
Maaf guys... telat skali upnya. Belakangan ini othor ada banyak pekerjaan🥰.
Ayo kita lanjut.
.
.
"Given sayang, jangan nakal ditempat Grand'ma ya," -Mario menggendong anaknya itu dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain saling bertautan dengan jemari sang istri. Mereka mengantar anak itu sampai ke mobil.
"Ya ampun, si Mario! Apa dia pikir istrinya akan menghilang kalau di lepas sebentar saja?" Nyonya Park Yoo Ra membantin seraya menggeleng heran, membuntuti ketiganya dari belakang.
"Oke Daddy, Daddy juga jangan nakal ya, harus sayang mommy Given." -Given tak pernah lupa untuk mengingatkan sang ayah agar selalu menyayangi ibunya. mmungkin, yang dimaksud anak itu adalah ... agar sang Daddy tidak berlaku kasar terhadap si Mommy, seperti yang sebelumnya pernah ia lihat.
"Itu tidak perlu diragukan sayang. Mommy kamu adalah kesayangan daddy."
"Iya kan sayang?" mendaratkan satu kecupan pada tangan Jenni yang ia pegang, ditambah dengan kedipan nakal sebelah matanya, yang hanya dibalas fake smile oleh Jenni.
"Apa kau tidak malu? Mama di belakang kita. Jangan bertingkah aneh." -bisik Jenni, namun tidak dihiraukan oleh Mario.
.
.
"Mario, Jenni! Terima kasih kalian sudah mau berbaikan seperti ini. Given terlihat sangat bahagia. Kalau sudah begini, mama rasa mama bisa mati dengan tenang sekarang."
"Mama yakin ingin mati sekarang?" gurau Mario.
"Anak gila." -puk! memukul lengan Mario. "Tentu saja tidak. Mama masih menantikan adiknya Given."
"Tenang Ma, aku sedang usaha. Baru juga sekali cetak. Belum tentu jadi."
"Aw! Sayang," -merintih sakit, terkena cubitan tak seberapa dari Jenni. Tak lupa, wanita itu sedang melotot dengan mata menakutkan.
"Grand'Ma, Mommy! Jangan siksa daddy Given!" -Ujar bocah perempuan itu, yang sudah duduk manis di dalam mobil, namun melihat daddy-nya mendapat perlakuan sedikit kasar, menurutnya. Ia pun melayangkan protes.
__ADS_1
.
.
Di tempat lain, masih di Korea Selatan, Kota Seoul.
Hari ini Stefan dan Gina berencana untuk jalan-jalan tanpa si pangeran tampan. Sebab, bocah kecil itu masih menikmati kebersamaannya bersama Joon, tentunya.
.
.
"Gina?"
"Oh? Jenni?"
Tanpa sengaja, mereka bertemu di lobi hotel, tentunya dengan pasangan masing-masing yang sepertinya tak sudi untuk saling menyapa satu sama lain.
"Kalian berdua ... menginap di hotel ini?"
"Emmm. Kita berdua, mau jalan-jalan." melirik sekilas kearah suaminya.
"Jenn, bagaimana kalau kita pergi sama-sama?"
"Oke,"
Keduanya pun bicara dengan suaminya masing-masing. Akhirnya, setelah mengungkapkan keberatan yang sia-sia, terpaksa Mario dan Stefan setuju untuk pergi bersama.
'Sial, kenapa dua orang ini mengganggu waktu berduaanku dengan Jenni?'
'Gina, apa istriku sudah gila? Untuk apa dia mau pergi dengan mereka? Dia benar-benar tidak peka. Sudah tahu aku tidak menyukai Mario menghirup udara yang sama dengannya.'
.
Di dalam Mobil.
__ADS_1
Jenni dan Gina duduk bersebelahan di belakang kemudi dan posisi Mario berada di belakang Stir dengan Stefan yang dengan terpaksa duduk disebelahnya.
Tiba di Mall.
Tujuan utama adalah shopping.
"Aku jarang menemani wanita berbelanja. Kalian berdua jangan terlalu lama."
"Tenang Fan, masih ada tempat yang harus kita kunjungi setelah ini. Kami tidak akan lama. iya kan Gina?"
Gina hanya menjawab singkat dengan 2 kata "tentu saja."
"Aku belum pernah menemani wanita berbelanja. Kira-kira kalian akan memakan waktu berapa lama?"
"Mario, kami masih waras dengan makan makanan sehat. Kami tidak terbiasa memakan waktu. Ya kan Jen?"
"Pfffff! Hahaha, Gina! Ternyata kau bisa melucu?"
(Mario, terngakak).
Aksi refleks Mario benar-benar terlihat menyebalkan dimata Stefan. "Siapa yang mengizinkanmu bersikap ramah pada istriku?"
"Fann? Kau masih mencemburui suamiku? Jangan gila. Dia tidak tertarik lagi dengan Gina.
"Astaga- astaga, maafkan aku papa Arsen. Aku hanya berusaha mengusir kecanggungan antara kita. Kalian berada di jarak dekat, tapi todak saling bicara."
Berakhirnya perdebatan dua wanita itu pun berjalan melenggang memasuki mall, tanpa menghiraukan apakah suami mereka akan menyusul atau tidak.
"Suamimu benar-benar kekanakan, Gina. Apa kau baik-baik saja tinggal bersamanya? Tidak tertekan?" (menggelang).
"Dia seperti itu karena cemburu. Biarkan saja Jenn, lagi pula dia hanya menekanku di tempat tidur. Itu membahagiakan." (Tertawa bahagia).
.
.
__ADS_1
Berdambung....