
Keesokan harinya.
Gina terbangun oleh suara anak kecil yang memanggil namanya. “Mama!”
Gina mengucek kedua mata. “Arsen?”
“Mama masih mengantuk? Mama tidur aja lagi,”
Gina menggeleng. Kalau sudah ada Arsen, mama tidak mengantuk lagi.” tersenyum. “tapi apa itu yang Arsen bawa?” menunjuk sebuah box ditangan Arsen.
“Ini? Ini, hadiah di Papa, untuk Mama,” menyerahkan kotak hadiah tersebut.
“Dari papa?”
Bocah itu mengangguk semangat.
Gina pun menerima hadiah tersebut. “Ayo kita lihat, apa ini?”
Saat membuka box, ternyata ada sebuah note disana (Hai calon istri, pakai ini nanati malam pukul 7, aku akan menunggumu dikamar.)
‘Apa maksudnya menungguku di kamar?’
“Ini sepertinya dress, ayo kita lihat Arsen,”
Kedua bola mata wanita itu seketika membesar, melihat wujud dres sexy dihadapannya.
“Waaaa... Mama, sangat cantik,” puji si bocah pada dress kekurangan bahan tersebut.
‘Gila, apa maksudnya mmintaku pakai ini dan mengunjunginya dikamar?’
Tok tok tok,
Suara ketukan pintu mengejutkan Gina dan Arsen.
“Hai ...”
Gina menatap Stefan.
“Sayang,”
Degh
‘Dia ... memanggilku sayang?’ Gina merasa jantungnya berdetak tak karuan.
“Sayang, main sama kakek dulu, sana. Papa ingin bericara dengan mama,”
__ADS_1
“Oke, Papa!” Arsen pun berlari keluar.
‘Oh? Ternyata Arsen yang dia maksud, sayang? Ya ampun, sadar diri Gina’
“Gin,”
“ya?
“Nanti malam aku ada reuni. Maksudku, pakailah dress itu.”
“Ohhh, i-ya”
‘Jadi, ternyata aku salah sangka lagi?’
“Kalau begitu, jam 7 malam, harus sudah bersiap. Dandan yang cantik.”
“Aku selalu cantik meskipun tidak berdandan.”
“Kau cukup percaya diri” Stefan terkekeh, lalu melangkah keluar dengan santainya, tanpa permisi.
“Iya, kau memang cantik” gumamnya.
Gina hanya menatap kepergian Stefan.
\=\=\=\=
Gina telah bersiap mengenakan dress barunya.
“Ini memang terlihat pas ditubuhku.” Berputar-putar di hadapan cermin.
“Tapi terlihat sangat kekurangan bahan. Apa seorang ibu sepertiku masih pantas mengenakan pakaian sexy begini?” Gina terlihat ragu.
“Aaaah, tak apa . Dia yang minta aku memakainya. Lumayan kan, kali saja bisa buat dia terpesona padaku,” tersenyum.
“Duh, apa yang baru saja kukatakan? Hentikan Ginaaa”
Tok tok tok.
Ceklek,
“Gin, sayang kamu sangat cantik” mama Lina menghampiri Gina.
“Nyonya? Tante?”
“Apa itu tante? Nyonya? Panggil mama, sayang!”
__ADS_1
“oooh, emm. Ya ... Ma,”
“Gin, kalau kamu berpenampilan seperti ini, papa-nya Arsen akan lupa berkedip saat melihatmu, sayang. Dia akan semakin jatuh cinta padamu.” Tutur mama, dengan hebohnya.
“Eh? Tidak mungkin, Mah,”
“Ah, terserah kamu Gin, yang penting, harus semangat. Buatlah dia terpesona padamu”
‘Aku baru saja merencanakannya mah,’ tersenyum penuh arti.
“Apa kak Stefan sudah siap ?”
“Sudah, dia sedang menunggu dibawah.”
Keduanya pun keluar bersama menuruni tangga. ‘Setidaknya, calon mama mertua ini menyayangiku’ menerima gandengan lengan mama Lina, untuk pertama kalinya.
Benar kata mama Lina, Stefan benar-benar lupa berkedip saat ini. Tapi, bukan hanya pria itu, Gina pun terlihat sangat mengagumi ketampanan Stefan.
‘Gila, dia semakin cantik,’
‘Oh, Tuhan. Bantu aku. Dia sangat tampan. ada apa dengan tatapannya itu? naluriku yang begitu menggilainya terasa akan kumat jika dia menatapku begitu.’
“Ehmm. Mama tau dia cantik. Tapi jangan lupa berkedip juga Fan, matamu bisa tertabrak nyamuk.”
“Oh?”
“Hmmm”
Ruangan seketika terasa dipenuhi kecanggungan.
“rasanya, baju ini kurang tepat untukku.” Gina berusaha mengusir rasa canggung.
“terlihat cocok kok,” jawab Stefan, cuek.
“Mmmaksudku, sangat terbuka.” Gina terus memegang rambut panjangnya.
Stefan lalu melepas jas yang dikenakannya. “Tapi maksudku, biar bisa seperti ini.” Memakaikan jasnya ke tubuh Gina.
'Oh ... dia benar-banar bikin aku melayang'
.
.
Bersambung...
__ADS_1