
Berita kematian Tuan Kim dan sang istri masih panas-panasnya menjadi perbincangan, disusul dengan kabar mengejutkan tentang Baby Tae, putra kedua Tuan Kim tiba-tiba menghilang, padahal bayi itu sedang menerima perawatan intensif di rumah sakit. Kemana perginya bayi yang baru saja lahir itu?
Hal ini memacu kecurigaan Stefan tentang kematian temannya itu yang dinilai tidak wajar.
"Aku jadi curiga, dibalik yang menimpa Tuan Kim, ada seseorang yang telah mengatur semua ini."
Dengan wajah frustasi, Stefan berbicara dengan sang pengacara kepercayaan Tuan Kim : "Apa yang harus aku lakukan?"
"Tuan, saya pikir ... anda seharusnya tau apa yang harus dilakukan." -jawab sang pengacara.
Joon, anak itu terlihat masih dengan raut wajah sedihnya. "Paman, dimana baby Tae? Adikku, ayo kita cari adikku paman,"
Benar, segera menemukan baby Tae adalah hal pertama yang harus dilakukan. "Joon, paman akan mencari adikmu. Tapi ... maukah Joon menunggu di rumah Arsen hyung?" -tanya-nya, hati-hati.
"Baiklah paman," -jawab anak itu, dengan wajah datar.
Keesokan harinya, sebanyak 7 orang pengawal yang sangat dipercaya oleh Stefan, ditugaskan untuk membawa Joon ke Jakarta.
Stefan pun menghubungi Gina bahwa Joon akan datang lebih dulu karena dirinya masih harus menemukan baby Tae yang diyakini masih berada di Korea Selatan.
Puluhan Tim pencari baby Tae mulai bergerak sesuai arahan. Mereka tersebar diseluruh Korsel dengan harapan bisa menemukan bayi malang itu.
"Pengacara Jung, apa ... Tuanmu punya musuh besar?" -tanya Stefan.
"Tuan, maafkan saya. Sejauh ini, Tuan Kim tidak pernah membicarakan tentang itu." -sang pengacara pun mengaku bahwa dirinya merasa heran kenapa Tuan Kim menuliskan wasiat seperti itu. Menyerahkan seluruh miliknya kepada Stefan termasuk anak-anaknya, jika terjadi sesuatu pada dirinya dan istri.
"Artinya, dia sudah terancam selama ini. Tapi, kenapa dia tidak ceritakan itu padaku? Apa yang dipikirkan pria itu?"
Dibalik kesuksesan seorang Tuan Kim membangun perusahaan dan keluarga kecilnya yang teramat sempurna, ternyata, pria itu memiliki banyak musuh dalam selimut. Yakni, orang-orang yang dikirim oleh sepupu tirinya, masuk ke perusahaan Tuan Kim. Memang, sedari awal Tuan Kim menyadari bahwa anggota keluarga yang tersisa untuknya itu sangat tidak menyukai dirinya. Rasa tak suka itu perlahan menjadi kebencian setelah Tuan Kim berhasil memperistri Nyonya Kim yang merupakan primadona yang menjadi incaran banyak pria, termasuk sepupu tirinya itu, Tuan Baek.
Meskipun menyadari ketidaksukaan saudara tirinya itu, Tuan Kim yang pembawaannya memang santai dan tak takut apapun, mengabaikan kemungkinan bahaya yang bisa saja datang tiba-tiba.
Sayangnya, tidak ada yang mengetahui hal itu selain dirinya sendiri. Mungkin, pria itu tidak pernah menyangka, bahwa ... hal kejam ini akan menimpa dirinya.
.
.
"Daddy! Daddy! Berita apa lagi ini? Kamu lihat. Ada Stefan di berita." -Jenni berteriak memanggil suaminya.
"Mommy, itu uncel? Daddy-nya Arsen Oppa?" -Given ikut mendatangi mommynya.
