Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Pedang-pedangan


__ADS_3

Stefan menyusul sang istri yang nampaknya buru-buru ke kamar Arsen.


"Aku tidak menyukai adik yang jorok. Pa ... pulangkan dia."


Arsen menunjuk ke arah kamar mandi yang dimana Gina sedang memandikan Given.


"Boy. Bukankah kau menginginkan adik? Kenapa sekarang?" tanya Stefan.


"Dia memgotori tempat tidur Arsen Papa, itu tidak sopan."


"Sen, maafkan Given ya, dia pasti tidak sengaja boy." Stefan berusaha membuat putranya mengerti.


Arsen pun masuk ke kamar mandi untuk memastikan apakah Given dimandikan dengan bersih atau tidak.


Tiba di kamar mandi. Ia perhatikan tubuh polos adik perempuan yang sedang dimandikan mama-nya itu, lalu bertanya. "Ma ... kok Given gak punya pedang?"


"Yah? Arsen, untuk apa kesini? Sama Papa sana!" usir Gina pada putranya.


"Iya, tapi ..." Arsen tiba-tiba melihat kedalam celananya, untuk memastikan sesuatu disana. "Ma, kok adik itu tidak ada pedangnya?"


"Pedang, pedang apa Sen?" tanya Gina heran, sambil terus memandikan putri titipan itu.


"Itu Mah ... pedang kayak punya Arsen ini." Menunjuk ke arah pedang kecilnya yang ada di balik celana.


Pfffft. "Papaaaa. Sini, ambil anakmu!" teriak Gina.


"Sen, Sen, keluar." perintah Stefan.


"Taraaaa. Udah selesai mandinya sayang." Gina membungkus tubuh kecil anak itu dengan handuk dan menggendongnya keluar.


"Papa, adik itu tidak memiliki pedang. Ma ... pasangkan pedang untuk adik Given supaya tidak ngompol."


"Boy, sini papa kasih tau. Adik Given itu sama kayak mama. Tidak punya pedang. Oke," jelas Stefan.


Gina hanya menggeleng mendengar pembicaraan soal pedang-pedangan.


"Jadi pah, mama juga tidak punya pedang?" tanya Arsen, dengan wajah kepo.


"Ya iyalah, boy. Emang kamu pikir selama ini papa dan mama main pedang-pedangan?"


"Papa Arsen ... apa yang coba kamu jelaskan? Jangan mengacaukan pikiran putraku." teriak Gina dari ruang ganti, mengingatkan Stefan.


"Papa, memangnya pedang kita boleh dimainin?"


'Aduh, ni bocah, makin dijelaskan makin ingin tau'


"Sen, kalau masih anak kecil, pedangnya tidak boleh dimainin, ya! ayo papa akan mandikan kamu. Jangan banyak tanya lagi."


........


Ditempat lain. Mengetahui cucunya tidak dirumah, mama mulai meninterogasi Mario dan mengatakan banyak hal sesukanya.


"Stop Ma, tenang! Anak itu sangat menginginkanku. Dia akan merengek pada Jenni untuk bertemu denganku."


"Dari mana kamu percaya akan itu? Bagaimana kalau anak itu tidak lagi mau denganmu?"


"Ma ... ayo, kita bardua pulang ke Korea. Tinggalkan saja Jenni dan anak itu."


"Apa?"

__ADS_1


"Ma ... jujur saja. Sudah banyak wanita yang aku tiduri. Bisa jadi, suatu saat akan ada wanita lain lagi yang akan datang mengakuiku sebagai ayah anak mereka."


PLAK.


Mario menuai tamparan kuat untuk keterus terangannya itu.


"Apa kamu bilang? Brengsek kamu ya, kenapa kamu mengatakan itu? Kamu tidak memikirkan perasaan mama?"


"Ma ... jangan marah. Perasaan tidak boleh dipaksakan. Begitu juga rasaku pada Jenni. Aku sudah buang rasa itu. Dia tidak bisa mendapatkan cintaku yang sudah dia sia-siakan."


"Apa maksudmu Mario? Hmmm?" nada bicara sang ibu kian meninggi.


