
"Daddy," -menahan rasa geli karen ulah Mario yang menciumi bagian sensitivnya.
"Apa sayang? Hmmm?" -Terus aktif menyusuri setiap lekuk tubuh yang menurutnya sangat menggoda itu.
"Daddy, kau tidak akan mimisan lagi?"
"Kenapa? Khawatir padaku? Jangan khawatir sayang, ayo nikmati pagi ini. Mumpung kesayangan kita belum bangun dan datang mengganggu."
"Kalau begitu, di tempat tidur saja jangan disini Daddy,"
"Baiklah mommy sayang!" -mengangkat tubuh Jenni yang masih polos. Ya ... mereka sama-sama polos.
Kembali Mario menyesap bibir sexy milik istrinya, tangannya yang aktif mengembara kemana-mana. Ciuman itu turun ke leher, menciptakan sentuhan demi sentuhan yang bikin melayang.
Tangannya mulai meremas gunung kembar yang padat berisi itu, sungguh membuat Jenni tak mampu menahan suara enak yang kini keluar dari mulutnya.
"Sayang, I Love You!" bisiknya, lalu menjilati area sensitif telinya Jeni.
"Emmmmhh, Daddy!"
Senang namanya dipanggil sambil mendesah, aksi Mario semakin memburu. Ia kini menuntun tangan mulus istrinya kearah junior miliknya yang sedari tadi sudah mengeras tegang.
Tok tok tok.
"Mommy! Daddy!"
"GIVEN?"
Keduanya sama-sama menyebut nama putrinya itu.
"Bagaimana ini?" -tanya Jenni.
"Lanjut sayang! Aku benar-benar sudah tidak tahan." -Mengarahkan senjata milik ke arah sasaran.
"Momm, Dad! Given lapar," -terdengar samar-samar keluhan anak itu, karena tidak mendapat respon dari kedua orang tuanya.
'Sorry baby! Daddy juga lapar!'
"Ayo tuntaskan cepat Daddy!"
"Baiklah sayang," -menghentak tubuhnya, sehingga miliknya kini berhasil masuk dengan sempurna, diiringi dengan suara-suara ******* yang saling beradu.
"Mommy, aku sangat merindukan ini."
"Apa rasanya masih sama dad?"
"Iya sayang, masi sama, enak!" -Mario, dengan tatapan liarnya.
__ADS_1
Tanya jawab seputar topik mesum itu berakhir saat keduanya berada di puncak kenikmatan yang rasanya tak ingin diakhiri itu.
"Mom, buang diluar atau di dalam?" -tanya Mario dengan napasnya yang memburu, menahan sesuatu yang hendak keluar.
"Terserah Daddy saja." jawab Jenni, sambil terus mendesah, menikmati hentakan yang semakin kuat .
Ssrrrrooot. Semburan cairan dari milik Mario itu kini mulai menjelajah ke dalam perut Jenni yang kini hanya pasrah dalam posisi terlentang.
"Mommy Sayang! Terima kasih!" -memberi satu kecupan di kepala istrinya, lalu berbaring memeluk. "Aku, sangat senang sayang!" -kata Mario lagi disela napasnya yang masih terdengar ngos-ngosan.
"Hei daddy sayang, kamu mau apa lagi? Tidur?"
"Iya. Sayang, kau masih mengingat kebiasaanku kan? Selesai bercinta, aku akan tidur dulu sebentar."
Jenni pun hanya menjawab "Oke" lalu beranjak setelah memberi kecupan di pipi kanan Mario. Setelah membersihkan diri, ia kenakan pakaiannya lalu pergi menemui Given.
"Sayang!"
"Moommy!" -Given yang sedang duduk sendirian di anak tangga, sontak berdiri.
"Given lapar? Ayo mommy temani sarapan," -menggandeng tangan sang anak.
"Mom, where's daddy?" -menanyakan ketidakberadaan sang ayah.
"Daddy masih tidur sayang,"
"Mommy tunggu daddy sayang, sarapan sama daddy." -tersenyum.
"Mom, mommy happy? Daddy sudah baik yah ke mommy?" -bertanya dengan wajah sumringah.
"Baik sayang. Daddy Given sangat baik." -tersenyum manis, agar anaknya itu merasa tenang.
Ternyata ... anak itu selalu.memghawatirkan tentang ibu dan ayahnya. Mengetahui sang ibu bahagia bersama daddy, ia pun terlihat sangat legah.
Tap tap tap. Langkah kaki seseorang memasuki kediaman itu.
"Grand'ma!" -seru Given memyambut kedatangan sang nenek.
"Maah! Selamat pagi."
"Jen! Kamu terlihat senang, tidak biasanya?" -mama menatap curiga.
"Ma ! aku dan anak mama itu, sudah baikan."
"What?" -mama mendekati Jeni dan memeluknya. "Sayang, terima kasih sayang! Mama senang mendengarnya." -sekali lagi memeluk. "Kalau begitu, mama akan bawa pergi Given hari ini, kalian habiskan waktu berdua lebih banyak."
"Tidak masalah. Silahkan Mah."
__ADS_1
Tap tap tap
Langkah seseorang menuruni tangga.
"Mommy, dimana kamu sayang!"
Ya ... orang itu adalah Mario.
"Apa kau buta? Istrimu ada disini." -Respon Mama pada putranya yang terlihat belum sadar sepenuhnya dari alam mimpi.
"Morning Daddy!" -sapa Given.
"Morning sayang!" -duduk di sebelah Jenni, yang kebetulan berseberangan dengan Given dan sang mama. Ia lalu memegang tangan istrinya itu dibawah meja, diam-diam.
"Mario, jam segini baru bangun? Sepertinya kau kelelahan yah?"
"Tenti saja!" -jawab Mario, santai.
"Sibuk apa?"
"Olahraga bersama istri Mah." -jawabnya cuek, melirik Jenni dengan tatapan nakal.
"Kau ini, persis seperti ayahmu."
"Tentulah Ma, aku putranya."
"Daddy, apa Daddy sudah menitipkan adik bayi ke perut mommy?"
"Yaaaa?" -si nenek melotot. "Kalian, melakukan itu di depan dia?" -serang mama.
"Di depan dia? Tidak Ma! Kenapa lakukan di depannya? Kita baru melakukannya sekali."
Uhuk uhuk uhuk!
Mario terlihat menghawatirkan Jenni yang tiba-tiba terbatuk-batuk. "Sayang kamu keselek? Ini minum."
"Daddy kok tidak jawab?"
"Iya sayang, daddy sudah titipkan Given tunggu saja yah?"
.
.
Bersambung...
Oke, double up.
__ADS_1