
Drrrt drrrt drrrrt
Ponsel milik Stefan berdering di saat yang sangat tidak tepat. Yang mana, pria itu sedang melaksanakan aktivitas panasnya, bergulat dengan Gina di kamar 2211.
"Kak, hp-mu berdering." desak Gina sambil berdesah nikmat.
"Aku dengar sayang, telingaku masih berfungsi."
Stefan sama sekali tak peduli akan gangguan. Baginya, yang terpenting sekarang adalah mencapai puncaknya.
Lagi-lagi ponsel itu berdering, menunjukkan seolah si penelpon sangat berniat menghubunginya.
Cup.
Sebuah kecupan kilat mendarat di kening Gina.
"Gina sayang, akan kumatikan ponselku dulu ya, jangan dulu beranjak dari sini sayang, hm"
Gina mengangguk dengan senyum nakalnya.
"Arsen?" Setefan menyebut nama putranya itu tatkala melihat nama si pemanggil. Niat untuk mematikan ponselnya pun ia tarik kembali.
[Halo boy!)
[Papa, mama dimana?]
[Cari mama? Mama lagi bersama papa, boy]
[Oh, oke pah, papa dengan mama sedang apa?]
[Sedang main boy,]
[Main apa? Kok Arsen tidak diikutkan lagi? Papa ... Arsen mau main juga.]
[Fan, berhentilah merusak kepolosan otak cucu mama. Apa kamu tidak punya jawaban lain?] tiba-tiba suara nyonya Yoris menyambar.
[Pffffft. Sorry Mah. Aku hanya menjawab yang sesuai dengan kenyataan.]
[Ya sudah, lanjutkan dan mama akan bicara dengan putramu.]
[Oke, mah ... titip Arsen ya ma,]
[Hmmmmm.]
Panggilan pun berakhir.
"Sayang, ahhh." Stefan mendesah, mendapatkan serangan mendadak dari Gina yang tiba-tiba saja naik ke pangkuan pria itu dan ... (ehm).
"Gantian ya sayang, dari tadi kamu yang banyak berperan. Kamu pasti capek kan?"
"O...k...e," jawab Stefan, pelan.
Yaaaa, mereka kembali melanjutkan aktifitas itu.
............
Kantor Polisi.
"Baik, kami sudah mencatat laporan anda pak Mario, kita akan segera hubungi anda jika sudah ada titik terang."
"Terima kasih pak," ucap Mario.
Kembali ia gandeng tangan kecil putrinya itu, kembali ke mobil.
"Given sayang, kita pulang dulu ya, pak polisi akan bantu kita cari Mommy, oke?"
__ADS_1
Akhirnya anak itu mengangguk.
RSJ.
"Ma ... aku sangat merindukan Given. Aku merasa akan gila berpisah darinya. Bagaimana ini ma," Jenny kembali menangis sembari memeluk ibunya yang hanya mematung dengan tatapan kosong.
"Apa ... kau ... lelah dengan hidupmu? Mati saja, jika hanya bisa menangis."
degh ...
Dengan sigap Jenny menghapus air matanya. Jika sang ibu sudah mengeluar kalimat itu, maka hal buruk akan terjadi. Biasanya, wanita tidak waras itu akan segera mengamuk. Maka sebelum itu terjadi, Jenny segera meninggalkan ruangan itu.
"Ma ..., aku akan kembali bekerja."
.........
Kembali ke kamar 2211.
Setelah puas menikmati pertempuran mereka, pasangan itu kini tertidur pulas, masih dalam keadaan tubuh polos yang bersembunyi di balik selimut.
Setelah memghabiskan beberapa jam menutup mata, akhirnya pasangan itu terbangun.
"Sayang,"
"Hmmm" jawab Gina yang masih malas membuka mata.
"Apa malam itu aku memaksamu melakukannya?"
Mengingat itu, kini Gina hanya merasa malu. "Papa Arsen, kenapa membahas malam itu lagi?"
"Kenapa memangnya? Bukankah kamar ini tempatnya? Aku hanya merasa senang, kita mengulang hal itu lagi di kamar ini, melakukannya dengan perasaan cinta. Aku ... bahagia memikirkannya. Maaf ya sayang, kalau malam itu aku ... main kasar." kembali Stefan mencium sayang kening istrinya.
"Tak apa. Biar kasar dan dengan marah, tapi rasanya tetap sama kok,"
"Apa? Enak?"
"Kalau enak, kenapa ... kamu pergi waktu itu? Tidak menungguku bangun dan minta lagi."
Guyonan Stefan sontak membuatnya mendapat cubitan menggelitik dari tangan Gina.
"Sayang, kenapa waktu kamu mengandung anak kita, kamu tidak mencariku? Harusnya kamu mendatangiku dan meminta pertanggungjawaban sayang."
"Ya... gimana ya, aku takut. Aku takut dimarahi sama kamu. Kan waktu itu kamu masih cinta-cintanya dengan Helena. Apa lagi ... kamu kehilangan dia gara-gara aku kan."
"Kok jadi bahas mantanku sih? Gak asih ah,"
"Ye ... siapa juga yang angkat topik ini duluan?"
"Gina sayang, mulai sekarang hanya kita berdua. Jangan ada pria lain dan tidak akan ada wanita lain yang ikut di dalamnya. Oke,"
"Oke, sayang ..."
"Oh iya, itu ... Jenny dan anaknya, Jenny itu, dimana kamu menhenal dia?" tanya Gina, ragu.
"Jenny? Oke, aku akan cerita tentang dia."