"Dia ... hanya menginginkan harta. Dia, bukan wanita yang tulus. Selama berhubungan dengannya, dia memperalatku. Apa mama mau punya menantu seperti itu?" Mario menatap lekat sang ibu. "Tolong kendalikan perasaan mama. Dia hanya terlihat bagus karena telah melahirkan cucu untuk mama. Selain dari pada itu, dia nol besar. Dia bukan perempuan baik-baik, Ma. Apa mama ingat stefan? Stefan juga pernah diperalat olehnya. Dia mendekati orang-orang kaya. Apa mama bisa mengerti?"


"Mario," nada suara sang ibu mulai melemah. "Maafkan mama, mama tidak tahu dia seperti itu. Tapi, bagaimanapun, dia adalah wanita yang sudah melahirkan putrimu, nak. Tanggungjawablah. Nikahi dan ubah dia menjadi wanita yang baik."


"Baik, kalau itu keinginan mama. Aku akan paksa dia ikut ke Korea, tapi ... aku hanya akan mendaftarkan pernikahan kami. Aku tidak ingin orang lain tau kalau dia istriku." tegas Mario, kemudian.


'Sial, kenapa hatiku merasa sakit mengatakan ini?'


Pria itu pun pergi dari hadapan ibunya untuk menemui Jenni.


........


Di tempat lain.


Jenni sedang duduk beristirahat setelah selesai mengerjakan pekerjaan membersihkan lantai Rumah Sakit itu.


'Sampai kapan aku akan tinggal di gudang ini?' Lagi-lagi Jenni memutar pandangannya ke seluruh ruangan tempatnya beristirahat kini. Perlahan tapi pasti airmata andalan yang selalu meluncur belakangan ini, kini kembali turun. 'Given, maafkan mommy. Bukannya sengaja membiarkanmu tinggal ditempat orang lain. Tapi mommy lebih tidak tega membuatmu tinggal ditempat ini.'


Jenni pun memutuskan untuk menghubungi Stefan. 'Apa ... aku bisa mendapatkan bantuan Stefan seperti dulu? Ya ... dia orang kaya, tentu saja dia bisa membantuku.'


[Iya, Jen! Bicaralah.]


[Fan, em.....]


Stefan pun menunggu, apa yang hendak dikatakan Jenni.


[Ada apa Jen? Putrimu kah?] tebak Stefan.


[Ehmmm. Iya, Fan. Apa ... anakku tidak merepotkan istrimu?] tanya Jenni, akhirnya.


[Oh, tidak sama sekali Jen. Istri dan anakku sangat senang dengan kehadiran Given.]


[Begitukah? Syukurlah. Aku legah mendengarnya]


[Jen, apa kau ada masalah? Bilang saja padaku. Aku bisa membantumu.]


[Ohhhh, aku ... baik-baik saja Fan. Kalau begitu, aku ... kembali bekerja dulu, Fan ... terima kasih karena ... dulu pernah membantuku. Maaf karena sekarangpun, aku ... belum bisa membayarmu kembali.]


[Tak apa Jen, kita ini teman. Jangan sungkan bila kau membutuhkan sesuatu.]


[Iya, Fan. Aku memgerti.]


Tuuut, tuuut, tuuut, panggilan pun berakhir begitu saja. 'Jen, apa yang kau pikirkan? Kau tidak boleh menjadi parasit terus menerus.' Jenni akhirnya tersadar. Benar kata Mario, dirinya pantas disebut sebagai parasit. 'Oke, Stefan akan oke-oke saja membantuku. Tapi belum tentu istrinya baik-baik saja. Sudah syukur mereka membantu rawat putriku.'


Drrrrt drrrrt drrrt.


Ponsel Jenni berdering dengan menampilkan pemanggil dari nomor baru.

__ADS_1


[Hallo ... ... benarkah ... .... oke, oke ... oke!]


Wajah sendu Jenni kini kembali bersemangat. Panggilan barusan adalah pemberitabuan bahwa dirinya akan mulai bekerja part time besok sore sampai malam di kedai ayam goreng sebagai kurir.


