Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Kamu Cantik


__ADS_3

Sama si mimin, cover kita diganti baru nih, guys.0



Lanjut👇👇👇👇👇👇👇


“Gina, tadi ... aku mengira itu adalah dirimu.” Stefan seperti sedang mencoba menjelaskan sesuatu.


Benar, yang terjadi hanyalah kesalahpahaman. Stefan dengan percaya dirinya mengira dipeluk dari belakang oleh Gina, padahal itu adalah Helena. Tidak pernah Pria itu berpikir bahwa mana mungkin Gina melakukan itu.


“Yah?”


“oh, tidak. Begini ... kamu, Cuma salah paham.” Jelas Stefan yang kemudian mengumpat mulutnya sendiri ‘***, apa yang aku katakan**? apa aku harus menjelaskannya***? '


“Hah? Oh, Ehm. Fan, begini. Aku ingin membicarakan sesuatu.”


Keduanya tampak sama-sama salah tingkah.


“Ya, aku tahu Gin. Tentang pernikahan kita kan?”


“Ya benar. Em ... sepertinya kita tidak perlu menikah.”


“Apa? Kenapa?” Stefan merasa sulit mempercayai ada wanita yang tidak bersedia menikah dengannya.


“Maaf, Fan. Ini mungkin terdengar egois, tapi ... aku tidak bisa menikah hanya demi Arsen. Tenang, aku akan tetap jadi ibunya. Kau menikah saja dengan orang yang kamu cintai.” Gina menjelaskan, dengan cara sopan, agar tidak menyinggung.


“Gina –“


“Fan, aku ... tidak bisa berbagi milikku dengan orang lain. Jika kita menikah, maka ... aku tidak memperbolehkanmu disentuh oleh wanita lain. Seperti yang tadi aku lihat, aku tidak suka. Meskipun aku tahu kalian saling mencintai, aku tetap tidak bisa memakluminya. Maaf, aku memang seegois itu.” tuturnya lagi, membuat Stefan tersenyum.


“Gina, dengar” Stefan mendekati Gina dengan tatapan intens. ‘terpaksa aku harus mengakuinya’ batin Stefan. “Tadi, aku mengira kamu yang datang dan langsung memelukku. Jadi, aku membiarkannya.” Terang Stefan, pelan.


‘Apa? Jadi barusan aku terdengar seperti mencemburuinya? Astaga’ Gina membatin dengan perasaan tak menentu. Segera ia tepis perasaan itu dengan menanggapinya secara sedikit lantang. “Begitukah? Memangnya kamu tidak berpikir? Untuk apa aku datang-datang langsung memelukmu? Aku tidak mungkin seperti itu”


“Iya, maaf Gin, aku terlalu senang menunggu kedatanganmu.” Lagi-lagi Stefan berterus terang.


“Begitukah? Kenapa sesenang itu?” Menyilangkan kedua tangan diatas perut, berusaha terlihat acuh.


“Calon istriku mengabari akan datang ke kantorku, tentu saja aku senang” menatap semakin intens dengan tersenyum tipis.


“Gombal.”


“Aku serius.” Melangkah semakin mendekati Gina.


“E...h, mau apa? Jangan terlalu dekat”


“Aku ... mau ini” sedikit menunduk, mendekatkan wajahnya.


Gina pun reflek mundur.


Stefan kembali mendekat, dengan senyumannya yang kian jelas.


“Ja-jangan” Gina memalingkan wajah.


Stefan lalu mengambil sesuatu dari tangan Gina.


“ini untukku kan,” lalu ia berbalik, menuju sofa panjang untuk menikmati makan siang yang dibawakan Gina.


‘Apa yang aku pikirkan?’ Gina menggeleng mengusir pikiran tak berguna-nya.


“Ayo makanlah bersamaku. Ini sangat banyak.” Ajaknya, santai. Seolah tidak terjadi apapun. (memang tidak terjadi apapun)

__ADS_1


“makan saja, itu semua untukmu”


“Ayo, duduklah disini Gin,” Stefan menepuk tempat di sebelahnya.


“Kenapa aku harus duduk disebelahmu, aku disini saja.” Duduk di sofa yang berseberangan dengan Stefan.


“Kenapa duduk disitu? Kamu sengaja biar akau menatapmu sambil makan?”


“Hah? Jangan bercanda. Untuk apa kamu menatapku? Makan saaja.” Gina pin berpindah, duduk disamping Stefan.


"Kamu cantik,” Stefan reflek memuji. Namun seketika sadar ‘apa yang baru saja aku katakan?’


“Aku tahu aku cantik. Aku sering mendengarnya.” Jawab Gina, santai.


