Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Tinggallah Denganku


__ADS_3

Setelah beberapa kali berusaha menekan tombol Interphone atau alarm, akhirnya Mario berhasil meminta bantuan tekhnisi, kini ketiganya hanya perlu menunggu datangnya bantuan.


"Daddy, Mommy, Given takut." -terus menenggelamkan wajah dan memeluk leher daddynya erat.


"Tak perlu takut sayang, sebantar lagi akan ada yang menolong kita." -Mario menenangkan putrinya.


"Jen, apa kau juga akan terus memelukku?" -tanya Mario, bermaksud ingin mengubah suasan mencekam itu menjadi sedikit memiliki aura positif.


"Apa pelukanku sangat mengganggu?" -Jenni melonggarkan pelukannya, namun ditahan secara refleks oleh tangan Mario.


"Maksudku, kau tidak harus melepaskannya. Peluk saja aku. Itu lebih baik." -menatap penuh makna, di kegelapan yang hanya di terangi oleh cahaya ponsel.


"Terima kasih!" -ucap Jenni, membelas tatapan, lalu tersenyum manja.


"Ada apa dengan wajahmu? Baru kali ini kau tersenyum sebagus ini."


"Mario, bagaimana kalau lift ini terjatuh bebas? Apa kau bisa selamatkan kita bertiga?"


"Kau ini, apa kau kebanyakan nonton drama action belakangan ini?"


"Mario, aku tersenyum karena takut. Aku takut kau tidak sempat melihat senyumku jika kita kenapa-kenapa."


"Jenn, jangan takut. Kita hanya terjebak di dalam lift. Bukan di dalam goa hantu."


"Mario! Jangan menakutiku." -mengeratkan pelukan, yang mana berhasil membuat Mario tersenyum jahil tapi juga senang.


'Tunggu! Barusan dia mengakui bahwa ingin aku melihat senyum terakhirnya? Jenn, apa ... hatimu mulai melunak sekarang?' benak Mario, berkata bebas.


Lampu menyala..


Kali ini, sudah tidak berkedip membuat jantung deg- degan lagi.


Ting!


Pintu lift akhirnya terbuka.


"Maaf atas ketidaknyamanan anda terhadap hotel kami Tuan!" -para tekhnisi maupun pegawai hotel berbaris rapi serta menunduk, memohon maaf dengan tulus mewakili Tuan Kim sang pemiliknya, yang bahkan tidak mengetahui terjadinya kesalahan ini.

__ADS_1


"Tidak apa-apa! Tidak seorangpun menghendaki ini terjadi. Lagi pula, tidak terjadi apa-apa terhadap istri dan anakku" respon Mario, ramah.


"Sayang, ayo kita pulang." -merangkul pinggang ramping milik istrinya. Given? Bocah perempuan itu sudah tertidur pulas digendongan.


'Dia terlihat rendah hati kali ini. Biasanya dia akan marah jika terjadi kesalahan.! Tunggu, dia memanggilku sayang di depan orang-orang itu? Gawat, kenapa aku merasa senang memikirkannya?'


Tiba di rumah.


Given terbangun sehingga minta diturunkan dari gendongan Mario.


"Jen, biar aku yang mengantarnya ke kamar dia. Kamu langsung saja ke kamar untuk mandi lalu beristirahat."


"Emmmm. Mario, tapi dia, juga mau aku mandikan. soalnya dia ngompol."


"Biar aku yang melakukannya. Sana, pergilah!"


Jenni pun menuruti. Kini ia benar-benar menikmati pancuran air hangat dari curahan shower.


Ingatannya kembali ke pesta beberapa jam yang lalu, dimana para istri termasuk nyonya Kim dan Gina, dengan bangganya menceritakan tentang mereka bersama suami. Sedangkan Jenni, dirinya hanya menjadi pendengar tanpa bisa mengatakan apapun, padahal ia bukanlah wanita pendiam dan sudah fasih dengan bahasa mereka.


"Apa mulai sekarang, aku kesampingkan egoku dan berhubungan baik dengannya? Tapi, apa ... aku akan merasa bahagia? Ya Tuhan, aku tidak ingin sakit hati. Bagaimana kalau dia suatu saat berkhianat seperti papa, melukai aku dan Given." -tanpa sadar, airmata kembali turun bersamaan dengan hujanan air showwer, ikut membahasi pipi-nya.


