Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
My Son


__ADS_3

“Gina,”


“Eh, Iya pak,”


“Kita jalan.”


Gina pun bangkit dari kursi kerjanya, dan mengikuti langkah


kaki Stefan.


Sepanjang jalan, Gina hanya diam. Bukan karena jaga imageg,


tapi, ini adalah hari pertamanya bekerja. Ia tidak ingin karena salah bertanya


atau salah berbicara akan berdampak buruk bagi kelangsungan pekerjaannya.


Mobil yang membawa keduanya berhenti di salah satu Retoran .


Gina bertanya-tanya dalam hati, mau apa dirinya diajak kesini. Namun, sesegera


mungkin ia menjawabnya ‘Ya mau makan lag Gin, apalagi?”


“Silahkan duduk Gin,” Stefan mempersilahkan Gina duduk di


kursi yang berada di depannya, dan meja sebagai pembatas. Gina? Apa lagi? tentu


saja perempuan itu menuruti.


‘Kenapa aku merasa dia sangat pendiam?’ batin Stefan, karena Gina tidak kunjung berbasa-basi.


“Takoyaki, Sushi, steak,  paprika mentah, nasi dan air mineral  untuk 2 orang.”


Stefan menyebutkan menu makanan yang akan mereka makan, tanpa bertanya pada Gina, menu apa yang ingin dia makan.


‘Kenapa dia menyebutkan semua makanan kesukaan aku? Apa dia


tau aku menyukai semua menu itu?’


“Kenapa melihatku begitu?” tanya Stefan, sukses membuat Gina menetralkan raut wajahnya yang menatap Stefan dengan ekspresi keheranan.


 “Eh, pak? Maaf.”


“Gina, jangan salah paham. Saya ajak kamu makan malam bukan dengan maksud berlebih. Ini adalah hari pertamamu sebagai sekertarisku, anggap


saja ini adalah makan malam penyambuanmu.” Entah apa maksud Stefan mengatakan


itu, Gina menanggapinya dengan hanya tersenyum. Senyauman yang lagi-lagi mampu

__ADS_1


menghipnotis seorang Stefan Alvaro.


“Permisi, ini menu pesanan anda. Silahkan dinikmati Tuan, Nona!”


“Oh, iya. Terima kasih” Stefan tersadar dari lamunannya.


‘Waaaaa! Akhirnya, aku ...bisa makan semua ini lagi?’ Gina menatap penuh minat mekanan yang sudah tersaji di hadapannya.


“Silahkan dimakan Gina,”


“I—iya pak, akan segera saya makan.” Tanpa tunggu aba-aba selanjutnya, Gina menyantap hidangan miliknya itu.


‘Dia doyan apa lapar? Waaaah ... napsu makannya sangat bagus. Tunggu, apa tadi dia tidak makan siang? Kenapa dia terlihat seperti orang yang baru bertemu makanan?’


Sadar jika Stefan sedang menatapnya, Gina tak peduli. Meskipun terlihat jelas dirinya sangat menyukai menu ini, tapi Gina tetap


menjaga etika saat makan agar tetap terkesan anggun.


‘Dia tetap cantik walaupun sedang makan’ satu detik kemudian, Stefan terlihat menekan pijatan pada pelipisnya. Tak habis pikir dengan dirinya sendiri. ‘Kenapa denganku? Aku pasti sudah gila. Untuk apa aku selalu memuji dia dalam pikiranku?’


‘Kenapa aku merasa dia sedang memperhatikanku?  Apa dia terpesona?astaga, pikir apa aku? Jangan gila Gina’


Drrrt drrrrt drrrt.


My Son memanggil. Gina sontak membelalakkan mata ketika


Stefan lalu menggeser penjawab dan mengaktifkan loadspeaker ponselnya.


“Halo Boy”


“Papa, kok lama gak pulang? Arsen tungguin papa loh”


‘Arsen? Itu, suara Arsen? Anakku?’


“Oke sayang, papa akan segera pulang. Arsen jangan lupa makan malam yah,”


“Ukkhe papa”


Tut tut tut.


“Gina, kamu kenapa?”  stefan merasa aneh melihat raut wajah Gina yang tampak berubah.


“oh, maaf pak, sepertinya ... saya harus ke toilet dulu, silahkan lanjutkan makan anda.”


Stefan menatap punggung Gina yang kian menjauh dibawa pergi oleh langkah kakinya. ‘Untuk apa aku menatap kepergiannya? Dia hanya ke toilet.’


Gina menatap lama dirinya yang ada di dalam cermin. ’Arsen, akhirnya mama mendengar suaramu sayang,  maafkan mama Arsen, maaf.’

__ADS_1


Di perjalanan.


“Pak, stop di halte depan, saya mau jalan kaki saja.”


“Yang benar kamu Gina?”


“Iya pak.”


“Oia, tadi ...yang menghubungi saya adalah anak saya yang saya maksudkan untuk kamu asuh.”


“Oh? Iya pak. Saya bersedia.”


“Dan ... makanan yang kita makan di restoran tadi adalah makanan kesukaannya.”


“yah? Benarlah?”


“Kenapa, ekspresimu begitu? Kamu terlihat terkejut dan senang.”


“Oh, maaf pak. Tapi ... anak sekecil itu menyukai paprika mentah?”


“iya. Dia sangat menyukainya, dan selalu memaksaku untuk memakannya. Akhirnya akupun terbiasa dengan itu."


'Ternyata ... anakku memiliki kesukaan yang sama denganku? Thanks Arsen."


\=\=\=\=


Satu minggu berlalu. Gina bertanya-tanya dalam hati tentang tigas mengasuh anak yang dimaksudkan oleh Stefan, namun tak kunjung pria itu membahasnya.


Hari ini adalah hari jum'at, dimana semua karyawan dipulangkan lebih awal untuk mempersiapkan weekend atau quality time bersama keluarga di rumah.


"Wah ... sudah waktunya pulang" Gina pun demikian, bersiap untuk kembali ke rumah kecilnya.


Ceklek,


Pintu besar ruangan CEO terbuka, dan orangnya pun keluar dari sana.


"Gina, ayo ikut saya." tanpa menoleh pada Gina, pria itu kembali melanjutkan langkahnya.


'Ikut dengannya? Tapi inikan sudah waktunya pulang?'


"Maaf pak, kita mau kemana yah?"


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2