Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Guru Bahasa


__ADS_3

"Helena, apartemen ini sekarang adalah milikmu dan klub malam milikku, itu adalah milikmu sekarang. Kau bisa mengganti posisiku menjadi mucikari, jika kau ingin."


"Mu..ci...ka...ri?" -Helena merasa sedikit takut membayangkan hal tersebut.


"Ya. Kau tenang saja, aku akan melindungimu. Kupastikan, kau tidak akan terjerat oleh hukum."


"Mr Lee, Ayolah, tetap seperti sebelumnya. Tidak bisa kah?" -Helena mendekat dan memeluk.


........


Orland Mario Park.


Pria itu tengah disibukkan dengan pekerjaan. Membaca dan menandatangani banyak file. Wajah tampannya terlihat sangat serius. Sampai pada akhirnya....


Drrrrrt drrrrt drrrrt.


Ponselnya sedang bergetar pun pria itu ogah untuk meliriknya.


Drrrrrt drrrrrt drrrrt


Kembali bergetar, membuat Mario melirik sekilas dan melihat bahwa itu adalah panggilan dari sang ibu.


[Iya, halo Ma!]


[Mario, Guru Bahasa Korea yang akan melatih istrimu akan datang dalam 2 jam lagi.]


[Oke, aku mengerti. Apa mama sudah beritahu Jenni?]


[Sudah. Oke, mama tutup dulu, mau ajak anakmu jalan-jalan.]


[Tunggu, Ma! Tolong jaga baik-baik putriku, jangan biarkan dia mengonsumsi makanan sembarangan, batasi konsumsi ice cream dan dia harus beristirahat yang ***-]


[Iya, iya iya! Mario, kau seperti tidak mempercayai ibumu sendiri. Sudah, mama tutup ya,]


[Tunggu, tunggu Ma! Itu... Guru bahasa yang mama utus, siapa namanya?]


[Oh, dia bernama Tuan Noh.] -menjawab santai.


[Apa? Tuan? Jadi dia seorang pria?] -mulai resah.


[Eit, tenang Mario, Tuan Noh adalah orang baik, sopan santun, dia sangat rekomended.]


[Ma, batalkan sekarang juga. Aku tidak suka jika dia pria]


[Mariooo, jangan coba-coba permalukan mama. Enak aja batal-batal.] -mama mulai kesal.


[Aku maunya guru perempuan, Ma.]


[Hei! Guru Noh itu datang untuk mengajari istrimu bukan untuk mengajarimu. Tidak ada urusannya, kau harus suka atau tidak. Titik.]


[Ma, tapi dia pria, berbeda jenis dengan istriku. Aku tidak suka istriku didatangi pria lain. Mama bayangkan, aku dikantor dan istriku dirumah, didatangi seorang pria, Ma! Mengerti sedikit perasaanku.]


[Hahahahaha! Mario sayang, kau terdengar sangat lucu. Kau lagi-lagi cemburu? Tenang, nak, guru Noh adalah seorang pria tua berusia hampir 60 tahun. Istrimu tidak mungkin terpesona olehnya.] -kembali tertawa renyah, menjengkelkan.


[Kenapa mama tertawa? Menganggap aku lelucon? Aku tetap tidak setuju. Ma, aku akan pulang sekarang juga.] -terdengar kesal.


[Mariooo!] -berteriak. [Kau sangat keterlaluan. Mama memaklumi jika kau cemburui pria muda. Tapi, tua bangka pun kau protes? Dasar pria aneh.]


"Ya sudah, Ma, aku akhiri.]

__ADS_1


Tut tut tut.


"Tersisa waktu 110 menit lagi sebelum guru Noh itu tiba di rumah." -Mario melirik jam tangan dan file didepannya secara bergantian. Ia pun kembali serius menyelesaikan pekerjaannya.


Kediaman Mario.


"Selamat sore, perkenalkan, saya guru Noh yang akan mengenalkan anda dalam bahasa nasional Korea."


"Iya, guru Noh, silahkan masuk. Saya memamg menunggu kedatangan anda. Saya Jenni!"


10 menit kemudian, Mario tiba di kediamannya dan langsung bertanya pada security tentang apakah ada tamu yang datang.


"Tuan, didalam ada guru Noh, baru tiba sekitar 10 menit yang lalu." -menuntuk hormat.


"Ehhhhm. Baiklah!"


Tenggorokan pria itu terasa mengering seketika. Ia pun melangkah masuk, setelah melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. "Sudah 10 menit? Seharusnya orang itu tiba 20 menit lagi." -bergumam kesal.


Tap tap tap.


Langkah kaki Mario kian jelas melewati pintu utama, namun sepertinya, Jenni tidak mendengar sama sekali. Wanita itu sibuk memperhatikan sang guru.


'Dia bahkan tidak memyadari kepulanganku? Tunggu! Penampilan apa ini? Dia sedang belajar atau mau berkencan? Kenapa harus terlihat secantik itu?'