Kemalangan demi kemalangan yang dulu pernah ia rasakan, kini kembali lagi menghampiri ingatan. Mulai dari perselingkuhan sang ayah lalu meninggal, jatuh miskin, ibu yang perlahan menjadi stress dan akhirnya harus menjadi pasien Gila, Mario yang mencampakkannya dengan penuh penghinaan. Semua itu sepertinya masih menyisakan trauma bagi Jenni dan Ia pun menangis, menangis dan menangis sepuasnya. Sampai akhirnya ...


Tok tok tok,


"Jenn, apa masih mandi?"


"Mario?" -Segera ia kembali membasuh wajahnya. Perasaannya kini sedikit legah setelah memgeluarkan air mata sialan itu.


Klek,


Membuka pintu, hanya mengenakan handuk yang melingkar di tubuhnya, tersenyum.


"Jen, ada apa dengan wajahmu? Apa yang membuatmu bahagia di dalam sana? Menyingkir dari pintu, aku mau mandi."


Jenni pun bergeser memberi isyarat silahkan masuk.

__ADS_1


'Aku akan memulai kebahagiaanku denganmu, malam ini Mario, siapa lagi yang membuatku bahagia selain kamu dan Given? Kalau masih bisa bahagia bersama, kenapa mesti takut dan terjebak dalam kesedihan masa lalu?' -menatap pintu kamar mandi yang baru di tutup oleh Mario.


Jenni pun membuka lemari pakaian untuk memilih pakaian tidur nakal yang sudah disiapkan untuknya dari sang ibu mertua. "Waw" sejenak, benak Jenni mengagumi lemari khusus miliknya yang baru dia buka untuk pertama kalinya itu. "Mama luar biasa" -gumamnya, kagum.


Warna merah. Benar, warna panas itu sengaja ia pilih lalu memakainya "Hah? Jenni, kau terlihat gila. Bagaimana jika Mario mengira aku akan memakannya?" -sibuk bicara dengan dirinya sendiri, sembari berpikir untuk mengganti warna.


Warna pink. Kini ia mengenakan warna yang sedikit lembut agar tidak terlalu mengejutkan Mario. Bagaimanapun juga, baru kali ini ia mengenakan pakaian tak berakhlak seperti ini di depan suaminya.


Klek,


Mario keluar dari kamar mandi dan langsung diperhadapkan dengan penampakan aneh sang istri "Jen, cepat kenakan pakaianmu. Maaf, aku tidak sengaja melihatmu." -Mario membuang pandangan ke arah lain, berjalan ke arah lemari pakaian miliknya.


Reaksi Mario yang cukup tak terduga, mengejutkan Jenni yang sedang bersolek di depan cermin. Ya ... Jenni baru saja kelar memberikan perawatan malam pada kulitnya. Memakai parfum dan lipstik sebagai pelengkap. 'Kenapa dia malah memintaku mengenakan pakaian? Bukankah ini juga pakaian?' -menatap singkat pakaian tipis yang dikenakannya.


Setelah beres mengenakan piyama tidurnya, Mario berjalan ke arah tempat tidur lalu mengambil bantal.


"Mario, kamu mau kemana?" -Jenni sudah berdiri di hadapan pria itu, seperti sedang menghadangnya.


"Kenapa masih bertanya? Aku akan ke kamar Given."


"Mario, kamu pasti lelah. Duduklah dulu, biar aku pijit yah,"


"Jenn." -menyentuh lengan istrinya. "Kamu istirahatlah. Pakailah pakaian yang lebih hangat biar tidak masuk angin. Aku tidak membutuhkan pijatan atau semacamnya." -melepaskan sentuhan tangannya lalu pergi.


Jenni terdiam mematung menatap kepargian Mario dengan perasaan sedih dan linangan air mata yang mulai keluar dari tempatnya. Iapun menggeleng dan berlari kearah Mario yang baru saja membuka pintu.


Grreeepp.


Memeluk pria itu dari belakang.


"Mario, jangan pergi. Tinggalah denganku!"


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2