"Csssh! Tentu saja dia dicurigai sayang. Temanmu itu, dia akan mendapat keuntungan besar atas kematian mendadak ini."
"Dad, kamu kenapa bicara begitu? Baby, jangan tiru daddy kamu. Kata-katanya sangat kasar!" Jenni mengelus perut buncitnya.
"Maaf maaf sayang, emmuah emmuah! Aku memang sangat sensitif tentang Stefan. Entah kenapa aku tidak menyukai orang itu. Sayang, dengar ... Stefan akan menjadi pemimpin tertinggi di perusahaan Tuan Kim setelah ini. Aku berencana menarik kembali sahamku dari perusahaan itu"
Jenni mengambil tangan suaminya lalu berkata: "Jangan sayang, jangan begitu. Jangan lakukan. Bekerjasamalah dengan Stefan. Dia... bukan orang jahat."
"Kau membela temanmu?"
"Bukan. Sayang, kau tidak harus beetemu Stefan. Saat peetemuan pemegang saham, kau bisa diwakilkan sayang. Kan ada Tommy,"
"Baiklah baiklah, aku memang tidak bisa menolak permintaanmu."
Ruang introgasi.
"Apa ... dugaan yang sudah tersebar itu benar?"
Kali ini, Stefan tiba-tiba harus diserang oleh banyaknya pertanyaaan yang mengarah untuk menyalahkan dirinya.
Dengan wajah tak percaya, Stefan balik bertanya : "Apa? Saya, diduga merencanakan semua ini? Kira-kira kenapa aku melakukan hal keji ini?"
"Anda hanya perlu menjawab pertanyaan kami pak, tidak perlu bertanya."
Sumpah, berhadapan dengan tiga detektif dan di interogasi di ruangan pengap seperti ini adalah hal pertama kali bagi Stefan.
"Untuk apa aku membunuh temanku sendiri? Aku memiliki segalanya dari pada dia."
"Mungkin anda tidak sengaja tertarik dengan istrinya, mantan miss Korea yang sangat cantik?"
"Apa? Hentikan pikiran kotor kalian. Istriku jauh lebih cantik dari pada mendiang nyonya Kim." -mengeluarkan dompet dan memperlihatkan wajah Gina dalam foto dihadapan wajah sang detektif.
Melihat reaksi ketiganya yang terdiam tanpa berkedip, Stefan lalu mengambil kembali foto isyrinya itu. "Jangan lama-lama menatapnya."
"Mungkinkah ... anda menginginkan anak-anaknya? Yang kami dengar ... istri anda sudah tidak bisa menghasilkan anak lagi."
Brak!
Stefan memukul meja tiba-tiba. Hal itu cukup mengejutkan para detektif dan pengacara yang berdiri disampingnya. " Sebagai abdi negara yang baik, kalian harus menghormati masyarakat. Jangan berani menghina istriku!"
Baik, jika anda tidak mengaku, kami mohon kerjasama anda. Pihak kepolisian akan melakukan penggeledahan di rumah maupun kantor anda di Indonesia. Selama hal ini berlangsung, anda tetap berada di negara ini. Mohon kerja sama anda pak."
Permintaan terakhir pihak kepolisian ditanggapi oleh senyum kesal diwajah Stefan. "Silahkan, temukan apapun yang kalian cari, tapi ... jangan sentuh istri dan anakku. Ini peringatan."
"Anda tidak perlu mengancam kami pak,"
"Ingatlah yang kukatakan. Jangan pernah membuatku marah." -berdiri, lalu pergi dari sana dengan langkah tegasnya. 'Dasar kurang kerjaan.'
Di dalam mobil Stefan lalu menghubungi istrinya.
[Iya papah!]
[Gin, sayang, hati-hati dirumah. Tim penyelidik dari kepolisian akan mendatangi tempat tinggal kita. Kamu dan anak-anak tidak boleh tinggal jauh dari pengawal. Apa kau mengerti sayang?]
