
"Ternyata ... Stefan sebegitunya mencemburui suamiku, heran."
Dua wanita itu memasuki area khusus pakaian anak-anak.
"Tidak hanya suamimu Jen, tapi ... dia seperti itu kepada semua pria. Dia akan menatap tajam ke arah pria yang sedang menatapku, meskipun itu hanya kebetulan." Gina menjelaskan denfan antusias.
"Cemburunya suamimu tingkat akut Gin, no debat." -disambung dengan suara canda tawa.
"Apa suamimu tidak begitu? Aku mengira mereka sama saja."
"Tidak. Mario tidak seperti itu. Dia bahkan tidak romantis.
.
.
Setelah menghabiskan ratusan menit untuk mengelilingi mall, dua wanita itu kini tersadar bahwa suami mereka pasti merasa bosan menunggu.
Karena waktu sudah menunjukkan saatnya makan siang, mereka kini menuju sebuah restoran pilihan Mario sebagai warga yang paling mengenal tempat disana.
.
.
"Fan, aku berencana menjodohkan Arsen dengan Given saat mereka besar nanti."
"Uhuk uhuk uhuk" -Mario dan Stefan sama-sama keselek secara tiba-tiba.
"Apa? Jenn! Kita memang berteman baik tapi aku tidak berarti senang berbesan denganmu!" -Stefan, dengan nada protesnya seraya melirik Mario.
Tak hanya Stefan, Mario juga menatap Jenni dengan raut muka protesnya, Heran.
"Jenn, apa yang kau bicarakan? Memangnya putri kita sejelek apa? Aku tidak setuju!"
Sedangkan Gina, wanita itu sepertinya tidak tertarik untuk berargumen. Ia hanya sibuk menikmati makanan di hadapannya, dengan perasaan penuh tanya jawab.
"Bagaimana menurutmu Gin? Aku rasa ... putriku sangat tergila-gila pada Arsen."
Pertanyaan itu akhirnya ditujukan kepada Gina. Mario dan Stefan pun ikut mengarahkan pandangan kearahnya.
"Yah? Je-Jej-Jen, aku ... berpikir mereka tidak cocok. Putraku selalu memarahi Given. Aku kasihan nanti Given akan tertekan."
"Menekannya di tempat tidur maksudmu?" -Jenni, tersenyum nakal dan itu seketika membuat Mario merinding.
'Ada apa dengan istriku? Kenapa dia jadi begini?'
__ADS_1
Gina maupun Stefan, sama-sama terlihat memijat pelipis masing-masing.
'Waah, bagaimana ini? Apa Arsen segitu bagusnya? Waktu itu Rani, ia ingin menjodohkan putrinya yang bahkan belum lahir, dengan Arsen. Sekarang Jenni? Ya ampuuun, bagaimana ini? Apa putraku akan menjadi rebutan dua gadis?'
"Begini saja Jen, biarkan anak-anak tumbuh dan memilih jalannya masing-masing. Kupikir ... berbesanan dengan kalian berdua bukan ide yang bagus.." -Stefan berterus terang.
"Apa kau pikir kau saja yang tidak sudi berbesanan dengan kami? Aku juga lebih tidak sudi memiliki hubungan yang baik dengan kalian berdua." -sahut Mario.
"Mario, kau tidak sepakat denganku?" tanya Jenni, menatap tajam suaminya.
"Ya! Untuk yang ini aku tidak sepakat, titik!"
Jenni hanya menghela napas panjang, akhirnya ia pun pasrah.
"Ahh, baiklah! Jika kalian bertiga tidak setuju, aku bisa apa! kasihan sekali Givenku, tidak mendapat restu sejak dini."
.
.
Malam harinya.
Setelah menyelesaikan makan malam, pasangan itu kini menuju kamar masing-masing.
"Mario ... kenapa jalanmu cepat sekali? Kau juga hanya diam. Apa kau marah?"
"Apa kau tidak mengerti? Aku sedang kesal."
"Oke, baiklah! Mari kita marahan saja."
Tiba di kamar.
Clek. Membuka pintu.
'Waww! Indah sekali! Mario, kamu bisa semanis ini?' Jenni terdiam mematung. Demikian juga dengan Mario.
'Apa-apaan nih? Kurang kerjaan, aku tidak memesan kamar berantakan seperti ini.'
Melihat seorang petugas hotel melewati lorong, Mario segera menghampirinya.
"Permisi,"
"Iya Tuan?"
"Itu ... kamar itu, apa ... kami tidak salah kamar?"
__ADS_1
"Oh, Tuan, itu adalah kejutan dari Nyonya Park. Beliau yang memintanya."
"Yahh? Ba-baiklah! Terima kasih. Kamu boleh pergi."
Selepas kepergian sang petugas, Mario mengambil ponsel lalu menelpon Nyonya Park.
[Halo Sayang,]
[Ma.... ada apa dengan kamar yang kami pesan? kenapa ada banyak sekali api dilantai? Bagaimana kalau kaki istriku terbakar? Bunga bertebaran dimana-mana, persis pemakaman. Aku- -]
[Apa katamu? Api? Itu hanya lilin kecil! Mario Mario Mario, tenanglah dulu. Memang seperti itu kamar untuk bulan madu sayang, kau jangan marah. Harusnya kau berterima kasih ke mama.]
[Ma! Bagaimana kalau istriku tidak suka? Jangan anek-aneh!]
[Mario, nikmati saja malam ini dengan istrimu. Saat aku dan ayahmu dulu juga begitu. Mama sangat senang. Jadi, mama yakin istrimu juga pasti senang.]
[Benarkah dia akan senang? Kalau saja dia menganggap itu aneh, aku akan mengajaknya pindah ke hotel lain.]
[Mario, masuklah ke kamar itu. Buka salah satu laci disana. Mama punya sebuah hadia untuk Jenni. Itu adalah kalung berlian turun temurun keluarga ayahmu, yang mama dapat dari ibunya dulu. Berikan itu ke Jenni malam ini ya sayang, kalung itu satu-satunya di dunia ini. Jangan sampai menghilangkannya. Sampaikan terima kasih mama karena dia sudah memberikan cucu imut ini untuk mama sebelum mati.]
[Hmmm. Baiklah!]
[Mario, sampaikan padanya, mama akan lebih bahagia kalau Given punya adik lagi.]
[Yahh? Ba-baiklah]
Panggilan pun berakhir.
Mario kembali memasuki kamar yang menurutnya sangat berantakan itu dan hampir tak percaya melihat apa yang kini dilihatnya.
"Sayang! Kamu lama sekali, aku bahkan sudah ganti pakaian!" Jenni tersenyum manis dan merentangkan tangan, berdiri diantara lilin lilin.
"Jen, kamu ... senang?" tanya Mario, masih berdiri di muka pintu.
"He-em! Aku senang! Cepat kesini! Tanganku mulai pegal."
Mario pun mendekat, dan Jenni memeluknya dengan sangat erat.
"Mario, aku sangat senang! Aku pikir hanya bisa berkhayak bisa menikmati kamar seindah ini bersamamu. Mario, aku sangat suka."
Jeni mendongak lalu berjinjit, membuat bibir mereka saling menyentuh.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....