
“Gina, he ... kenapa mematung?”
“Eh? Ha? Itu, kenapa, kamu seperti tadi?”
“Seperti apa?”
“Ya tadi, yang kamu lakukan.” Dengan sikap salah tingkah, berusaha terlihat biasa saja.
“Kenapa? Memangnya tidak boleh? Aku sedang berlatih. Dan lagi, itu hukuman karena kamu berani berbicara dengan pria lain selain aku.”
“Memangnya itu kemauanku? Kamu yang memintaku.”
“Apa kak Stefan menyukai aku? Jawablah yang jujur.”
“Menyukai?”
‘Aku bahkan mencintaimu Gina sayang’
“Tentu saja aku menyukaimu. Tidak ada alasan untuk tidak menyukai ibu dari anakku.”
“Maksudku, adalah ... apa ... kau mencintai aku?”
Gina terpaksa menepis jauh-jauh rasa malunya, ia harus tahu perasaan Stefan saat ini, pikirnya.
“Cinta? Kenapa? Bagaimana denganmu? Apa ... perasaan cintamu untukku itu sudah kembali?” Stefan malah bertanya balik.
“Oh? Aku? Aku tidak tahu. Ah, sudahlah. Aku ingin ke kamarku.”
“Tunggu. Kau harus tanggung jawab, suapi aku.”
“Aku rasa, kamu sudah sehat. Jangan manja.”
“He ... apa kau lupa, aku pernah menyuapimu saat sakit? Kau tidak ingin membalas kebaikanku?”
“Ya sudah, baiklah.”
Gina pun menyuapi Stefan dan tak lupa juga memasukkan beberapa suapan ke mulutnya sendiri.
Tak lama, terdengar ketukan dari pintu kamar, kemudian muncullah sang dokter.
Setelah memeriksa keadaan Stefan, dokter pun memberi pria itu beberapa obat dan memintanya untuk beristirahat.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Dua minggu kemudian. Tiga hari lagi Pernikahan Stefan dan Gina. Sedangkan hari ini, adalah hari pertama Arsen masuk sekolah Taman Kanak-kanak.
Saat ini, Gina sedang berada disekolah untuk menemani putranya itu.
“Sial” dari jarak yang cukup jauh, seseorang sedang memperhatikan Gina dan Arsen.
“Gina terlihat sangat akrab dengan anak itu. Apa mungkin Stefan sialan itu menyukai Gina karena itu?” Rio merasa kesal karena dirinya tidak memiliki cela untuk mendekati Gina. Yang mana saat ini, Gina berada dalam pengamanan ketat beberapa pria berbadan tegap yang mengenakan pakaian rapi. Tentu saja Rio cukup mengerti bahwa Stefan lah yang sedang melindungi anak dan calon istrinya itu.
“Apa yang harus aku lakukan agar bisa dekat dengan Gina?” Rio berpikir keras untuk mendapatkan sebuah ide.
Dari posisi lain, Helena sedang berada di dalam mobil milik Rena, tentu saja keduanya sedang bersama. “Helena, sudahlah. Berhenti berharap. Kau tidak akan bisa menyentuh Gina. Apa kau tidak takut melihat tubuh kekar para bodyguardnya itu?”
“Ren, tolong aku. Aku tidak rela melihat mereka bahagia.”
“Baiklah, kali ini saja. Aku akan atur pertemuanmu dengan Stefan. Tapi, jika kau gagal, aku ... lepas tangan.”
“Aku tidak akan gagal” ujar Helena, angkuh.
Kedua wanita itu pun pergi dari sana.
Rio segera menjalankan mobilnya dan membuntuti dua wanita itu. Terlihat seringai menakutkan mengembang di sudut bibirnya. “Aku rasa, akan menyenangkan bekerja sama dengan mereka” gumamnya.
.....
“Tolong antar kami berdua untuk menemui ibuku,” pinta Gina, pada para pria kekar yang tentu saja hanya boleh menuruti.