[Iya, aku mengerti. Sayang, Joon sudah tidak terlihat sedih. Dia sangat asik bermain dengan Arsen.]
[Baiklah, aku senang mendengarnya. Sayang, terima kasih karena kamu mau merawat Joon.]
[Emmm. Sayang, cepat temukan baby Tae dan kalian berdua cepat pulang. Lama-lama jauh dari kamu aku takut dan khawatir. Kamu jangan terluka ya,]
.............
Hari-hari berlalu, tiak ada titik teran tenang keberadaan baby Tae. Stefan mulai menyerah. Ia pun memutuskan untuk pulang ke tanah air. Namun, kepulangannya tidak membuatnya berhenti melakukan pencarian. Para Tim pencari yang ia utus bahkan belum menyerah.
Ia kemudian pergi ke pemakaman Tuan Kim. "Aku ... sedang mencari putramu. Bayi malang itu enah berada dimana dan bersama siapa? Seluruh keluarga istrimu juga tidak menculik anak itu. Sementara keluargamu, kau bahkan tidak akrab dengan mereka. Keluarga jauhmu itu ... mereka tidak mencurigakan sama sekali. Tapi aku berjanji, aku akan tetap mencari anak itu. Dia akan jadi putra bungsuku, seperti yang kau inginkan. Beristirahatlah dalam damai. Aku pulang."
Setelah terbukti tidak terlibat dalam perstiwa Tuan Kim, Stefan akhirnya pulang, setelah menyerahkan kuasa penuh kepada wakil CEO di perusahaan tuan Kim itu.
..........
Di Bandara.
"Papa! Papa datang!"
Arsen dengan hebohnya berteriak memyambut kepulangan sang ayah yang sudah beberapa pekan ini tidak ia lihat.
"Ayo Joon," -menarik tangan Joon untuk berlari kearah Stefan.
"Hei, jagoan papah sudah tumbuh besar."
"Iya pah, Pah! Arsen sekarang punya adik. Joon, mau jadi adikku Pah,"
"Begitu kah? Benarkah itu Joon?"
"Iya paman, karena baby Tae tidak akan pulang, jadi ... Joon hanya punya Arsen hyung."
Terenyuh, serasa ada yang yang sedang mencabik hati Stefan saat mendengar pernyataan itu. "Joon, kata siapa baby Tae tidak akan pulang?"
"Kata pak polisi, paman." -jawab anak itu, polos.
Stefan hanya bisa memeluk anak kecil yang sangat malang itu sambil menahan tangisan. 'Joon, kamu harus kuat.'
Tiba di kediaman Yoris.
"Jagoan, kalian berdua segeralah beristirahat. Papah pasti sangat lelah karena menempuh perjalanan jauh."
"Oke Mama," jawab Arsen si penurut itu dan lagi-lagi menyeret Joon, menuju kamar mereka.
Tiba di kamar.
"Papa Arsen, aku sangat merindukanmu." -memeluk erat suaminya itu.
"Aku tahu sayang, tapi aku harus mandi dulu."
"Tidak usah mandi. ini sudah jauh malam. Kita langsung saja."
"Langsung? Kau sudah tidak tahan?"
"Emmm. Benar!" tanpa basa-basi, menyerang bibir suaminya. Menyesapnya dengan lembuat dan penuh perasaan.
Bercinta hingga puas, sampai Gina pun akhirnya langsung tertidur. Wanita itu paling banyak andil malam ini dalam permainan mereka, membuatnya kelelahan.
"Csssh! Dasar kamu, pasti capek yah, seharian urus anak-anak, malamnya kerjain aku sampai terkapar begini. Emmmuh!"
Stefan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Bukannya langsung beristirahat, Stefan malah keluar kamar untuk mendatangi kamar putranya.
Clek.
"Papa!"
"Kalian berdua belum tidur?"
Kedua anak itu menggeleng.
"Baiklah, mari kita bermain sepuasnya. Papa sangat merindukan kalian berdua."
............
