
MAKAN MALAM.
"Papa ... malam ini Papa bobo sama Arsen ya,"
Gina melebarkan mata mendengar permintaan putranya itu. "Arsen, kamu kan sudah janji tidak mau lagi bobo dengan mama papa."
"Tapi Arsen kangen Papa, Maa!"
"Tapi Mama juga kangen Papa Sen," Melirik Stefan yang ternyata Pria itu juga sedang menatapnya dengan tatapan sulit diatrikan.
"Ya uda deh, Papa temani Arsen aja. Mama tidak perlu Papa jagain." Stefan yang merasa dirinya sedang diperebutkan ikut bicara.
"No, Pa ... Papa harus jagain mama."
"Tapi kan, Arsen minta ditemani Papa."
"Ya udah deh, Arsen tidak perlu ditemani. Papa sama mama aja. Apa papa juga kangen mama?"
"Pintar, Arsen memang anak papa. Sangat pintar. Iya boy, Papa juga kengen Mama. Weekend ini kita jalan-jalan ya, beli banyak mainan."
"horeee! Oke Pah" seru anak itu kesenangan.
"Berhentilah tersenyum. Selesaikan makanmu."
Sontak Gina membekap mulutnya sendiri, tersadar dirinya senyum-senyum tak jelas.
Setelah menyelesaikan makan malam, ketiganya kembali ke kamar. Untuk memastikan suasana hati putranya akan baik-baik saja, Stefan menggendongnya dan mengantarnya sampai ke tempat tidur anak itu.
"Papa ... apa mama benar akan tinggal dengan kita selamanya?"
"Benar sayang. Selamanya. Arsen bisa bertemu mama setiap hari sampai seterusnya."
"Papa, jangan biarkan mama pergi lagi tanpa kita ya,"
"Iya, boy. Papa tidak akan biarkan mama pergi lagi."
..........
__ADS_1
Di tempat lain.
Rio dan sang mama bersama Given dalam perjalanan dari Rumah Sakit menuju kediamannya.
"Papa ... Glenma, dimana mommy Given?"
"Given, Mommy lagi ada urusan sayang, kita pulang dulu, semoga mommy ada dirumah, oke,"
"Oke, Glendma,"
Tiba di kediaman keluarga itu, tanpa berpikir panjang, Given berlari masuk sembari terus memanggil-manggil "Mommy"
'Arrgh, sial. Kenapa putriku selalu mencari ibunya? Bukankah dia lebih memilihku daripada Jenny?'
"Given! Sudah. Mulai sekarang, jangan panggil-panggil mommy lagi."
"Mario, kamu tidak bisa seenaknya bicara begitu. Itu sangat kasar untuk seorang anak kecil." bentak sang mama.
"Ma ... aku harus bagaimana? Jenny sudah pergi."
Perdebatan keduanya berakhir saat mendengar tangisan Given. Anak itu masih saja bersedih mencari sang ibu.
Given memberi jawaban dengan mengangguk.
"Ya, sayang I love you too. Dengarkan Daddy, malam ini biarkan mommy selesaikan urusannya, mommy pasti akan pulang, ya ..."
"Dad, are you love mommy?" tanya anak itu yang mampu menggetarkan hati Mario. Akhirnya, untuk menenangkan hati putrinya, terpaksa Mario menjawab "Ya" yang mana membuat senyum putrinya itu mengembang.
Mario pun membawa anak itu ke kamarnya untuk beristirahat. "Kita bobo bareng di kamar Daddy ya sayang,"
"Oke, Dad"
Sementara di tempat lain, Jenny sedang bekerja pada sebuah restoran yang cukup terkenal yang tak jauh dari rumah sakit tempat ibunya dirawat.
"Jenn, apa kamu tidak membawa anakmu kali ini?" tanya sang manager cantik yang sangat menyukai Given.
"Ya, dia sedang di asuh oleh keluarga ayahnya." jawab Jenny, apa adanya.
__ADS_1
"Syukurlah, jadi mereka menyukai Given? Ah, tentu saja. Anak itu manis dan menggemaskan."
Jenny membenarkan lewat anggukan kepala.
"Jen, yang sabar yah, saya juga punya tetangga yang seperti kamu. Kekasihnya belum sempat menikahinya, tapi keburu dipanggil oleh sang pencipta. Tapi percayalah, akan ada seseorang yang nanti akan hadir untukmu dan Given, menerima kalian berdua apa adanya." menyentuh bahu Jenny.
"Ya, trima kasih, bu." Jenny tersenyum simpul.
Benar sekali, Jenny mengatakan kepada setiap orang yang bertanya, bahwa ayah Given, putrinya itu, sudah meninggal. Padahal, kenyataannya, orang itu masih hidup dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apapun.
.............
Setelah memastikan Arsen telah tidur dengan nyenyak, Stefan pun kembali ke kamar miliknya dengan langkah besar. "Semoga istriku belum tidur" gumamnya.
Ceklek.
Kamar sudah dalam keadaan gelap dan hanya lampu tidur yang menyala. Stefan pun menganggap ini adalah sebuah kode.
Dilihatnya, istrinya itu sedang berbaring di sofa panjang. Ia pun tersenyum. "Dia pasti tertidur karena menungguku"
"Hei ... Mama Arsen, bangun." ia sentil pipi wanita itu dengan ujung jari telunjuknya beberapa kali.
Wanita itu tidak merespon sedikitpun. "Apa dia sengaja biar aku menggendongnya? Hei ... aku tadi sudah menggendong anaknya. Apa dia pikir tubuhnya ringan?"
Terpaksa, Stefan mengangkat tubuh Gina memindahkannya ke tempat tidur. 'Astaga. Benar dugaanku. Wanita ini sangat berat. Apa dia makan batu?'
"Gin, apa kau hanya akan tidur? Hei ... kau sudah tidak merindukanku?" Kembali ia sentil wajah Gina.
'Ini adalah malam pertama kita tidur berdua saja, tapi kau malah tidur lebih dulu?'
Pada akhirnya, Stefan hanya mengusap kasar wajahnya sendiri. Wanita itu benar-benar tidak bisa dibangunkan. "Benar-benar ya wanita ini? Ya sudah, tidurlah Gin, asal jangan mati."
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.