Stefan pun menceritakan tentang Jenny yang adalah teman sekelas Stefan sewaktu SMA, namun saat kenaikan kelas 3, Jenny pindah sekolah dan mereka bertemu lagi di kampus yang sama, tapi Jenny mendaftar di kampus tersebut setahun setelah Stefan, karena menganggur setahun setelah lulus SMA.
Suatu hari di kampus, Stefan melihat Jenny sedang menyendiri dengan wajah kebingungan. Ternyata ... waktu itu keluarga Jenny di landa masalah. Ayahnya bangkrut, sehingga Jenny tidak bisa lagi membayar biaya kualiah. Sebagai teman, Stefan menawarkan diri untuk membantu. Jenny berjanji akan mengganti semua itu ketika sudah bekerja nantinya.
Jenny sering curhat ke Stefan bahwa dia menyukai seseorang diam-diam, tapi orang itu tidak pernah melihatnya dan pria yang disukainya itu adalah Orland Mario Park. Seorang pria berdarah campuran, yang mana sang ibu yang adalah keturunan Korea asli bermarga Park dan mendiang ayahnya seseorang berdarah Belanda-Indo.
Namun, waktu itu Jenny tiba-tiba menghilang tanpa kabar dan Stefan mengetahui hal itu saat ia tak lagi bisa menghubungi wanita itu. Stefan yang saat itu sudah disibukkan dengan pekerjaannya, tidak terlalu memperdulikan dimana Jenny berada.
"Jadi, kenapa kamu bisa membawa dia dan anaknya ke hadapan Mario malam itu?" tanya Gina lagi.
__ADS_1
"Aku meminta orangku mencarinya. Karena ... aku ingin Mario sadar bahwa ada wanita lain yang sangat mencintai dia dan dia tidak perlu menginginkan Gina-ku."
Seperti sebuah kebetulan yang menyenangkan, Stefan mendapati bahwa, ternyata ... Jenny telah melahirkan seorang putri yang adalah miliknya dan Mario. Segera Stefan meminta orang-orangnya untuk mencari keberadaan ibunya Orland Mario yang saat itu berada di Seoul, karena disanalah sesungguhnya tempat tinggal mereka.
"Kenapa mereka bisa punya anak? Apa mereka sempat jadian?"
"Iya, sayang ... setelah menghilangnya kamu dari kampus, ternyata ... Mario jadi hilang akal sehatnya dan mulai mabuk-mabukkan, hingga suatu saat di Club, Jenny melihatnya berduaan dengan seorang wanita dan tidak membiarkan itu. Jenny pun mengambil Mario dari wanita itu." Stefan bercerita panjang lebar.
Menurut cerita dari Jenny, awalnya Mario terlihat membalas perasaan wanita itu dan mulai melupakan seorang wanita bernama Gina. Mereka seperti pasangan bahagia setiap hari. Tapi tidak tahu kenapa, Mario jadi berubah sikap.
Saat tahu Jenny hamil karena gaya pacaran mereka yang bebas, Mario yang memang sudah merubah perasaannya, tanpa berpikir panjang meminta Jenny pergi menggugurkan kandungan dan menyerahkan cek 100 juta, lalu meninggalkan negara ini, pulang ke Korea.
"Beruntung Jenny mempertahankan anak itu sayang, dia sangat imut."
"Iya sayang. Kalau saja kamu masih punya rahim, kita pasti akan punya anak perempuan dan tidak kalah imut dari anak mereka." Stefan kembali memeluk istrinya.
"Sayang, apa kamu sedih karna kita hanya punya Arsen?"
Stefan menggeleng. "Tidak apa sayang, Arsen saja cukup."
.........
Mario segera membuka ponselnya setelah mendengar punyi pesan masuk.
"RSJ? untuk apa wanita miskin itu berada di RSJ? Apa dia jadi dokter jiwa? Atau ... tidak! Dia tidak mungkin jadi pasien-nya."
"Horeeeeee," Given melomoat kegirangan saat ayahnya mengabari bahwa ibu yang ia rindukan itu akan segera ditemukan.
Tak butuh waktu lama, waktu sudah menjelang sore, ayah dan anak itu sudah tiba di RSJ yang di maksud. Dari kejauhan, tapaklah Jenny dengan seragam kerjanya sedang mengepel lantai.
'Apa yang dia lakukan? Bekerja sebagai tukang bersih-bersih?'
"Moommmyyy" teriak Given dan segera berlari ke arah sang mommy.
"Given?"
Hugh....
Anak itu langsung memeluk Jenny yang berdiri mematung. "Mom, I miss you."
Mario pun berjalan ke arah keduanya.
"Jen, apa yang kau lakukan disini?
"Aku sedang bekerja."
"Oh, ya, seragam itu terlihat sangat cocok denganmu."
"Iya."
Selesaikan pekerjaanmu dan tinggalkan tempat ini.
"Yah?"
"Maksudku, berpamitan pada atasanmu dan berhenti bekerja. Kau harus mengurus anakmu. Jangan seperti orang bodoh dengan melakukan pekerjaan ini. Kau ingin mempermalukan Given?"
"Maaf, anda tidak berhak mengatakan itu pada pekerjaan saya. Saya tersinggung."
"STOP, DAD! Given akan bantu mommy bekelja. Mom, Given akan tinggal dengan mommy." memggenggam tangan Jenny.
"Dad, pulanglah! Given pilih mommy." anak itu menundukkan kepala.
.
.
__ADS_1
Bersambung...