Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Meluapkan Kekesalan


__ADS_3

"Kenapa Tom, kau terlihat sangat kesal. Apa kau mengenal mantan kekasihnya yang lain?" tanya Mario, santai.


"Yang aku tahu, hanya satu mantan kekasihnya. Walaupun tidak mengenal siapa dia, tapi aku sangat ingin membunuh pria BRENG ... SEK itu."


Mendengar pernyataan Tommy yang penuh penekanan, Mario seketika merasa gugup. "Tom, aku-"


"Apa anda adalah pria brengsek itu?" Tommy memotong perkataan Mario dengan pertanyaan yang membuat assistennya itu tampak terlihat semakin seram.


"Aku ... aku ... aku..."


"Apa anda adalah orang yang telah menghamilinya?"


Lagi, pertanyaan Tommy membuat pria itu bungkam.


Tidak lagi mendengarkan jawaban, Tommy menjadi semakin yakin dengan prasangkanya.


Ceklek.


Tommy membuka pintu mobil, keluar dari sana dan menutupnya kuat. Yang mana, berhasil membuat atasannya itu menelan kasar dan mengedipkan mata beberapa kali karena terkejut.


"Keluar!" Perintah Tommy setelah membuka pintu mobil untuk Mario yang mungkin saja tidak berniat keluar dari sana.


Mengerti akan kemarahan Tommy pada dirinya, Mario pun keluar. Baru saja ia memijakkan kaki dan berdiri tegak, tiba-tiba Tommy menyerangnya dengan meninju wajah pria itu.


"Aku tidak peduli dengan jabatanku sebagai teman atau asistenmu lagi." mengeratkan tangannya pada kerah kemeja Mario.


BUGH.


"Ini untuk Jenni yang menderita karenamu" kali ini, tinju mengenai perut sixpack berotot seorang Mario.


BUGH BUGH BUGH. kembali menghujani hantaman.


"Ini untuk kejahatanmu telah memintanya menggugurkan kandungannya."


Bugh bugh bugh.

__ADS_1


"Dasar pria brengsek, kau tidak pantas hidup. Kau tidak tahu betapa dia bergetar ketakutan saat hendak masuk ke ruang aborsi."


Kembali Tommy memukul Mario tanpa perasaan secara bertubi-tubi hingga pria itu kini tersungkur tak berdaya.


Bukan Mario tidak bisa melawan. Tapi ... dia hanya membiarkannya karena merasa dirinya memang bersalah.


"Kau sangat jahat, Mario. Mulai hari ini, aku tidak sudi lagi mengenalmu."


Hampir saja Tommy menendang kuat kepala Mario, namun ia urungkan memgingat wajah pria itu sudah babak belur bahkan mengeluarkan darah. Ia pun menuntaskan serangannya dengan menendang kaki pria itu setelah mengatakan "silahkan minta polisi menangkapku" lalu ia pergi.


"Tom, setidaknya antar aku ke rumah sakit."


Tap.


Tommy menghentikan langkahnya.


"Apa? Berani-beraninya kau memerintahku?"


"Given. Dia masih ada. Jika aku mati, dia tidak punya ayah."


"Given, anakku. Anak kami. Anak yang dilahirkan Jenni." jelas Mario pelan, sambil menahan sakit.


"Apa maksudmu? Dia sudah menggugurkan anak itu." -masih dengan mode membentak.


"Tidak Tom. Dia tidak membuangnya. Benar katamu, dia tidak berani melakukan aborsi."


"Tapi, aku yang mengantarnya sampai ke depan ruang aborsi. Aku melihatnya masuk kesana."


"Tapi kau tidak menunggunya keluar kan? Bukan kah begitu?"


Tomi kembali mengingat masa itu. Dan benar sekali, saat itu dirinya pergi meninggalkan Jenni karena ibu dan ayahnya tiba-tiba menelpon memintanya segera pulang.


"Benarkah anaknya masih ada?" -Tomi, dengan nada mulai melunak.


"Kau ingat pertemuanmu dengannya di koridor rumah sakit tempo hari? Saat itu, anak kami sedang sakit." Mario berusaha menjelaskan berharap Tommy bisa mengerti.

__ADS_1


"Aaaaarrgh, kenapa kau tidak bilang dari tadi? Aku bisa mengurangi pukulanku. Bangunlah! Kita cari klinik terdekat. Merepotkan!" Tommy pun mengulurkan tangannya, membantu Mario untuk bangun.


.......


"Jenn, jangan bersedih nak, ibumu sudah tenang sekarang. Masih ada Mama, Given dan Mario. Kamu tidak sendirian." nyonya Park Yo Ra memeluk Jeni yang sedang menangis sesegukan.


Ya, setelah Mario mengabarkan kenyataan tentang ibu-nya Jenni, wanita itu pun memberitahu Jenni karena saat sudah sadar sepenuhnya pasca operasi, Jenni nekad ingin ke RSJ untuk melihat keadaan sang ibu.


"Kenapa? Kenapa mama harus pergi tanpa mengatakan apapun padaku? Setidaknya dia pergi setelah berpamitan. Aku bahkan belum memperkenalkan Given padanya,"


"Sssuuut, sayang. Biarlah! Biarkan yang sudah terjadi. Ayo sama-sama hidup baru. Kamu, Given, Mario. Mama ingin kalian bertiga bahagia bersama. Yah,"


'Bicara apa aku? Disaat dia bersedih aku malah memintanya hidup bahagia dengan putraku. Belum jadi mertua saja aku sudah jahat.'


"Maaf Jen. Menangislah sayang, kamu boleh menangis sepuasnya. Menangislah, ya ... menangislah."


Dari luar ruangan, Mario hanya memperhatikan dua wanita itu, tanpa ingin merusak momen kebersamaan mereka dengan membawa wajahnya yang penuh lebam.


"Maaf Jen, maafkan aku. Benar kata Tommy, aku memang brengsek."


"Boss, anda tidak akan masuk?" tanya Tommy.


"Untuk kali ini, biarkan saja mereka. Biar mama yang menghiburnya. Melihatku hanya akan menambah rasa sakit hatinya."


.


.


.


Bersambung....


oke, othor khilaf sampe up 3 bab😁.


makasih ya...

__ADS_1


__ADS_2