
"Ayo, jalan."
Pasangan itu pun berjalan beriringan.
"Eit, tunggu!"
"Iya, Mah?"
"Gandengan, sayang."
"Oh," Stefan mengangguk dan memberi lengannya agar di gandeng oleh Gina. Karena merasa tidak enak, tentu saja Gina menurutinya.
"Oke, berbahagialah disana sayang, anggap ini adalah kencan kalian." teriak mama pula. Kedua orang itu hanya menampilkan senyum kecil.
DI DALAM MOBIL.
'Kenapa dia memintaku mengenakan dress sexy kalau toh dia juga yang menutupnya?'
'Tapi, tak apalah Gina. Lumayan, dapat perhatian darinya.'
'Husss. Gina, berhentilah dengan dunia halumu.'
'Apa? Buat dia jatuh cinta padaku? Yang benar saja. Makin kesini, akulah yang semakin jatuh cinta padanya'
Lagi-lagi Gina bermonolog, dirinya juga tidak begitu percaya diri untuk memulai obrolan antara mereka.
"Gina,"
"Eh? Yah?"
"Mungkin ditempat acara akan ada Helena."
"Yah? Terus?"
"Maksudku, tetaplah berada disebelahku. Jangan biarkan dia melihat cela diantara kita."
"Iya, kak. Aku mengerti."
"Satu lagi, jangan sampai orang-orang mendengar kau memanggilku kakak."
"Yah?"
"Hilangkanlah kebiasaan mu itu. Kau selalu memanggilku kakak dan terkadang kau hanya menyebut namaku saja. Tidak sopan."
'Eh? Jadi dia keberatan?'
"Maaf, jadi ... diantara keduanya, lebih suka panggilan apa?"
"Aku tidak suka keduanya."
"Lalu?"
"Gin! Aku adalah calon suamimu. Aku juga adalah ayah dari anakmu. Pikirkanlah kau harus memanggilku apa."
__ADS_1
'Apa? Sayang?'
"Baiklah, aku akan memikirkan panggilan lainnya."
TIBA DI TEMPAT ACARA.
Tempat itu sudah ramai dihadiri oleh Alumni seangkatan Stefan.
'Waaaw keren. Alumni mereka pasti orang-orang kelas atas, sehingga mampu membuat acara reuni ditempat berkelas ini.'
"Gina, kau lupa menggandengku?"
"Maaf, tapi aku merasa gugup. Kali ini tidak perlu gandengan lagi."
"Baiklah, terserah kau saja."
Keduanya berjalan beriringan.
"Nah, ini dia bintang acara kita sudah datang."
Semua orang menyambut baik kedatangan Stefan.
Mereka adalah juga orang-orang sukses dibidangnya masing-masing. Jadi tak heran, hanya acara reuni saja harus semeriah ini.
"Ow... lama tak ada berita tentang asmaramu, ternyata kau sudah ada gandengan Stefan?"
"Oh, ya ... kenalkan, dia Gina. Calon istriku."
Gina pun menyapa mereka semua dengan kata "Halo"
Sementara pada posisi tak jauh dari mereka, Helena tengah memberi sorotan tajam lewat kedua matanya. 'Awas saja Gina, aku akan membalasmu. Kita lihat akan bagaimana reaksimu saat aku berhasil membuat Stefan meniduriku. Tunggu saja. Aku tidak akan membiarkanmu memiliki dia.' Wanita itu bahkan mengeraskan rahang, saking kesalnya melihat Gina bersama Stefan.
"Sudahlah Helena. Biarkan Stefan. Lebih baik kau fokus mencari pria yang lain. Masih banyak pria lain."
"Diam Rena, kau tidak perlu mengkhawatirkan perasaanku. Aku pasti akan merebutnya kembali. Aku yakin, Stefan hanya belum memastikan perasaannya padaku."
Rena hanya menggeleng sembari menaikkan bahu.
.....
"Hai Stefan, kita bertemu lagi." sapa seseorang yang cukup Stefan kenal.
"Rio. Lama tidak bertemu," balas Stefan.
Mata nakal milik pria yang bernama Rio itu tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Gina.
Melihat itu, tentu saja Stefan memanas. Beruntung ia sudah menutup tubuh Gina dengan jass miliknya. jika tidak, akan menjadi pemandangan yang sudah pasti sangat dinikmati oleh pria yang haus akan wanita itu.
Merasa dirinya menjadi objek sasaran mata usil pria dihadapannya, akhirnya Gina menggandeng lengan yang sempat ia tolak beberapa menit yang lalu, berhasil membuat Stefan menoleh.
'Dia baru sadar kalau memang harusnya dia melekat dengan lenganku.' Stefan tersenyum menatap Gina.
"Fan, aku sepertinya mengenal gadis yang kau bawa ini. Nona, apa kita pernah bertemu?"
__ADS_1
"Belum. Saya tidak mengenal anda," jawab Gina.
"Oh, mungkin aku salah orang," sambung Rio lagi, tak lupa memamerkan senyumannya.
Dipertengahan acara, Gina merasa harus ke kamar kecil.
"Aku akan mencari toilet. Rasanya aku ingin pipis." bisik Gina, polos.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu. berbincanglah dengan temanmu."
"Baik, hati-hatilah."
Gina pun mengangguk.
.
Keluar dari toilet, tiba tiba.
"Hai Gina!"
Seorang pria tampan tengah berdiri melipat kedua tangan, seperti sengaja menunggu Gina.
"Kamu? Permisi, saya mau lewat."
"Aku penasaran, bagaimana caranya kau mendapatkan Stefan?"
"Apa?"
"Apa kau mengira dia serius denganmu? Hei, dia itu milik Helena. Semua orang tahu itu Gina,"
Gina tersenyum dingin. Aku tidak peduli. Permisi."
"Tunggu." Pria itu menahan tangan Gina.
"Aku ini adalah Rio. Aku tidak pernah ditolak oleh wanita manapun. Apa kau tidak tertarik padaku?"
"Apa? Kenapa aku harus tertarik? Lepaskan tanganku."
"Maaf, tapi aku tidak ingin melepasmu kali ini. Aku sudah lama mencarimu."
"Jangan gila Rio, aku rasa kau sedang mabuk. Jangan macam-macam padaku."
"Aku sudah lama menginginkanmu, sejak di universitas. Tapi kenapa kau tidak pernah melihatku? Kenapa kau menghilang begitu saja?"
"Apa? Maksudmu Rio?"
"Aku tahu kau menyukai Stefan sejak dulu. Sekarang sepertinya kau berhasil mendekatinya. Aku pastikan, aku juga akan berhasil mendapatkanmu."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.