
"Aku dan kakak memang tidak lahir dari ibu yang sama. Tapi ... kami berdua saling memiliku. Aku telah menggagalkan acara pelarian kakakku, jadi ... aku hanya ingin memastikan bahwa dia akan bahagia bersamamu, kakak ipar."
"Kau ingin bilang, bahwa ... kau merasa sangat bersalah bila dia tidak bahagia, begitu?"
Nio pun menjawab dengan anggukan kepala.
"Kakak ipar ... dulu, saat dia pertama kali jatuh cinta padamu, dia sangat menggemaskan. Orang pertama yang ia beritahu adalah, aku."
'Apa anak ini ingin curhat?' Stefan menanggapi Nio dengan gerakan sebelah alis-nya.
"Jika kau adalah orang pertama, maka ada orang kedua?"
"Emmm. Itu, dia ... memaksaku untuk menemaninya ke pemakaman dimana ibu kandungnya berada. Orang kedua yang kakak beritahukan, adalah ... ibunya." Nio, sedikit menunduk.
Pria muda itu pun menceritakan banyak hal tentang kakaknya itu. Mulai dari tentang banyaknya foto diri Stefan yang diabadikan oleh wanita itu, hingga kebiasaan-kebiasaan lain sang kakak, makanan kesukaannya, tempat-tempat yang sering ia kunjungi dan sebagainya.
'Aku jadi penasaran. Seperti apa fotoku yang telah berhasil ia curi. Gina, Gina ... kau terdengar seperti psikopat yang sedang memantau pergerakan targetnya. Calon istriku benar-benar penguntit profesional.'
"Kakak ipar, aku ... benar-benar mengandalkanmu untuk bisa menerima kak Gina dan membahagiakannya. Aku sangat yakin, perasaannya padamu masih sama dengan yang dulu."
"Kenapa ... kau terdengar sangat yakin akan perasaannya?" tanya Stefan, serius. Bagian ini yang paling disukainya.
"Dia adalah kakakku. Aku tahu dia. Hanya mungkin, kakak masih tidak ingin mengakui perasannya itu."
"Tenang saja Nio. Tentang aku dan kakakmu, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Aku akan belajar mencintai kakakmu. Ah, tidak. Mungkin saja, aku ... sudah jatuh cinta padanya. Jadi, aku pastikan dia bahagia bersamaku." terang Stefan, yang mana membuat Nio tersenyum legah.
Nio kemudian melihat jam ditangannya dan sepertinya dirinya memang harus pamit karena ada hal yang perlu ia lakukan. Keduanya pun berpisah.
Stefan kemudian menghubungi Gina. Namun, belum sempat panggilannya terhubung, nama Gina tiba-tiba muncul pada layar ponsel miliknya, sedang memanggil. 'Kita bahkan sehati sekarang?'
Stefan pun segera menjawab.
(Ya, halo Gina?)
[Halo, Tuan. Maaf-]
__ADS_1
(Anda siapa? Kenapa ponsel istri saya ada pada anda?) stefan menegang, kahwatir.
Orang yang menghubunginya itu menjelaskan bahwa pemilik ponsel itu minta diturunkan di sebuah mall. Kini pria itu meminta Stefan untuk menemuinya.
Tanpa banyak tanya lagi, Stefan segera menemui pria itu, dengan kecepatan tinggi.
Benar sekali, ternyata orang yang ia temui ini adalah seorang supir taxi.
Tanpa berpikir panjang, Stefan kembali melajukan mobilnya. "Dia memang keras kepala. Dia tidak bahkan tidak memgbariku jika hendak keluar jalan-jalan?" Stefan bergumam kesal.
TIBA DI MALL yang di maksud.
Stefan tidak langsung keluar dari mobil. Tiba-tiba saja ia merasa penasaran ingin membuka isi ponsel calon istrinya itu.
"Aku ingin tahu, wanita itu menuliskan namaku apa di daftar kontaknya?"
Entah ini adalah kecerobohan wanita itu atau apa, dia bahkan tidak menjaga keamana ponselnya, sehingga siapapun bisa membuka dan melihat apa saja yang ada didalamnya.
