
Diam, hening...
Jenni mematung dengan banyak hal yang sedang berperang dalam hati dan pikirannya, membalas tatapan dari manik mata Mario yang memerah, pengaruh alkohol.
"Jennn, bolehkah? Kalau tidak jawab, artinya ... boleh kan?" tanpa rasa malu, Mario kembali mendekatkan wajahnya. Merasa tak ada tanda-tanda penolakan, Mario kini menyesap bibir itu dengan lembut. Lembut, yang perlahan mengganas, namun tak ada balasan.
Cup.
Pria itu memgakhiri ciumannya dengan mengecup dahi istrinya. "Trima kasih, Jenn!" Menutup mata, lalu tertidur seraya memeluk.
'Ada apa denganku? Kenapa membiarkan dia?' Jenni memutar tubuhnya, mengelus dada yang terasa berdebar.
...........
Di Kediaman Yoris, tepatnya di sebuah kamar.
"Sayang, sayang...! Bangun! Katanya mau olah raga pagi?" -Stefan mengguncang pelan tubuh Gina.
"Hummmmmmh" -Gina menggeliat seraya membuka matanya.
"Sayang, jam berapa ini?" -menenggelamkan wajah ke dada hangat sang suami.
"Ini sudah menjelang pagi. Pukul 4."
"Emmmh, sayangku, kamu tuh bangunnya tepat waktu sekali. Sudah tidak sabar ya?"
"Kau sendiri yang janji ingin main pagi, kan, jangan pura-pura lupa Gina sayang!" -memainkan rambut halus istrinya.
"Ayo, ayo, lepaskan celanamu, papa Arsen."
"Tapi biasanya kau yang akan melakukannya, sayang."
"Hmmm... baiklah," Gina pun beraksi.
"Sekalian aja mainin biar bangun, sayang!" -menahan kepala Gina dan menuntunnya kembali ke bawah.
"Aaaah, sayang! Lan...jutkaaan" -Stefan mulai mendesah nikmat.
Setelah pedang itu sudah berdiri sempurna, Gina pun menuntun miliknya untuk membuat penyatuan.
"Aaah, aaah, papa Arsen, kenapa sentuhanmu terasa semakin nikmat,"
Kini, desahan tak hanya terdengar dari Stefan. keduanya sama-sama mengerang saking nikmatnya.
Naik turun, maju mundur, saling serang bertubi-tubi membuat pori-pori mereka benar-benar menghasilkan banyak keringat.
Sungguh, olahraga pagi yang sangat bermanfaat.
.........
Kita ke apartemen Helena yuk,
Terdapat dua orang yang sedang saling Memadu kasih du atas tempat tidur.
Setelah berhasil membujuk Lee untuk menginap dengannya, Helena pun kembali mendapat jatah kebutuhan biologisnya dari sang teman di atas ranjangnya itu.
"Helena, aku janji pada diriku, ini adalah terakhir kali kita melakukan ini." -Lee, dengan napas menderu, memberi serangan bertubi-tubi untyk memuaskan Helena.
Pada akhirnya, selesai juga acara tempur keduanya.
__ADS_1
Helena kembali memeluk pria itu, seolah ingin seperti itu untuk seterusnya, ia merasa tidak rela kehilangan Mr. Lee.
"Lee, apa kau melakukan ini denganku tanpa rasa apapun?" tanya Helen, pelan.
"Iya, itu adalah janji kita dari awal kan, tidak melibatkan perasaan."
"Jadi, kau tidak ada perasaan apapun terhadapku?"
"Tidak ada. Aku, melakukannya hanya karena keinginan birahiku. Bukan karena sayang, atau pun cinta."
"Oh, tak apa Lee, tak apa. Tapi... setelah kau menikah, apa... kita masih bisa lakukan ini?"
"Itu sudah tidak mungkin Helena. Aku hanya akan melakukannya dengan istriku. Kuharap, kau jangan menggangguku lagi setelah ini. Bisa kan?"
"Ya... baiklah!" -Helena pun beranjak dari sana, menuju kamar mandi. Lama, ia bertatap dengan cermin yang sedang memperlihatkan tubuh polosnya. Perlahan, airmatanya ... mengalir keluar.
'Perasaanku, harus setersiksa ini kah? Mencintai orang yang tidak bisa mencintaiku? Kenapa tidak ada pria yang tulus?'
Stefan ya... Helena membenarkan, bahwa hanya Stefan yang pernah benar-benar tulus. Hanya pria itu yang pernah tulus padanya, menganggapnya wanita satu-satunya.
'Ini semua salahku, karena dulu menyingkirkan dia. Stefan, inikah caramu menghukumku? Kau sekarang bahagia sedangkan aku, aku ... hanya menjadi orang yang tersisihkan.'
'Ayah! Ibu! Aku rindu kalian!' -Tiba-tiba, Helena mengingat kedua orangtuanya yang kini sudah berada di surga. Saat seperti ini, ia merasa sangat merindukan keduanya.
Wanita itu, menangis sendiri dalam diam.
.............
Kembali ke kediaman Mario.
Mario dibuat terkaget-kaget saat membuka mata. Netranya auto melotot selebar-lebarnya. Bagaiman tidak? ia tidur dalam keadaan telanjang dada dan wanita itu, istrinya, sedang berada dalam kungkungan Mario, masih berada di alam tidurnya.
