Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Kelelahan


__ADS_3

"Kau mulai nakal ya, hmmm? Sengaja memancingku?"


Mario memainkan lengan lingerie sexy yang hanya berupa tali satu.


"Kenapa? Kau suka kan? Haruskah aku melepasnya?"


"Owh, sayang, tidak harus dilepaskan, isi di dalamnya sudah terlihat." -melirik tubuh Jenni dengan tatapan nakalnya.


"Kalau begitu, aku akan melepas pakaianmu saja."


Jenni mulai memainkan dua jarinya, menuju kancing paling atas kemeja Mario. Turun ke kancing kedua dan seterusnya.


Terjadilah hal itu lagi.


Mereka melakukannya tanpa henti. Tampaknya, keduanya masih saling merindukan meskipun hal itu hampir tak pernah mereka akui.


Masih dengan tubuh tanpa sehelai benangpun, Mario menggeser tubuhnya dan meraba laci yang ada di nakas.


"Mommy, aku akan memasang kalung ini di lehermu."


"Hmmm? Kalung?"


"Ini dari mama. Dulunya, pemberian nenek dari ayahku. Kabarnya, ini satu-satunya di dunia. Jadi jangan menghilangkannya."


Mario memasang kalung tersebut dan diakhiri dengan mencium singkat bahu istrinya.


"Trima kasih daddy ,,, aku suka."


"Jagalah itu. Jika kita punya anak laki-laki, istrinya yang akan mengenakannya kemudian."


Jenni pun mengangguk paham.


"Apa kau ingin hadiah dariku? Bilang saja. Aku akan memberikan apapun untukmu, Jenn!"


Mendengar itu, Jenni tersenyum. "Aku tidak tahu apa yang harus ku minta. Dulu ... aku dengan senang hati menerima dan meminta apapun darimu. Mengingat itu, aku merasa dulu aku sangat jahat."


"Sayang, tak apa. Kamu sekarang istriku. Milikku adalah milikmu. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku berikan. Rasanya dulu aku sudah memberimu semua jenis barang terbaik yang ada. Jadi, katakan saja apa yang kau mau, atau ... kau bisa membelinya sendiri. Aku tidak akan marah."


Mario lalu menutup tubuh polos mereka dengan selimut dan memeluk istrinya.


"Mario, aku ... hanya ingin kamu tahu satu hal."


"Apa itu sayang?"


"Aku ... tidak tahu apa aku pantas meminta hal ini. Aku, ... hanya tidak ingin ditinggalkan. Ditinggalkan untuk kesekian kalinya. Aku ingin kita bahagia bersama sampai akhir hidup kita. Tidak akan pernah merasa bosan, setia, saling menjaga, memahami dan menyayangi anak-anak kita."


Jenni mengutarakan isi hatinya sembari memandangi wajah suami yang sedang memeluknya.


"Wah, istriku terdengar sangat keren. Dengan senang hati aku akan menuruti keinginanmu itu sayang, ayo lakukan bersama-sama."


Keduanya pun saling tersenyum tulus.

__ADS_1


"Trima kasih ya daddy,"


"Sama-sama mommy sayang, ayo tidur, besok pagi kita lanjut lagi, ya!"


"Lanjut apa? Enak-enakan?"


"Hmmm. Betul sayang,"


"Tapi kita sudah melakukannya banyak kali malam ini, tidak capek?"


"Capek? Tidak, aku ... bahkan masih sanggup sekarang."


"Yah? Daddy, kamu ...-"


"Sssuuuuut! Jangan protes sayang aku ini memang masih sangat kuat."


"Tapi besok aku akan mulai bekerja daddy! Jangan membuatku lelah."


"Mama tidak akan memarahimu sayang, lagi pula, kita harus kerja keras biar jadi adiknya Given! Kamu tidak tahu ya, kita didoakan oleh banyak penggemar cerita ini supaya segera mendapatkan anak kedua!"


Jenni hanya bisa pasrah dan mengangguk beberapa kali, membenarkan perkataan suaminya.


...........


Keesokan paginya.


"Papa! Mama!"


"Boy, papa sangat merindukanmu. Apa kau bersenang-senang dengan Joon?" tanya Stefan.


"Mereka sangat gembira bermain bersama. Joon pasti sedih ditinggal Arsen hyung-nya." timpal nyonya Kim.


Di dalam pesawat.


"Papa, Mama, sebentar lagi, Joon akan punya adik." -Arsen memberitahu kepada kedua orangtuanya yang tentu saja sudah memgetahui hal itu.


"Ya! Kalau adiknya Jonn lahir, papa akan ajak kamu dan mama mengunjungi mereka lagi."


"Benarkah?" Arsen tampak bersemangat.


'Kamu juga akan punya adik sayang,' batin Gina, sambil memandangi wajah tampan putra satu-satunya itu.


'Kalau Helena tidak berubah pikiran, kau juga akan punya adik boy, tenang saja.' -Stefan mengusap kepala Arsen, sang jagoan kesepian yang selalu merengek tentang adik.


Ya ... Arsen bahkan tergila-gila pada temannya yang lebih muda, selalu menganggap mereka sebagai adik. Itulah Arsen.


Kecuali tentang Given, anak tampan itu sepertinya berubah rasa terhadap Given hanya karena beberapa kali adik perempuan itu mengompol di atas tempat tidur miliknya.


........


Kembali ke Seoul.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju kantornya, Mario menghubungi sang ibu.


[Iya Mario? Ada apa?]


[Mama dimana? Anakku dimana?]


[Mama di kantor. Anakmu bersama mama disini.]


[Ma, istriku mungkin belum masuk kerja hari ini. Karena dia masih tertidur sangat nyenyak. Seperyinya ... dia sangat lelah.]


[Oh, astaga Mario, kamu memakan habis menantu mama?] -


Sepertinya si mama terdengar kesal sekaligus senang.


[Ya, gimana ya mah, aku tidak bisa membiarkan dia disaat kami hanya berdua.]


[Baik, terserah kau saja. Tapi, jangan sampai tidak bangun-bangun lagi anak perempuan mama.] -merasa gemes dengan keterusterangan putranya itu.


[Tenang saja! Oke, sudah dulu ya ma,]


Panggilan pun berakhir.


Nyonya Park Yoo Ra segera menghubungi temannya yang menjual minuman herbal yang akan ia berikan kepada menantu satu-satunya itu.


Menurut pengalamannya saat muda dulu bersama si pria Belanda itu, ia sering meminum herbal untuk menjaga stamina. Yang mana, suaminya itu sangat kuat dan tidak mudah lelah dan bercinta dengannya adalah kesenangan pria itu.


"Bisa jadi, Mario adalah pria perkasa sepertimu sayang. Aku harus menolong menantu kita." -wanita paruh baya itu berbicara dengan foto mendiang sang suami.


Waktu menunjukkan pukul 11 siang.


Jenni memasuki kantor milik neneknya Given itu dengan perasaan tidak enak.


"Selamat datang Nyonya baru!"


"Yaa?"


Jenni tampak sedikit terkejut atas sambutan ramah orang-orang pada dirinya. Sepertinya, mereka telah mengetahui bahwa dirinya adalah menantu si mama Yoora.


"Mommy!" seru seorang anak dan berlari ke arah Jenni.


"Sayang," Jenni memeluk dan menggendong anak itu lalu berpamitan pada orang-orang yang berada di sekitar mereka.


"Putra nyonya Park sangat pandai memilih istri. Lihatlah wanita itu. Dia tidak terlihat biasa saja."


.


"Selamat siang Mah, maaf aku ... sangat telat dihari pertama bekerja."


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2