
Menjelang sore.
Gina sedang bermain dengan Arsen di ruang keluarga.
Security masuk dan mengatakan bahwa ada tamu yang datang. Ternyata, tamu yang datang ini sangat tidak sabaran. Ia pun nyelonong saja masuk.
“Haii” sapanya. Ternyata, dia adalah helena.
Karena kemunculan Helena yag tiba-tiba, Gina sudah tidak sempat kabur.
‘Oh, jadi benar. Dia anak tiri tante Veni.’ Menyoroti Gina dari atas sampai bawah.
“Hai” balas Gina, menyapa.
“Halo tante!” Sapa Arsen pula.
“Hei ganteng! Ini tante bawakan sesuatu” memeberikan mainan kepada Aesen.
“Uwwwaaaaa. Terima kasih tante” tersenyum senang.
Stefan menuruni tangga dengan setelan casual. Membuatnya terlihat makin keren. Pria itu tidak nampak terkejut akan kedatangan Helena.
‘Tentu saja mereka sudah janjian’ batin Gina.
“papa ... tantenya kasih Arsen mainan baru. Keren Pah,” lapor bocah itu pada papanya. Jangan lupa wajah bahagianya itu loh, terlihat sangat menggemaskan.
“Owh, sudah bilang terima kasih boy?”
Arsen mengangguk.
“Emmm Fan” Helena mendekati Stefan dan tanpa malu, menggelayut di lengan pria itu.
Stefan melirik Gina, ingin tahu apa reaksi pengasuh anaknya itu ketika melihat aksi Helena. Tak disangka, Gina malah tersenyum ramah kearahnya dan benar- benar terlihat baik-baik saja.
“Stefan, bagaimana kalau kita ajak Arsen sekalian?” tanya Helena.
“Owh, kamu tidak keberatan pergi bersama putraku?”
“Tentu saja tidak, aku harus membiasakan diri dengannya” tersenyum hangat yang dibuat-buat.
‘Owh ... jadi mereka sudah balikan? Cepat juga!’ Gina membatin.
Arsen terlihat sangat bersemangat akan diajak jalan-jalan. “Mama, Arsen jalan-jalan sama Papa dulu yah,” pamitnya.
“Iya sayang, jangan nakal yah” memberi kiss di pipi Arsen.
Stefan memicingkan mata penuh selidik. ‘Apa dia tidak cemburu? Kenapa dia terlihat biasa-biasa saja? Sial,’ Stefan mengumpat. Entah kenapa, dirinya ingin melihat kecemburuan Gina, namun hal itu benar-benar tidak nampak.
Gina menatap kepergian ketiga orang itu sampai menghilang dari pandangannya.
Tanpa disadari Gina, nyonya Yoris sedang memperhatikan dari tempatnya berdiri. ‘Gadis ini benar-benar sesuatu, dia bisa berperang melawan hatinya sendiri. Bikin gemesh aja,’ batinnya. Ia pun menghampiri Gina.
“Gin,”
“Eh? Nyonya?”
__ADS_1
“Kenapa kamu biarkan orang asing membawa mereka?” tanya nyonya itu tanpa basa-basi.
“Nyonya, anda harus percaya, saya tidak memiliki perasaan apapun pada pak Stefan.”
“terserah kamu Gin, yang jelas, saya setuju kalau kamu menyukai putraku sebagai pria. Gin, bagaimana kalau kita susun rencana, biar Stefan hanya melihat kamu, kita jebak dia biar dia jadi milik kamu selamanya! Kamu mau?”
“Tapi kenapa nyonya? Kenapa nyonya terdengar seperti sangat menyukai saya?”
“Karena kamu terlihat tulus Gin. Kamu akan jadi ibu yang baik untuk Arsen. Itu yang saya inginkan.”
‘bagaimana kalau anda tahu yang sebenarnya? Mengetahui bahwa sayalah yang telah melahirkan cucu anda dan meninggalkannya? Apa akan tetap menyukaiku? Aku yakin, dengan karakter anda yang blak-blakan, anda tak akan segan melempar saya ke jalan.’
“Nyonya, bagaimana jika ibunya Arsen tiba-tiba muncul? Apa yang akan anda lakukan?”
“Apa? Kenapa kamu bahas wanita itu? saya tidak ingin membahasnya.”
“Saya yakin, dia punya alasan kenapa meninggalkan Arsen, Gina! Tapi ... ini sudah sangat lama. Aku berpikir dia akan datang dan mengakui putranya itu. tapi nyatanya, dia tidak datang, dia wanita yang paling tega. Ah, sudah. Jangan bahas wanita itu didepanku. Aku tidak ingin tahu siapa dia. Yang aku inginkan sekarang, kamu jadi ibu sesungguhnya untuk cucuku. Aku juga percaya Gin, putraku akan membuka hatinya untukmu kalau kamu berusaha.”