__ADS_1
Beberapa bulan kemudian.
Kediaman keluarga Yoris kedatangan tamu tak terduga, saat keluarga kecil itu sedang menikmati makan siang.
"Helena?"
Benar. Seseorang yang datang ialah Helena, dengan seorang bayi perempuan berusia 2 bulan di gendongannya.
Dengan wajah datar, Helena berkata: "Apa ... kalian masih mau merawat anakku?"
"Helena," Gina mendekat, sememtara Stefan hanya diam ditempat. "Kau ... sudah memikirkan ini baik-baik?"
Helena hanya mengangguk pasti, walaupun kesedihan nampak jelas diwajahnya.
ALOVA YORIS.
Itulah nama yang diberikan untuk anak perempuan cantik yang kini resmi mewarisi nama keluarga Yoris itu.
Gina tampak sangat bahagia menerima anugerah terindah itu dalam hidupnya. Mama Veni, sang mama tiri Gina juga sangat bersyukur, anaknya itu mau menerima anak dari mantan kekasih suaminya itu dengan senang hati. "Beruntung Helena mendapatkan sepupu tiri seoramg Gina. Sayang, kamu sangat baik. Mama bangga sama kamu."
"Mah, ini sudah jalan Tuhan untuk kita. Aku bahkan punya tiga anak sekarang."
"Arsen, Joon, kalian berdua sudah punya adik kecil sekarang. Berjanji pada papah, kalian harus menyayangi adik ini, oke,"
"Oke Pah!" -kedua anak itu menjawab serentak.
.
.
Di Seoul.
"Horeee! Baby boy!"
Given dan daddynya terlihat sangat heboh atas launching-nya bayi yang baru saja dilahirkan Jenni.
"JIMIN PARK, Park Jimin. Panggil cucu keduaku dengan nama Jimin." -Titah san grandMa.
"Mah, apa tidak ada nama lain? Kenapa harus itu namanya?"
"Tidak. No debat Mario,"
"Hello dede Jimin, disini ada Given Noona" -Given dengan tingkah menggemeskan melambai-lambaikan tangan di depan wajah adiknya.
Mario lalu membawa bayi itu mendekati mommy-nya.
"Sayang, anak kita sudah lahir. Kamu sangat hebat."
"Daddy, Given mau telepon Arsen Oppa. Mau bilang kalau Given sudah punya dedek."
"Ssssh! Jenn. Kenapa anak ini tidak pernah melupakan Arsen Arsen itu?"
"Sayang, kamu cemburu sama anak sekecil Arsen?"
Mario lalu berbicara dengan muka serius kepada Given : "Sayang, tidak perlu beritahu Arsen Oppa. Bisa-bisa dia akan mengambil adikmu. Mau?"
"No, dad, kalau begitu jangan bilang ke oppa, daddy!"
"Bagus, anak pintar! Mulai sekarang, lupakan oppa itu. Given sudah punya Jimin, oke,"
"Oke Dad,"
......................
...TAMAT....
.
14 Tahun Kemudian.
Joon berlari dari arah pintu utama sambil berteriak memanggil: "Papah! Papah! Mamah! Lihat, aku naik kelas. Lihatlah namaku daftar teratas. Aku juara kelas."
Joon, dengan otak emas warisan dari ibu kandungnya, mengikuti jejak sang kakak, Arsen bersekolah di SMA Internasional di Jakarta. Meskipun sudah tau akan kemampuannya yang selalu mendapat nilai sempurna, anak remaja itu masih saja heboh, padahal itu sudah biasa baginya.
"Wah selamat sayang, kamu memang selalu juara. Mama sangat senang. Papa pasti juga senang. Tapi ... papa masih di kantor. Kamu bisa beritahu papah nanti saat pulang. Gantilah bajumu dan makan siang bareng mama."
"Oke mah,"
Di Kantor!
Tok tok tok,
Clek,
Arsen muncul dari pintu masih dengan seragam sekolah lengkap. Ia bertanya-tanya, kenapa papa memanggilnya ke kantor.