“Apa? Hehe, ternyata kau bisa bercanda juga.”


“Aku tidak bercanda. Aku memang cantik. Lihat saja wajah putraku. Dia tampan karena aku cantik.”


“Iya, iya Gin, aku percaya.” Stefan lalu menikmati makanannya. Pria itu terlihat sangat lahap. “Enak sekali makan siangku hari ini.”


“Itu masakanku,” Gina tersenyum kecil.


“Oh, benarkah? Pantas saja.”


“Pantas apa?”


‘Rasanya penuh dengan cinta’ batin Stefan


“Rasanya lezat” sambungnya kemudian.


‘Iyalah, kan dimasaknya pake hati’ Gina membatin.


Gina mencuri pandang kearah Stefan yang sedang menikmati makan siangnya. ‘Benarkah aku akan menikah dengan pria ini? Rasanya seperti mimpi.’


“Eh? Tidak.”


Tiba –tiba ...


drrruuut drrruuut


“Nio? Untuk apa dia mengubungiku setelah apa yang dia lakukan?”


“Jawab saja Gin, siapa tahu itu penting.”


“Hem, baiklah.” Gina pun berdiri dan menghindar dari Stefan.


.


“Apa Nio, bicaralah.”


Nio: “kakak apa kabar?”


“kau tahu kabarku. Masih bertanya.”


Nio: “kak, maafkan Nio”


“Hmmmm”


Obrolan keduanya berlangsung selama beberapa menit.


Stefan telah menyelesaikan makan siangnya. Ia pun duduk dengan santai menunggu Gina selesai becara.

__ADS_1


Tok tok tok.


Ceklek,


Seorang gadis yang adalah sekertaris baru Stefan memasuki ruangan bossnya itu dengan langkah yang sengaja dilenggak-lenggokkan. Ia melirik ke arah Gina sembari mendekati Stefan. “Permisi Pak, ini ada beberapa dokumen yang harus diperiksa lalu ditandatangani.” Menunduk di depan Stefan dengan sengaja memperlihatkan aset berharganya yang hampir saja keluar dari tempatnya itu.


‘Apaan perempuan ini? Sangat sexy dengan dandanan menor,’ Gina menatap tajam sang sekertaris.


“Ada lagi Megi? Jika tidak ada, silahkan keluar dan kembali bekerja.” Stefan bahkan tidak terpancing untuk melirik tubuh sexy yang tersuguhkan dengan sengaja di hadapannya.


“Satu jam lagi kita akan mengadakan pertemuan dengan Mr. Salim pengusaha dari Malaysia itu Pak,” Megi mengingatkan.


“Baik, persiapkan dirimu.”


Megi tersipu malu lalu menjawab “tentu saja saya akan bersiap Pak, permisi.” Megi kembali keluar dengan lenggokkkan menggelikannya itu.


Gina menatap kepergian Megi dengan tatapan tak suka.


Tak sengaja Stefan menangkap gelagat tak suka dari Gina. ‘Dia pasti akan protes.’ Batinnya.


“Dia sekertaris baruku. Kau belum bertemu dengannya kan?”


“Iya, belum. Sudah berapa lama dia bersama denganmu?” tanya Gina dengan gaya masa bodoh.


“Bersamaku? Hei ... ganti pertanyaanmu. Untuk apa aku bersamanya?” protes Stefan.


“Bekerja denganmu, maksudku.”


“Baru 1 minggu”


“Apa kau tidak tertarik padanya? Dia terlihat lebih oke daripada kekasihmu itu,” tanya Gina, acuh.


“Jaga bicaramu Gina, dia bukan kekasihku lagi.


“Oh, maaf,”


“kau kenapa Gin, hem?”


“Tidak, aku hanya merasa kasihan padamu, Fan.”


“Kenapa lagi?


“Yang kulihat, sekertarismu seperti ingin memakanmu,”


“Eh? Jadi kamu cemburu ya?”


“Untuk apa aku repot-repot cemburu? Aku bilang hanya menkhawatirkanmu.”


“Khawatir calon suami diambil wanita lain yah?”


“Bukankah kamu pernah mengalaminya? Kamu kehilangan Helena karena kedapatan bersama wanita lain kan?”


Hufff. Perkataan Gina sedikit mengganggu ketenangan hati.


“Tapi wanita yang bersamaku itu telah menyelamatkanku. Dia bahkan memberiku seorang Putra yang sangat tampan." Stefan menatap lekat Gina. "Kurasa, aku mulai menyukainya,”


DEG.


Gina terdiam, membalas tatapan Stefan.


.

__ADS_1


.


Bersambung,


__ADS_2