
Maaf karena tidak up setiap hari.
Selamat membaca!
................
"Boy, papa tinggal dulu mau ketemu mama, oke?"
"Oke Pah... Arsen akan bermain bersama Jem. Hati-hati Pah."
"Oke, Boy!"
.
Tiba di kediaman ayah Gina.
Setelah di bukakan pintu, Stefan melangkah masuk, membawa ekspresi wajah yang tidak bisa dibilang ramah.
"Kak Stefan? Anda datang?"
"Nio, dimana kakakmu?" -tidak lagi menyebut gina istri seperti biasa.
"Fan, kau datang, Nak?- papa Farel menyapa.
"Selamat malam Pah, aku ... datang mencari Gina." -berterus terang tanpa basa-basi.
"Wah, papa Arsen datang? Ayo, makan malam dulu, istrimu ... sedang tidur." -sahut ibu mertua.
"Kakak ipar, kakakku tadi habis menangis. Apa kalian bertengkar?"
"Yah? Menangis?"
"Iya, dia terlihat sangat sedih. Mungkin mama tahu penyebabnya."
Semua mata tertuju ke mama Veni.
"Hei! Kenapa kalian bertiga menatapku? Dia memang bersedih dan datang mengadu padaku. Besok aku berencana akan pergi memarahi ibu mertuanya. Berani sekali dia membuat putriku bersedih," -mama Veni, dengan nada jutek.
"Ma ... ada apa? Kenapa tidak cerita padaku? Dia bertengkar dengan nyonya Yoris?" -tanya papa Farrel dengan nada datar.
"Ya sudah, aku ... akan menemuinya." Stefan melanjutkan langkah menuju kamar istrinya itu. Kali ini, ekspresi wajahnya sudah terbilang normal, mendengar bahwa istrinya sedang bersedih.
Mama Veni pun menceritakan masalah kecil yang sedang dihadapi oleh Gina kepada suami fan putranya.
"Papa dan mama tidak perlu khawatir. Hal itu tidak akan terjadi. Ayo makan." Nio merangkul kedua orangtuanya, berjalan menuju meja makan.
CEKLEK.
Ternyata lampu kamar telah dimatikan menyisakan lampu tidur yang menyala di samping tempat tidur.
"Aku hampir saja datang dan memarahimu. Ternyata ... kau tidak serius merelakanku!"
Setelah diam menatap Gina dari jarak beberapa meter, Stefan pun mendekat.
Pria itu tidak lagi membuang banyak waktu. Melihat Gina yang tertidur pulas membuatnya ikut merasa ngantuk, dari lelahnya bergelut dengan pekerjaan seharian ini. Ia pun melepaskan sepatu, kaos kaki beserta kemejanya lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci kaki.
Keluar dari kamar mandi, pria itu pun bergabung dengan Gina masuk ke dalam selimut. Tanpa berniat mengganggu, perlahan ia melingkarkan tangannya untuk memeluk sang istri, lalu menutup mata. Sudah pasti menyusul gina ke alam mimpi.
..........
Sementara di tempat lain.
Mario kembali mendatangi kamar dimana Jenni berada. Kali ini, pria itu datang bersama Given, membawa makanan, termasuk buah-buahan.
"Waktunya, mommy Given untuk makan. Iya kan, Geven?"
"Hmmm!" -mengangguk semangat. "Tapi Daddy janji harus suapin mommy ya,"
"Tentu saja sayang!"
Ayah dan anak itu ikut nimbrung ke atas tempat tidur.
"Aaaaaaa. Aaaaaaa. Buka mulutmu."- berbisik pada Jenni, yang hanya dipelototi oleh wanita itu. "Jangan membuatnya sedih. Given sangat bahagia melihat kita seperti ini." bisiknya lagi.
__ADS_1
Dengan terpaksa, Jenni membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan dari tangan Mario.
"Momm, Mommy happy?"
"Ya? Happy kenapa?"