"Masuklah Sen, jangan hanya berdiri disitu."
"Ada apa papa memanggilku?" -memposisikan dirinya duduk berhadapan dengan ayahnya.
"Sudah, pah!"
"Sudah? Lalu kenapa masih memqkai seragam sekolah?"
"Karena masih ada urusan di sekolah pah,"
"Kalau begitu, siapkan barang-barangmu, papa akan mengantarmu ke Seoul."
"Seoul?" -dengan wajah bingung.
"Iya. Mulai sekarang, kamu akan ganti posisi papah disana."
"Apa?" Sontak berdiri dari duduknya. "Pa! Aku masih akan kuliah. Lagipula itu perusahaan milik Joon. Kenapa aku yang harus mengurusnya?"
"Duduklah! Kenapa kau membentak papa? Lagi pula kamu sudah biasa kan, kamu pikir kenapa selama ini papa melibatkanmu di perusahaan? Itu karena papa mengandalkanmu."
"Tidak! Aku menolak."
"Arsen, hanya beberapa tahun saja. Sebelum Joon bisa mewarisi semua itu, kamu yang harus bantu papa. Yah, lakukan demi adikmu! Oke, kau akan kuliah di kampus manapun yang ada di kota itu."
"Pa! Tapi ..."
"Kenapa? Pacarmu? Apa kau punya pacar yang tidak bisa ditinggalkan?"
"Aku tidak berpacaran,"
"Ya sudah, jangan membantah! Bantu papa, oke?"
.
"Papa! Apa kau gila? Mentang-mentang putramu itu sangat penurut, kau ingin memasukkannya ke sarang penyamun?"
Gina terlihat tidak sepakat akan keputusan Stefan yang tiba-tiba untuk Arsen.
"Pah, jangan! Aku tidak mau berpisah dengan kakak. Kalau kakak pindah ke Seoul, aku akan ikut!"
"Joon, belum waktunya kamu kesana."
'Tidak, Joon memang tidak boleh kembali ke kota itu saat dia belum memiliki kekuatan apa-apa Seperti sekarang.'
Tamat.
Terima kasih banyak sudah mengikuti kisah ini, Salam sehat buat semuanya!
Love you guysπ₯°
...****************...
PROMO NOVEL TAMAT
Judul : Perjodohan Janda Duda
πππππππππ
Bab 1
"Ma... kenapa mama harus memaksaku menikahinya? Aku hanya ingin mengurus butikku dari pada mengurus seorang suami! Lagi pula aku punya Marsha."
Fema tidak terima saat ibunya kembali memintanya untuk menikah lagi.
"Apa kamu tidak kasihan Marsha? Setiap ulang tahunnya, hadiah yang dia inginkan hanyalah seorang papa. Dimana hati kamu Fema?"
"Maaa.. aku sudah tidak ingin membuka hatiku pada pria yang lain. Mengertilah."
"Kau turuti saja dulu. Mama sudah terlanjur berjanji dengan ayahnya Juan. Tolong jangan membuat mama malu. Besok kita akan bertemu dengan mereka. Titik."
.
************************
"Pa.. hentikan ide gila papa itu. Aku tidak ingin menikah lagi. Titik."
"Kau sangat sibuk Juan. Tidak ada waktumu menemani anak-anakmu. Apa kau mau mereka tumbuh menjadi orang yang tak berperasaan sepertimu? Jika mereka punya ibu, mereka tidak kesepian."
"Yang terpenting aku selalu memberikan apa yang mereka butuhkan pa. Banyak hal yang mereka miliki. Mereka tidak pernah kesepian."
"Papa tidak peduli. Kau harus menerima pernikahan ini." Tegas.
"Kakek, aku tidak mau punya ibu tiri." (Jerry)
"Aku juga tidak mau punya ibu tiri." (Ferdo)
__ADS_1
Ketus kedua remaja laki-laki itu, yang mendatangi papa dan kakeknya yang tengah berdebat.