"Tuan Muda, selamat sore!" sapa pelayan yang sedang membawa nampan berisi 2 gelas minuman diatasnya. Menyapa Mario yang hanya berdiri mematung memandangi sang istri.


'Oh, dia sudah pulang?' -Jenni membatin.


Mario mendekat.


"Tuan Noh, perkenalkan, dia... Mar- -"


"Senang bertemu dengan anda Tuan Mario!" Balas guru Noh.


'Ada apa dengan dia? Senyum palsu?' Jenni memgerutkan kedua alis.


"Guri Noh, ini minumannya, silahkan diminum." sang pelayan muda bernama Nona Oh, meletakkan gelas minuman milik guru Noh.


"Kebetulan, saya sedang haus! Nona Oh, terima kasih minumannya." -Mario mengambil satu dan meneguknya habis.


"Tu-tuan, ini untuk Nyonya Muda,"


"Apa? Hei. Istriku belum boleh minum ini. Tangannya belum sembuh."


"Tuan, itu... tapi, -"


"Nona Oh, ikuti saya." Peri tah Mario. Pria itu berjalan ke arah pantry.


Melihat tuannya kini berhenti lalu mengacak pinggang, sang pelayan merasa gugup.


Mario kini berbalik menghadap pembantunya itu. "Nona Oh, apa yang kau pikirkan? Kau ingin membuat istriku menikmati minuman berdua dengan pria lain, hem?"


"Yaaaah? Tuan Muda, maafkan aku! Sepertinya anda salah sangka. Mereka adalah guru dan murid. Bukan sedang berkencan."


"Aku tetap tidak menyukai itu. Sekarang, buatkan lagi minuman untuk istriku dan beri 2 butir obat tidur kedalamnya."


"Untuk apa Tuan?" -merasa gugup.


"Obat tidur, ya supaya istriku mengantuk. Apa lagi?"

__ADS_1


"Ohhh, ba-baiklah Tuan."


.


Setelah meminta pembantunya melakukan hal konyol itu, Mario kembali ke ruangan dimana Jenni berada.


Dengan santainya pria itu duduk tepat di sebelah istrinya, membuat Guru Noh sedikit terlihat kaku, merasa sedang diawasi.


"Kenapa disini? Tidak ganti baju?" tanya Jenni, setengah berbisik.


"Terserah aku duduk dimana yang aku mau. Belajar saja, jangan banyak bertanya."


Sang pelayan kembali dengan membawa segelas minuman.


"Nyonya Muda, ini minumannya,"


"Oh, terima kasih Oh Mi Na, kau repot sekali membuatkan minuman lagi untukku,"


"Tidak apa-apa Nyonya Muda, saya permisi ke belakang,"


"Aneh sekali si Mi Na, dia terlihat gugup." -bergumam pelan, lalu meneguk habis minuman miliknya tanpa sisa.


'Oke, setelah ini ... kau akan mengantuk sayang,'


Guru Noh sedemikian seriusnya memberi penjelasan melalui papan tulis di depannya. Sedang Jenny, wanita itu terlihat mulai mengantuk. Bahkan beberapa kali sang guru memergoki muridnya itu menguap.


"Maaf, Tuan! Apa ... cara mengajar saya tidak menarik? Istri anda terlihat kurang bersemangat."


"Maaf guru Noh, aku merasa sangat mengantuk. Cara mengajarmu baik, tidak membosankan. Mungkin aku sedang lelah."


"Kalau begitu, Guru Noh, boleh pulang. Mari, saya antar keluar!" -tanpa banyak basa-basi, Mario beranjak dari duduknya.


"Guru Noh, terima kasih banyak atas kerja kerasmu hari ini. Ini bonus untukmu." -menyerahkan sebuah amplop. "Begini, mungkin guru Noh tidak perlu kembali lain hari, karena ... istri saya sebenarnya lebih nyaman dengan guru perempuan."


"Oh, begitu kah? Baiklah Tuan, saya mengerti. Terima kasih banyak atas pemberian anda." -tersenyum ramah, lalu pergi, memasuki mobil butut keluaran 90an.


Mario pun kembali ke dalam dan mendapati istrinya benar-benar tertidur, beralaskan lengan, tangannya masih memegang pulpen.


"Nona Oh,"


"Iya Tuan?" -memghampiri.


"Menurutmu, apa dia akan marah jika aku menggendongnya ke kamar?"


"Ya? Saya tidak tahu Tuan,"


"Kau harus tahu. Kau yang selalu menemaninya dirumah."


"Tapi kan, ditempat tidur Tuan yang menemaninya. Soal tidur-tiduran begini, saya tidak mengerti Tuan."


"Oh, astaga Oh Mi Naaaaa," mulai geram tidak jelas.


"Tuan, dia istri anda. Bangaimana saya lebih tahu?"


.


.


Bersambuuung.

__ADS_1


__ADS_2