"Kan di suapin daddy. Momm, Daddy baik kan? Tidak malah-malah mommy lagi," -dengan wajah tersenyum bahagia, menatap sang mommy.
Siapa pun mana tega merusak keceriaan diwajah anak itu. Mau tidak mau, Jenni menjawabnya kata "Ya, happy" -disertai dengan senyuman.
"Holeee! Mommy Given happy!" -anak itu dengan hebohnya melompat-lompat di samping sang mommy.
'Putriku sesenang ini mengetahui ibunya bahagia. Given, kamu seperti baru saja menemukan kebahgiaan besar. Membuat Daddy terus menyimpan perasaan bersalah.'
"Dad, Daddy!"
Panggilan manja itu menyadarkan Mario dari lamunannya. "Hmmm?"
"Dadd, janji jangan malah-malah mommy Given lagi ya,"
"Janji. Daddy akan baik, tidak akan marah-marah lagi."
"Yeeeeeeee! Daddy baik! Holeeeeee! Thank you Dad!" -kembali melompat gembira dan berpindah ke pangkuan Mario, duduk manis disana. "Dad, gesel-gesel, dekat mommy."
'Apa lagi maksud anak ini?' Jenni mulai menaruh rasa curiga terhadap Given.
Benar, keduanya kini persis duduk bersebelahan dengan Jenni.
"Dad, peluk Given." pinta anak itu lagi, dan Mario sudah pasti menuruti.
"Dad, tangan satu aja. Tangan satunya buat peluk Mommy juga."
"Yaaa?" -sahut kedua insan dewasa itu kompak.
"Baiklah daddy akan peluk mommy Given dengan tangan ini" -merangkul bahu Jenny.
"Apa ini? Kau tidak harus menuruti kekonyolannya dia."
"Tidak. Ini tidak konyol. Aku senang melakukannya." -Mario benar-banar tidak peduli akan tatapan kedua bola mata Jenni yang terbuka lebar.
...........
Gina terbangun dan merasakan dekapan hangat seseorang. Tanpa berbalik, Gina sudah tahu siapa yang sedang memeluknya.
"Papa Arsen, kamu tidur?"
Tidak ada sahutan. Gina pun berbalik.
Merasakan pergerakan istrinya, Stefan pun terbangun. "Hai, kau senang sekarang kita berdua menginap dikamarmu?"
"Papa Arsen, kenapa menyusulku?"
"Apa yang salah? Seharian penuh aku tidak bersama istriku. Apa malam hari pun tidak harus bersama?"
"Emmmm, papa Arsen, aku juga merindukanmu." memeluk Stefan. "Apa mama sudah berbicara sesuatu dengaanmu?"
"Sudah,"
"Lalu, apa kamu setuju?"
"Setuju. Itu ide yang sangat bagus. Aku sangat bersemangat ingin buru-buru."
Degh...
Gina auto melepas pelukannya dan beranjak dari tempat tidur, berjalan ke arah jendela, lalu membukanya. "Keluar dari sini. Pergilah!"
"Hei, apa ini? Kamu mengusirku?"
"Iya! Aku tidak lagi mau jadi istri kamu. Kamu jahat."
"Gina, kalaupun harus mengusirku, aku harus keluar melalui pintu. bukan jendela." -protes Stefan sambil menahan tawa.
"Tidak! Kamu harus terjun dari jendela ini. Keluaaar!"
__ADS_1
"Gina, kau bahkan tidak peduli saat aku tiba dibawah dalam keadaan hidup atau mati? Kau tak apa jika aku jatuh dan mati?"
"Iya! Aku tidak peduli. Terjun, atau aku akan mendorongmu."
"Hei! Kenapa kau ini hah? Katamu tak masalah jika aku setuju dengan usul mama. Tapi kenapa sekarang?" -mendekati Gina.
"Iya, aku setuju tapi sebelumnya kita harus berakhir. Aku sudah bilang tidak akan berbagi milikku dengan orang lain. Kalau kamu memang menginginkan anak selain Arsen, silahkan dengan wanita lain tapi lepaskan aku dan Arsen."
