
Stefan keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri pasca bergelut panas dengan Gina.
"Ingin bicara denganku? Apa itu?" tanya Gina pada seseorang melalui ponsel milik Stefan.
"Siapa yang menghubungiku sayang?" tanya Stefan, kembali bergabung dengan isteinya diatas tempat tidur.
Gina pun mengaktifkan loadspeaker agar Stefan mendengar.
[Gina! Begini ... maaf sebelumnya ... kudengar, kamu tidak akan bisa hamil lagi kan?]
[Apa maksudmu? Kau ingin menawarkan diri untuk menjadi wanita yang bisa memberi anak untuk suamiku? Aku tersinggung!]
[Gina, bukan itu maksudku,-]
[Lalu apa maksudmu?]
[Aku, hamil.]
[Hamil?]
[Iya ... dan ... dan ... pria itu tidak bertanggung jawab. Tidak, akulah yang bersalah. Maukah kau dan Stefan merawat anakku saat dia sudah lahir?]
[Yaaah? Kenapa kau dengan mudah ingin memberi anakmu untuk orang lain? Jangan berbuat sesuatu yang akan kau sesali selamanya.]
[Gina, saat ini ... hanya itu yang bisa aku pikirkan. Aku tidak berencana memiliki anak ini.]
[Baik, terserah padamu. Silahkan hubungi aku setelah anak itu lahir. Ingat, jangan hubungi suamiku, tapi hubungi aku.]
[Aku mengerti Gina. Gina terima kasih atas kebersediaanmu. Aku akan menghubungimu nanti.]
Panggilan pun berakhir.
"Sayang, mantan kamu ... hamil. Kita berdua akan mendapatkan bayinya. Kamu bersedia kan?"
"Anak Helena? Kamu yakin mau terima tawaran dia, sayang? Hati-hati! Jangan sampai ini hanya modus."
__ADS_1
Sepertinya, Stefan tampak curiga. Namun, Gina menjelaskan kesungguhan dari maksud Helena itu.
Bukan tak mau, Stefan hanya tidak ingin karena anak itu, Helena akan berbuat masalah dikemudian hari.
"Kita lihat saja nanti sayang!" ujar Gina.
.
.
Keesokan harinya.
Jenni membuka mata lebih awal, sedangkan Mario, masih tertidur dengan wajah tenang seperti bayi yang tak memiliki masalah hidup.
"Lebih baik aku membantu biat sarapan." ia pun perlahan tirun dari kasur, memakai pakaian yang sopan lalu menyapa para pelayan yang tentu saja sudah bangun.
"Pagi, Nyonya!" Sapa mereka, menyambut kedatangan Jeni yang sangat tak biasa.
"Pagi! Saya ingin membantu membuat sarapan." cap Jenni, tersenyum ramah.
"Tidak, aku ingin menyiapkan sarapan untuk anak dan suamiku. Hehe."
Mereka pun membiarkan Jenni melakukan apa yang hendak ia lakukan.
Dalam hati, mereka bertanya-tanya, kenapa kali ini Nyonya muda mereka terlihat sangat berbeda. wajahnya ceria, ia ramah dan penuh semangat. "Oh, mungkin sesuatu yang baik telah terjadi." pikir mereka.
Setelah bergelut dengan peralatan masak memasak, Jenni kembali ke kamar dan pebampakan yang masih sama, Mario masih tidur nyaman.
"Dia pasti sangat lelah, sampai harus mimisan. Biarkan saja dia beristirahat." -Masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Mario terbangun setelah meraba disekitarnya tidak lagi merasakan kehangatan yang semalaman ia rasakan.
"Jenn, sayang! Dimana kamu?" -
Mario pun turun dari tempat tidur karena tidak mendapat sahutan Jenni.
__ADS_1
Tok tok tok. Mengetuk pintu kamar mandi.
"Jen, kamu ada di dalam?"
"Iya! Aku sedang mandi."
Mario pun usil membuka pintu.
Ceklek,
"Daddy! Jangan Buka pintu. Aku sedang mandi."
Henni menjelaskan padahal Mario bisa melihat bayangan istrinya itu dibalik kaca buram pembatas.
"Jenn, aku juga ingin mandi, sayang!"
'Mandi mandi saja, tapi apa dia tidak mengenal budaya antri?'
"Baiklah Mario, aku sudah hampir selesai."
"Aku tidak berencana menunggumu selesai. Aku ingin mandi bersama." -memaksa masuk, bergabung dengan Jenni dan seketika wanita itu menutup tubuhnya secara refleks, berbalik membelakangi Mario.
"Kenapa masih malu-malu? Kita bahkan hampir melepaskan pakaian tadi malam." -usilnya.
"Mario, aku malu!"
"Mario? Hei! Mario katamu?"
"Lalu apa?"
"Sayang. Suamiku sayang. Daddy sayang! Terserah mau panggilan yang mana." -memutar tubuh istrinya.
"Baiklah, Daddy sayang!"
"Pintar Mommy sayang," sembari melepaskan pakaian kayang membalut tubuhnya. "Bagaimana? Kita bisa lanjutkan emah-emahan yang tertunda tadi malam?" -Mario, mulai beraksi.
__ADS_1