Gina terdiam. Dugaannya benar. Nyonya Yoris sedikit membenci wanita yang telah melahirkan Arsen tanpa tanggung jawab. Membayangkan itu, Gina merasa merinding.
\=\=\=\=
Di perjalanan.
“Fan, jadi perempuan tadi adalah pengasuh yang dipanggil mama oleh Arsen?”
“Iya benar, dia bernama Gina.”
“Emmmm apa bukan dia yang melahirkan Arsen?”
“Apaaaa?”
Stefan benar-benar merasa aneh dengan pertanyaan Helena. Ini sungguh membuatnya kepikiran.
\=\=
Malam harinya. Waktu menunjukkan hampir pukul 7 malam.
Lokasi taman terdekat dengan kediaman Stefan, Gina benar-benar mendatangi tempat ini.
Seorang pria muda tampan, sedang berdiri mematung disana.
“Niooo” ada suara yang memanggilnya.
Pria itu berbalik dan langsung sakja merentangkan kedua tangannya.
Gina berlari dan masuk ke pelukan pria itu, Nio Fernando, adiknya.
“Hiks hiks hiks” Gina, menangis.
“jangan menangis. Jangan menangis kakakku, nanti kecantikanmu bisa luntur.”
Lama dalam posisi itu, Nio pun ikut meneteskan air mata.
“Kakak, maafkan aku yang tidak bisa melindungi kakak.”
__ADS_1
Gina pun mengurai pelukannya.
“Nio, ini bukan salah kamu. Kakak memang wanita bodoh. Maaf karena kakakmu ini tidak bisa jadi contoh yang baik untukmu Nio”
Nio menghapus airmata kakaknya itu. “lalu dimana dia kak? Mana keponakanku? Hmmm?”
“Tunggu, dari mana kamu tahu kakak tinggal dirumah itu?”
“Dari mama dan kak Helena. Aku ... tidak sengaja mendengar mereka membicarakannya.”
“Helena? Dia kakakmu?”
“Ka Helena itu keponakan mama kak, jadi ... dia sepupu kita.” Jelas Nio.
‘Berarti, sekarang Helena tahu aku adalah anak tiri tantenya.’
“Kak, bilang sama aku, bagaimana kisah kakak selama ini? Kenapa kakak berakhir sebagai pengasuh? Apa ... anak itu adalah putramu?”
Gina terdiam.
“Nino, beberapa hal masih rahasia. Kakak tidak berani menceritakan apapun.”
“Kakak tidak mempercayaiku?”
Setelah berpikir dengan penuh pertimbangan, Gina pun menceritakan semuanya kepada adik laki-lakinya itu.
Teriris, sakit. Itulah yang dirasakan oleh Nio, saat mengetahui semuanya. Tentang perjuangan kakaknya, tentang cinta tak kesampaian dan penyakit yang sempat bersemanyam di tubuh kakaknya itu. Nio merasa bersalah dan juga terlebih lagi merasa marah pada kedua orangtuanya.
“kalau begitu, ayo pergi kak, bawalah anakmu. Menghilanglah bersamanya.”
“Iya, itu yang kakak ingin lakukan. Tapi ... apa kau tahu Nio, kak Helena-mu itu adalah cinta pertama papa-nya Arsen.”
“Apa?”
“tapi ... dialah yang menyebabkan Stefan meniduri kakak.”
“Apaa? Jadi ... kaka Helena tahu kalau –“
“Tidak. Dia tidak tahu kalau kakak adalah wanita malam itu.”
“tapi ... bagaimana kak Helena berbuat seperti itu? apa maksud dia?”
Gina pun menceritakan tentang jebakan yang diatur oleh Helena dan bagaimana Ginalah yang menjadi pahlawan yang berakhir menjadi korban malam itu.
“kakakmu ini memang bodoh Nio,” Gina tersenyum pahit kearah adiknya.
“Jadi kakakku segila itu pada pria itu?”
“Itu tidak penting Nio, yang harus kamu lakukan sekarang, bantu kakak supaya bisa menghilang bersama Arsen. Kamu maukan?” Gina memohon dengan wajah penuh harap.
.
.
.
__ADS_1
bersambung.
Gaes.. besok upnya libur yah, soalnya othor lg ngerjain tugas negara🤭 (Pembuatan soal untuk melatih kecerdaskan anak bangsa)🙏