"Aaaahhh, banyak bicara." -Stefan menarik Gina ke pelukannya. Jangan pernah mengatakan itu Gina sayang, atau aku akan menjahit mulutmu."- mengusap kepala Gina.
"Sayang, kita tidak akan berakhir. Aku tidak menyetujui hal gila itu. Kita hanya akan memiliki Arsen. Arsen sudah lebih dari cukup."
"Benarkah? Apa kamu yakin? Tidak akan menyesal?"
"Hmmm. Aku yakin. Tadi aku hanya ingin melihat reaksimu. Ternyata kamu memang menggemaskan saat marah." -mencubit gemas hidung Gina.
"Hiiiii, papa Arsen, kamu nakal. Kamu senang melihatku terlihat bodoh?" -menggelitik pinggang Stefan.
"Ampun, ampun Gina! Hei! berhenti menggelitikku."
"Awwwwwww! Gin, kau berani mencubitku?"
"Bleeeeeeee! Kejar aku kalau bisa" Gina segera melesat berlari keluar kamar.
"Tunggu! Jangan kabur! Kau tidak akan lolos!" -berlari mengejar Gina.
Gina berlari cepat menuruni tangga sampai tidak lagi sadar bahwa ada papa, mama dan Nio yang sedang menonton televisi di ruang tengah dan menatapnya bingung.
Tak lama, Stefan pun menyusul dengan langkah tak kalah cepat.
"Ada apa dengan mereka berdua?"
"Apa aku bilang pah. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."
"Aaaaawww! Sakiit,"
"Gin! Kau kenapa? Aku sudah bilang jangan berlari!"
Tak sengaja, ujung jari Gina tersandung kaki meja makan, yang seketika membuatnya menjerit.
"Aduuuuu! sakiiiit!"
Stefan segera menggeser salah satu kursi dan meminta Gina duduk. "Duduk, duduklah disini."
"Tiuuuup, sayang. Ini sangat perih."
Stefan lalu menyentuh kaki itu dengan hati-hati dan meletakkannya ke atas lututnya sendiri, dimana ia sedang dalam posisi setengah jongkok.
"Ffffiuuuuhh Ffffuuuuuuh." Beberapa kali pria itu meniup kaki istrinya yang katanya sakit tersebut.
Melihat wajah khawatir suaminya membuat Gina tersenyum kecil.
"Ehmmm!" suara deheman seseorang tiba-tiba terdengar. "Aku kira Arsen ada di rumah ini. Ternyata kalian berdua yang berkejaran seperti bocah?"
"Nio, berhenti mengejek istriku. Sini bantu tiup kakinya sedang sakit."
"Ku rasa kak Gina sedang berpura-pura sakit. Aku lihat tadi dia tersenyum jahil ke arah kakak ipar." adu Nio, lalu pergi, setelah memastikan apa yang sedang terjadi.
"Hei! Bocah gila. Aku tidak begitu. Sayang, jangan percaya dia."
"Jadi bagaimana sekarang? Apa masih sakit?" tanya Stefan.
"Tidak lagi. Terima kasih!"
"Lain kali, hati-hati ya!"
........
Mario mengangkat tubuh putri kecilnya itu yang sudah tertidur nyaman seenaknya di pangkuan sang daddy setelah berhasil membuat kedua orang tuanya baper abis. Tidak mengerti situasi sebenarnya antara mommy daddynya, anak itu dengan santainya meminta mereka saling berpelukan.
"Aku akan antar Given ke kamarnya." pamit Mario, pada Jenni.
"Ayo, menikah."
__ADS_1
"Yaaa? Jenn," Mario menghentikan langkah.
"Silahkan daftarkan pernikahan kita. Aku tidak ingin tinggal bersama seperti ini tanpa ikatan yang jelas denganmu dan menimbulkan gosip yang tidak-tidak."