'Bagaimana cara menyelamatkan diri dari situasi ini?'
"Mmmmmh" Jenni mulai menggeliat. Ia segera membuka mata, mengingat dirinya masih berada dalam kungkungan pria itu. Ia pun melepaskan diri, karena menyadari bahwa ini sudah pagi.
"Kau sudah bangun rupanya?" -bertanya, mengusir kegugupan, saat melihat Mario rupanya sudah membuka mata.
"Jen, apa kau tidak apa-apa? Apa aku memaksamu tadi malam?"
"Tidak, kau tidak melakukan apapun." -bayangan ciuman semalam tiba-tiba terlintas.
"Benarkah? Syukurlah, aku legah. Lalu, kemana bajuku? Jenn, apa kau lah yang macam-macam padaku saat aku mabuk?"
"Yahh? Macam-macam apa maksudmu? Kau pikir aku akan memperkosamu?" -Jenni, dengan nada meninggi.
"Lalu kenapa aku hampir telanjang? Celana, bajuku, kemana semuanya?"
"Kau sendiri yang melepasnya di kamar mandi." -tidak puas dengan pernyataannya, Jenni masuk ke kamar mandi dan memungut pakaian Mario, membawanya keluar dari sana.
"Ini pakaianmu. kau sendiri yang melepasnya lalu tertidur di kamar mandi. Akulah yang membawamu ke tempat tidur. Bukannya terima kasih, malah menuduhku macam-macam." -dengan wajah juteknya, kesal.
"Selow... santai... jangan marah marah, oke, maafkan aku Jenn,"
"Tunggu, apa ini?" -menatap lengan kemeja Mario yang masih ditangannya. Ada bekas lipstik dari bibir seseorang yang menempel disana.
"Apa yang kau lihat? Ada apa dengan bajuku?" -Mario mendekat.
"Dengan siapa kau tadi malam? Dengan wanita?" -menatap Mario. Ada sedikit rasa perih di dalam hatinya membayangkan hal itu.
__ADS_1
"Wanita? Wanita apa?" -merampas kemejanya tersebut dari tangan Jenni. "Apa ini? Tidak! Ini tidak mungkin, Jenn," -berpikir keras, ia sama sekali tidak mengingat ada wanita. Hanya ada dirinya, Jung dan Min. 'Dua pria itu tidak memakai lipstik' pikirnya.
"Ehmm tak apa, kau mau pergi dengan wanita manapun, terserah! Lagipula aku yang menyarankannya. Itu lebih baik untukmu."
"Jenn! Aku tidak dengan wanita semalam." -dengan wajah memohon.
"Tak perlu mengelak Mario. Tapi ... aku ingatkan, berhati-hatilah. Jangan sampai Given mengetahuinya." -melangkah pergi.
'Ini gila. Aku tidak menyangka hatiku merasa sakit hanya karena bekas bibir seseorang menempel di baju-nya. Bukankah ini bagus? Dia mendapatkan kesenangan diluar seperti yang aku sarankan.'
'Lagipula... yang kami jalani ini bukan pernikahan normal. Aku tidak perlu merasa diselingkuhi.'
.
Di dalam kamar, Mario tak hentinya menghubungi Min dan Jung secara bergantian. Namun, tidak satupun dari keduanya menjawab telpon. "Shitt, kalian berdua harus tanggungjawab." -kesalnya. saat ini, Mario hanya membutuhkan penjelasan dari dua temannya itu.
Di kamar Given.
Jenni menghubungi ibu mertuanya. Hatinya yang terasa sedang resah, membuatnya merindukan suara Given.
[Halo Jen, kenapa sayang?] sapa mama Yoora.
[Ma... apa Given sudah bangun? Kalian berdua sehat?]
[Jenn, kenapa mama merasa kamu sedang sedih? Rindu Given?]
[Tidak sedih ma, iya... aku rindu Given.]
[Mooommmyyyy] suara Given menyapa.
[Sayang, apa kamu sehat? Apa liburannya menyenangkan?]
[Sehat Mom, Momm, disini sangat indah. Given ingin mengajak mommy sama daddy kesini nanti saat daddy tidak bekerja.]
[Oke sayang! Mommy tunggu Given pulang. Bersenang-senanglah sayang!]
[Oke Mom, jangan sedih ya mommy! Daddy, dimana daddy? Apa Daddy marah-marahin mommy saat tidak ada Given?]
[Daddy? Daddy ... daddy kamu ---] ponselnya tiba-tiba berpinda tangan.
[Halo sayang, ini daddy...]
[Dad, daddy... I Miss you.]
[Given, Daddy miss you too.]
[Dad, disini sangat indah. Dad, Given ingin ajak Daddy dan mommy kesini saat daddy tidak sibuk.]
[Ide bagus sayang! Bulan depan, daddy janji akan bawa Given dan mommy liburan kesana lagi.] -seraya menatap Jenni yang sedang membuang pandangannya ke arah lain.
[Thanks daddy, daddy memang baik. Dad, jangan marah-marah mommy Given yaa!]
.
.
Bersambung.....
thanks guys...
__ADS_1