'Yes, aku sekarang memiliki tiga pekerjaan. Semoga semua ini lancar. Ya ... aku hanya perlu sehat agar bisa mengerjakan semuanya.' gumamnya, dalam hati.


Jenni melangkahkan kaki menuju ruangan sang ibu. Ia ingin memberitahukan tentang pekerjaan barunya itu, pada wanita setengah baya itu.


"Ma ... ayo jalan-jalan cari udara segar. Besok mama akan di operasi. Mah, mulai besok, aku punya pekerjaan baru. Apa itu membuat mama bangga? Ma ... andai saja mama dalam kondisi sadar, mama akan memuji betapa kerennya aku ini."


Sebentar lagi Jenni akan pergi untuk shif kerja di restoran, karena jam kerjanya dimajukan sehingga ia hanya akan bekerja hingga sore, untuk itu Jenni mencari pekerjaan untuk mengisi waktunya dimalam hari. Dan saat ini, ia memutuskan mengajak mama untuk keluar dari ruangan pengapnya itu agar bisa menghirup udara di luar sana.


"Besok aku tidak bisa mengajak mama jalan-jalan lagi karena harus sibuk bekerja. Maka sekaranglah waktunya." Ia pun menggandeng manja lengan mama dan melangkah bersama.


Tap tap tap tap tap


degh.


Langkah kaki keduanya yang beriringan, terhenti.


"Ma ... ayo, turuni anak tangga ini sambil menghitungnya.


"Jenni? Dengan siapa dia? Apa dia merangkap menjadi penghibur pasien gila?"


Dari kejauhan, Mario yang sudah tiba di rumah sakit itu tak sengaja melihat Jenni bersama seseorang yang Mario yakin adalah seorangg pasien.


"Ma ... ayo, kita turun."


Mama tiba-tiba melayangkan tatapan benci.


"Dasar wanita murahan," umpatnya, lalu mendorong tubuh Jenni secara tiba-tiba.


"Jenniiiiiii!" Mario berlari saat melihat aksi kejahatan yang menimpa mantan kekasihnya itu.


"Aw ... sakit, Ma ..."


Wanita yang sudah tidak normal itu melangkah turun dan naik ke atas tubuh Jenni mencekik leher putrinya itu. "Dasar tidak tahu malu, kembalikan suamiku wanita jahat."


"Tolong ... tolong!" Seru seorang suster yang menyaksikan kejadian itu, tanpa bisa menolong Jenni.


Sementara dari arah lain Mario berlari sekencangnya.


"Jen, Jen.. lepaskan tanganmu nyonya. Jangan menyakitinya." Mario berusaha melepaskan tangan wanita gila itu dari mencekik batang leher Jenni.


Muncul pula para medis karena mendengar teriakan minta tolong dari sang perawat perempuan. Akhirnya, wanita gila yang adalah ibu dari Jenni itu berhasil mereka pisahkan dari tubuh Jenni.


Glek.


Saat tim medis akan membujuknya untuk kembali ke ruangan, tiba-tiba sang mama jatuh terkulai dan membentur ke lantai.


"Jen, Jen! Maaf, aku terlambat." Mario dengan reflek memeluk wanita yang sangat tidak disukainya itu. Bukan tanpa sebab. Saat ini, Jenni terlihat seperti akan mati. Yang mana, mulutnya mengeluarkan darah akibat cekikkan yang ia terima dari ibunya sendiri.


"Cepat! Bawa keduanya ke ruang tindakan!" seru salah satu dari mereka.


"Aku akan membawa pasien yang ini ke rumah sakit lain." ujar Mario, lalu pergi dari sana mengangkat tubuh Jenni dan memasukkan wanita itu ke dalam ambulance yang tersedia disana.


"Jen, bagian mana yang sakit?" tanya Mario, merasa panik. Ia ambil sebelah tangan wanita itu. Tidak ada respon dari Jenni, wanita itu hanya menatap Mario dengan tatapan kosong lalu perlahan matanya tertutup.


"Jen, jangan menutup matamu! Atau ... kau tidak akan pernah bangun lagi."

__ADS_1


__ADS_2