suami. Jadi, untuk meringankan sedikit beban dihatinya, ia memberi uang kepada Gina.


Gina yang adalah seorang gadis yang terbiasa dengan biaya hidup berlebihan dari sang ayah, tentu saja menerima uang tersebut.


‘Lagi pula, ini terakhir kali aku diberi uang dari hasil


kerja papa,” batinnya.


 \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


“Arsen, apa yang kamu lakukan hari ini sayang? Anak mama pasti sudah bertambah besar ya hari ini,”


Gina mengusap Foto anaknya itu yang ada di dalam bingkai kecil.


“Apa papa menyayangi kamu nak? Pasti sayang ya?”


“Arsen ... mama sedang berusaha untuk bisa dekat kamu lagi sayang.”


“Arsen ... apa kamu masih mengenalku sebagai ibumu? Astaga, apa yang kubicarakan? Tidak mungkin dia masih mengenalku. Bahkan, mungkin saja dia membenciku karena telah membuangnya.”


.


Airport Soekarno Hatta.

__ADS_1


“Aku pergi dulu yah Gina, tolong jaga dirimu. Terima kasih karena kau sudah sembuh sehingga tidak membuatku menjadi perawan tua karena


mengurus wanita sakit-sakitan sepertimu”


Rani memeluk Gina, sahabatnya itu. kini giliran Rani untuk untuk menjalankan salah satu tujuan hidupnya, yaitu menikah.


“Rani, aku berterima kasih banyak atas segalanya. Kau begitu baik menemaniku selama ini. Sampaikan permohonan maafku pada calon suamimu ya, salam buat bapak dn ibu. Katakan pada mereka kalau aku sudah sembuh dan belum


mati.”


Keduanya tertawa bersama atas  obrolan kocak ala mereka berdua sendiri.


\=\=\=\=\=\=\=


Di dalam Taxi.


Drrrt drrrt drrrt.


“Ha-halo,” jawab Gina setelah menempelkan ponsel  di telinganya.


Terdengar suara lembut seseorang menyapa di telinga Gina.


“Ya, saya sendiri pak, ada apa yah?”


Maka orang tersebut menjelaskan maksudnya menghubungi Gina.


“Haaaaa? Benarkah?”


Gina terlihat sangat terkejut juga senang ketika mendengar dengan seksama penuturan dari orang yang menelponnya.


Akhirnya, setelah berusaha memasukkan lamaran sebagai sekertaris CEO group Yoris, akhirnya Gina dipanggil untuk interview besok pagi.


Senang? Pastilah!


‘Thanks God. Kau selalu baik padaku, manusia hina ini.’


‘Apa ini memang jawaban dari  doa ku selama ini? Karena ketulusanku ingin dekat Arsen?'


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2