"Hei.. kalian berdua sangat tidak sopan. Jangan mengganggu saat orang tua sedang bicara hah?" Kakek tak kalah ketus.
"Juan, bersiaplah. Besok adalah hari pertemuan keluarga kita. Titik."
.
**********************************
"Nenek, benarkah aku akan punya papa?" Marsha bersemangat setelah selesai mempersiapkan diri untuk berkenalan dengan calon papanya.
"Benar sayang.. selain papa, Marsha juga akan punya 2 orang kakak laki-laki." Si nenek tak kalah bersemangat.
"Marsha.. kamu itu sudah 8 tahun. Jangan bersikap seperti anak TK lagi. Bersikaplah biasa saja saat bertemu mereka. Jangan senyum-senyum berlebihan." Fema memperingati anaknya itu.
Ketiganya pun mememasuki mobil Honda Jazz berwarna putih kesayangan Fema.
.
.
*********************************
Empat orang pria dari tiga generasi. Yakni kakek Mahendra, Papa Juan, Jerry dan Ferdo, memasuki restoran mewah yang ada di salah satu sudut kota Jakarta. Para pengunjung lainnya terlihat kagum akan pemandangan langkah ini. Para pria tampan yang berjalan dengan santai tanpa melihat sekelilingnya. Terlihat penuh dengan wibawa.
Keempatnya memasuki Ruang VIP yang telah diatur oleh Mahendra dan sahabatnya, Iriana.
.
10 Menit kemudian.
Muncullah tiga orang wanita yang ditunggu!
Tanpa disadari dirinya dan siapapun, Juan menelan kasar, ketika melihat Fema untuk pertama kalinya. Tentu saja Juan langsung bisa menebak, mana wanita yang akan dijodohkan dengannya.
"Hai.. Iriana.. silahkan duduk." Mahendra menyapa sahabat lamanya itu.
Iriana mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan Mahendra, lalu mempersilahkan putri dan cucunya untuk duduk.
Fema sengaja menempatkan tubuhnya ditempat duduk yang berhadapan dengan putra sulung Juan. Marsha? Gadis umur 8 itu berhadapan dengan Juan.
"Apa ini? Dia sengaja tidak ingin duduk dihadapanku?" Batin Juan.
Fema melirik ABG yang ada dihadapannya ini. Menyapanya dengan lewat mata.
"Wah.. aku merasa tatapan anak ini sangat dingin! Batin Fema.
Benar saja. Jerry sudah melayangkan tatapan tak suka pada Fema. "Aku tidak menginginkan ibu tiri." batinnya kesal.
Pertemuan dua keluarga itu pun dimulai dengan perkenalan. Tentu saja orang pertama yang saling berkenalan ialah Juan dan Fema. Keduanya hanya menampakkan ekspresi datar. Seperti tidak ada ketertarikan satu sama lain di pandangan pertama.
Tibalah waktunya berkenalan dengan anak-anak!
"Hai... nama saya Marsha paman!" Marsha tersenyum menjabat tangan Juan.
"anak yang ramah" batin Juan.
"Hai Marsha.. senang bertemu denganmu." Jawab Juan dan memberi senyum singkat.
Sekarang giliran berkenalan dengan dua remaja itu. Kalau saja kakeknya tidak memaksa, kedua anak itu tidak akan sudi berjabat tangan dengan Fema dan Marsha.
"Saya Jerry."
"Saya Ferdo."
Keduanya menjabat tangan Fema bergantian. Fema pun menyebut namanya.
"Hai kak, saya Marsha!" Gadis kecil itu berusaha memberikan kesan menarik kepada dua calon kakaknya ini. Marsha tersenyum lebar.
Terlihat dua remaja itu membuang nafas kasar lalu menjabat tangan Marsha..
"Anak kecil sok imut!" Batin Jerry.
.
.