Gina berencana untuk menemui ibunya di tempat peristirahatan terakhir wanita yang telah melahirkannya itu.
Tiba di pemakaman.
“Ma ... aku datang. Aku membawa putraku kali ini Mah,”
Arsen mendongak menatap ibunya itu, dengan wajah bingung. Anak itu merasa aneh ketika Gina seperti sedang berbicara dengan seseorang, namun tidak ada siapa pun.
“Lihatlah Ma, putraku sudah besar. Hari ini adalah hari pertama dia bersekolah. Ma, akhirnya aku kembali memiliki putraku lagi.”
“Aku berjanji akan menjaga dia, tidak akan pergi meninggalkannya lagi. Mama pasti bahagia melihatku kan?” Menatap Arsen dengan mara berkaca-kaca.
“Aku sangat menyayangi Arsen.” Memeluk Arsen, berharap ibunya itu sedang menyaksikan.
__ADS_1
Gina lalu melanjutkan pembicaraannya kepada sang Mama, namun hanya mampu ia katakan di dalam hati saja.
‘Ma ... bolehkah aku meminta bantuan?’
‘Ma ... tiga hari lagi ... aku akan dinikahi oleh kak Stefan. Ma, tolong bantu aku memohon pada Tuhan, untuk membuat kak Stefan benar-benar mencintai aku.’
‘Mama tidak harus memaksa Tuhan untuk segera mengabulkannya. Aku akan menunggu dengan sabar.’
Ia hapus air matanya lalu meminta Arsen untuk menyapa sang nenek.
“Arsen, bilang hai pada nenekmu, sayang.” Gina mengusap wajah anaknya itu.
“Tapi tidak ada nenekku di sini Mah,” jawab Arsen polos.
Gina lupa bahwa putranya itu belum pernah mengalami peristiwa duka satu kali pun. Anak itu tidaklah mengerti bahwa tempat kakinya berpijak saat ini adalah pemakaman yang adalah tempat peristirahatan terakhir tubuh seseorang setelah meninggalkan dunia ini.
“Arsen sayang, sama seperti papa, mama Gina juga punya mama, yang juga adalah nenek kamu. Tapi, nenek sekarang tidak tinggal dengan kita. Nenek berada di dalam sana.” Jelas Gina, berharap Arsen akan mengerti.
Anak itu pun tersenyum. “Hai nenek, apa nenek sehat di dalam?” sapa anak itu. Yang mana membuat Gina tersenyum.
Beberapa menit kemudian. “Papa ...,” Arsen tiba-tiba memanggil nama Papa, membuat Gina menoleh. Benar saja, seorang pria tampan sedang berjalan ke arah keduanya, membawa buket bunga yang sangat indah ditangannya. Jangan lupa, sebuah kacamata hitam sedang bertengger di hidungnya yang tidaklah pesek.
“Kalian berdua kemari tapi tidak mengajakku?”
Arsen kembali berbalik. “Nenek, Papa juga datang.” Lapornya, dengan wajah berbinar.
“Nenek, selama ini Arsen hanya punya Papa. Tapi, sekarang Mama sudah pulang.” Adunya lagi.
“Pintar sekali anak Papa,” Stefan mengacak rambut anak itu.
Ia letakkan hadiah bunga di atas makam tersebut. “Hai Mah, perkenalkan, saya Stefan Alvaro Yoris, ayah dari cucu mama. Ma, saya meminta izin untuk menjadikan Gina sebagai istri saya.” Menggenggam tangan Gina dan Arsen bersamaan. Yang tentu saja membuat jantung Gina berdesir hangat.
“Izinkan aku membahagiakan mereka berdua, menjaga dan menumbuhkan cintaku untuk putrimu. Mohon restu darimu, Ma!”
‘Terima kasih Tuhan, dia mau belajar mencintai aku.’
.
.
Bersambung.
__ADS_1