Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Kangen Mama Gina


__ADS_3

Stefan, Helena dan juga si kecil Arsen sedang menikmati makan malam di salah satu restoran.


“Papa!”


“Iya boy?”


“Arsen kangen mama Gina” anak kecil itu menyuguhkan wajah polosnya, memelas.


‘Ya ampun, bocah ini, masih aja ingat sama si Gina.’ Kesal Helena dalam hati.


“Oke sayang, sehabis ini kita pulang ya” Stefan menanggapi. ‘Sama boy, papa juga kangen’ batinnya.


“Emmm ... Arsen sayang, gimana kalau sehabis ini kita jalan-jalan beli mainan banyak?” Helena mencoba memberi penawaran.


“Nggak tante, Arsen kangen mama” tolaknya, menggeleng.


‘Gawat, kalau anak ini selalu merengek tentang Gina, bisa-bisa Stefan kepincut sama dia. Aku memang harus gerak cepat. Gina tidak bisa berlama-lama berkeliaran di sekitar Stefan.’ Batin Helena, bermonolog panjang lebar.


Setelah menyelesaikan makan malam itu, Stefan langsung mengajak untuk pulang.


Terlihat raut wajah bahagia Arsen “Oke Papa,” serunya.


.


Sementara, di kediaman Yoris.


“Gin, kamu sudah pulang?”


Nyonya yoris menyambut kepulangan Gina dengan ramah, seperti biasa.


“Oh, iya nyonya.” Jawab Gina, mengangguk.


“Oia, kamu tunggu disini ya Gin, mama mau ambil camilan yang baru saja mama bikin.” Nyonya itu mengedipkan sebelah matanya.


“Baiklah nyonya”

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


Di perjalanan.


Stefan dan Arsen kini mengantar Helena pulang ke kediaman keluarga Yares, keluarga Gina, dimana ia kini tinggal menumpang.


“Emmm. Sayang, bagaimana kalau aku ikut pulang ke rumahmu saja?” tanya helena, pada Stefan. “Biarbisa dekat dengan orang tua kamu dan anak kamu ini.” Sambugnya, tak tahu malu.


“Maksud kamu, kamu mau nginap dirumahku? Pengen bareng aku terus?” Stefan bertanya, dengan tatapannya lurus kedepan, tetap fokus menyetir.


Helena pun tersenyum mengiyakan “iya, biar kita makin dekat lagi kayak dulu, sayang.”


“Gak boleh tante !” sahut Arsen yang duduk di kursi belakang.


“Hah?” Helena tampak terkejut.


“Tante gak boleh ikut sama papa. Soalnya, Arsen sama mama Gina bobonya sama papa. Kamar papa sudahgak muat. Iya kan pah?”


Stefan merasa sangat terkejut mendengar pernyataan putranya itu. ia lalu tersenyum penuh arti kearah Arsen, tanpa mengatakan apapun.


“Sayang, kamu tidur bareng pengasuh Arsen?”


“Owh, iya, terkadang. Bareng Arsen juga. Bukan tidur berdua,” jawab Stefan, sembari membayangkan Gina yang tertidur dalam dekapannya. Pria itu kembali menyunggingkan senyum kecil.


‘Gawat, ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus beritahu tante Veni soal ini.’


Kini mobil membawa mereka tiba di depan kediaman megah yang dimaksud oleh Helena.


“Apa benar kamu tinggal disini helena?”


“Ehm, iya Fan,”


“Oke, silahkan turun. Maaf, karena tidak bisa mengantarmu sampai ke dalam rumahmu”


Helena pun turun dari mobil Stefan, sdengan perasaan sedikit kesal.

__ADS_1


Tanpa basa-basi atau sekedar pamit, “Oke boy, kita pulang” ayah dan anak itu tancap gas untuk segera menghilang dari pandangan Helena.


“Oke Papa, Papa juga kangen mama Gina?”


“Emmmm, memangnya boleh kalau papa juga kangen mama Gina?”


“Boleh Papa, Papa ... ga boleh kangen tante yang tadi yah”


“Yah? Hmmm. Arsen lebih suka mama Gina dari pada tante yang tadi?”


“Iya Papa, Arsen lebih suka mama Gina”


“Oke boy, anak papa memang pintar ya pilih mama.” Stefan mengacak gemas rambut anaknya itu.


Helena menatap kepergian mobil itu hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.


“Sial. Aku merasa sikap Stefan benar-benar telah berubah. Dulu dia menangis darah mengejarku. Tapi sekarang? ... awas saja kalau Gina yang menjadi penyebabnya, aku akan beri dia pelajaran."


...


Tiba di garasi kediaman keluarga Yoris.


“Ayo boy, mama nunggu kita.”


“Oke Papa,” jawab anak itu semangat.


Keduanya bergandeng tangan memasuki kediaman luas itu dengan langkah cepat. Sepertinya ayah dan anak itu tidak sabar untuk segera bertemu Gina.


.


.


Bersambung.


Maaf, cuma bisa up dikit di part ini. Kerjaan mendesak othor di dunia nyata dikit lagi kelar kok.

__ADS_1


Makasih😊


__ADS_2