Setelah menyelesaikan acara makan, Mahendra meminta ketiga anak itu untuk keluar dari ruangan.
"Ferdo! Jerry! bawalah Marsha menunggu diluar.
"Kenapa harus keluar keeek?" Protes Ferdo. Sementara Jerry, wajahnya seketika berubah kesal.
"untuk apa menunggu diluar segala?
"Ini urusan orang dewasa. Kalian tidak perlu dengar!" Tegas kakek.
"Juan hanya menjentik-jentikkan jarinya pada meja. Baginya, ia hanya perlu menunggu. Apa yang akan orang tua ini katakan selanjutnya.
Ketiga anak itu pun keluar. Diluar ternyata ada pak Eko, supir sang kakek dengan setianya menunggu.
"Heh! Anak kecil! Ku beritahukan padamu, kami tidak suka ibu tiri." Ketus Jerry, berhasil membuat air muka Marsha berubah merengut.
"Tapi kak, aku ingin punya papa!" Jawabnya dengan wajah memelas.
"Heh.. Asal tau saja. Papa kami tidak mungkin mau punya anak sepertimu. Kami berdua saja jarang diperhatikan olehnya." Tandas Ferdo.
"Dan lagi, jangan pernah panggil aku kakak seperti tadi!" Sambung Jerry.
.
.
Didalam ruangan.
"Apa yang ingin papa katakan.? Aku tidak punya banyak waktu berlama-lama disini!" Ucap Juan datar.
"Menikahlah lagi.. dengan putri sahabat papa yang ada didepanmu ini!"
"Pa... Aku sudah bilang, aku tidak ingin menikah lagi."
"Bagus" Batin Fema.
"Fema! Ayolah.. mama ingin kamu menikah dengannya!"
"Maaf ma, paman.. tapi kenapa kalian harus memaksa kami menikah?? Kami bahkan baru kenal hari ini--"
Juan melayangkan tatapan mengancam kearah Fema. Menurutnya, perkataan Fema akan membuat kedua orang tua itu berfikir memberi waktu untuk saling mengenal.
"Kenapa dia menatapku begitu? Apa aku salah? "kesal Fema.
"Lagi pula kami tidak saling menyukai pa!" Protes Juan, kesal.
"Mahendra, bagaimana kalau begini saja. Kita beri waktu mereka untuk saling mengenal! Kurasa itu ide bagus!" Celetuk Iriana.
"Kau ada benarnya Iriana!"
Fema tersenyum legah.
"Kenapa wanita ini malah tersenyum? Jadi dia setuju kita saling mengenal?" Juan berdecak dalam hati.
"Aku berikan waktu kalian untuk saling mengenal satu sama lain selama 4 bulan."
Juan dan Fema sama-sama mengerutkan alis, tak percaya. "Pa.. empat bulan terlalu lamaa" Juan mulai meninggikan nadanya.
"Papa belum selesai Juan. Dengarlah dulu." Ucap papa, tenang.
"Saling mengenal selama empat bulan, setelah kalian menikah!"
"Apaaaaaa?"
"Jika dalam 4 bulan kalian tetap tidak bisa saling menerima, kalian boleh bercerai! Tidak sulit kan?"
Jlebbbb.
Semua orang terdiam, sibuk dengn pikirannya masing-masing.
hening
hening
"Nak..." Iriana mulai mengeluarkan suara. "Kami berdua adalah sahabat lama. Kami ingin kalian menjadi pengikat persahabatan kami. Kami juga sudah terlanjur mengumumkan perjodohan ini kepada seluruh kerabat kami." Iriana terlihat frustasi.
.
"Baiklah, jika hanya.... empat bulan." Ucap Juan, datar.
.
.
.
Gaes... Selamat datang dicerita ini!
Gess, biasakan jempol kalian untuk setidaknya like setelah bacaπ
Semoga kalian suka ya,,,
Trima kasih gaesπ.
__ADS_1
Bersambung.... Yuk mampir..