Bukannya langsung memeriksa nama kontaknya karena penasaran, Stefan malah tertegun tatkala melihat wallpaper dari ponsel itu adalah gambar 'dirinya dan Arsen.
'Wahhh, ini membuatku terharu.'
Melihat wallpaper itu membuat Stefan penasaran ingin membuka galeri. "Tidak apa-apa, daripada aku mati penasaran. Ini tidak akan ketahuan." Gumamnya.
Sementara di sebuah toko fashion wanita, Gina tengah asik mencomot beberapa pakaian yang disukainya. Mengingat dirinya akan dinikahi, wanita itu memilih beberapa lingerie. "Apa yang aku lakukan? Apa aku terlalu bersemangat? Tapi tak apa, dia juga tidak tahu aku membelinya," bergumam ria.
"Wahh, dress ini sangat bagus." gina mengitari dres casual yang nampak sangat elegan itu. "Tunggu, apa saldoku mencukupi? Ah ... mungkin saja cukup. Jika tidak, maka aku akan mengembalikan beberapa."
Di dalam mobilnya, Stefan sedang menscrol satu persatu isi dari album foto yang diberi judul (My Love n my son) yang mana membuat dasar hati Stefan perih seketika.
"Luar biasa" kata itulah yang pantas pria itu katakan untuk menggambarkan tentang Gina. Yang mana, terlalu banyak momen Stefan dan Arsen yang telah wanita itu abadikan secara diam-diam.
"Aku mencarinya sampai ke pelosok negeri ini, ternyata ... dia selalu ada disekitarku."
"Gina ... trima kasih."
__ADS_1
Stefan buru-buru keluar dari mobil setelah menuntaskan rasa penasarannya, walau sebenarnya ia masih melupakan sesuatu yaitu nama kontak. Kini ia memasuki mall dengan langkah ringan, bersemangat. Tak lupa pria itu mamatikan ponsel Gina untuk menghilangkan jejak atas kekepoannya barusan.
"Dimana wanita itu?"
Tidak kehilangan akal, Stefan mulai beraksi meminta pihak mall untuk menemukan keberadaan Gina.
Sementara Gina, wanita itu sedang memgantri di bagian kasir untuk membayar, tentunya. Disini antrian lumayan panjang, dikarenakan ada cukup banyak pengunjung. Biasalah, produk dan harga kelas menengah, yang tak harus memiliki kartu pelanggan VIP saat masuk kesana.
"Maaf mbak, saldo kartu debit anda sepertinya tidak mencukupi."
"Ya" Gina menelan kasar, sedikit menahan malu.
"Sebentar yah saya akan cek saldo dulu mbak," Gina mulai mencari-cari keberadaan ponselnya. "Tidak. Dimana ponselku?"
Para pengunjung yang berdiri di belakang Gina sudah mulai saling pandang, saling berbisik. Mereka tidak bisa membayangkan betapa malunya jika mereka berada di posisi Gina.
"Oh, begini mbak. Em ... saya batalkan saja yang ini." dengan terpaksa, Gina mengcancel dress casual yang sangat ia kagumi itu. 'Ini memalukan' teriaknya dalam hati.
"Maaf mbak, mungkin bisa kurangi satu lagi? Saldo anda masih tidak cukup." terang si mbak kasirnya ramah.
"Oh, Lord. Semua orang pasti sedang menganggapku lelucon."
"Permisi mbak, antrian masih panjang nih, kalau uang anda belum cukup, dahulukan kita dulu, bisa? Capek nih nunggu tidak kelar-kelar."
"Yah? Oh, em ... maaf, ini akan segera selesai." ujar Gina, terbatah.
Ia pun menarik salah satu lingerie untuk dicancel. Belum sempat benda tersebut berpindah ketangan si petugas kasir, tiba-tiba seseorang berdiri disamping Gina dan menyodorkan blackcard miliknya. "Bayar dengan kartu ini saja."
"Eh?"
"Kamu?"
.
.
__ADS_1
.
Bersambung