Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Lunch With Nio


__ADS_3

Gina kembali menerima tatapan intens dari cinta pertamanya itu, untuk kesekian kalinya.


"Aku ... menginginkan itu,"


Tok tok tok.


Tatapan intens yang mampu bikin melayang seorang Gina itu, menghilang entah kemana ditelan oleh suara ketukan pintu.


"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?"


"Yah? Santai saja. Jangan panik."


"Tidak. Aku harus bersembunyi." dengan langkah cepat Gina menghambur bersembunyi di balik pintu.


Ceklek.


"Mama? Ada apa Mah?"


"Fan, mama ingin bicara."


"Oh, kalau begitu, diluar saja Mah, aku merasa haus dan ingin minum."


Mama terlihat sedikit memicingkan mata, curiga akan gerak gerik Stefan.


"Fan, kamu tidak sedang menyembunyikan seseorang di kamarmu kan?"


"Yah"


"Kamu tidak bermain gila di belakang Gina kan?"


"Ma! Jangan asal menuduh. Sejak kapan mama jadi tukang fitnah?"


"Sejak kamu hampir memperkosa Gina malam itu." tegas Mama, nyolot, berhasil membungkam mulut Stefan.


'Owh, ibu mertua sangat pendendam, bahkan pada anaknya sendiri.' Gina hanya bisa membatin dari balik pintu.


Setelah memastikan ibu dan anak itu menjauh, Gina pun tak ingin buang waktu lagi, segera ia berlari ke kamar miliknya.


'Huft huf! Kesalahan apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku sangat takut jika ketahuan?'


\=\=


"Pah, apa Papa yakin mempertaruhkan seluruh aset kita untuk perusahaan mainan itu?"

__ADS_1


"Papa sangat yakin Nio," jawab Farrel, mantap.


Ayah dari Gina itu bergabung di sebuah perusahaan yang bergerak dibidang produksi mainan, sebagai salah satu pemegang saham. Tekad pria paruh baya itu sudah sangat bulat. Kelak ketika perusahaan ini sudah berkembang, akan ia berikan sahamnya itu sebagai hadiah untuk cucu pertamanya, anak dari Gina.


Hal itu ia lakukan sebagai bentuk permintaan maaf dan rasa sayangnya kepada sang cucu yang telah ia abaikan. Farrel bahkan rela mempertaruhkan semua restorannya yang sudah berkembang demi perusahaan mainan itu.


\=\=\=


Keesokan harinya.


Stefan baru saja bersiap untuk pergi makan siang bersama Gina. Sesuai masukan dari sang ibu, bahwa dirinya harus membangun kedekatan dengan Gina.


....


“Permisi,”


“Iya? Ada yang bisa saya bantu?”


“Saya ingin bertemu CEO perusahaan ini.”


“Maaf, apa anda sudah buat janji?”


“Janji? Oh. Belum.”


“Baiklah, terima kasih. Nama saya, Nio Fernando.”


Tap tap tap


Dari arah lift muncullah Stefan yang diikuti sekertaris pribadinya.


“Permisi, Nona, itu dia. Tidak perlu mengatur janji. Saya akan menemuinya sekarang.”


“Yah?”


Nio segera pergi dari hadapan Nona resepsionis itu lalu menghampiri Stefan.


Tap,


Stefan menghentikan langkahnya. ‘Dia? Adik-nya Gina?’


“Hai, selamat siang kakak ipar.”


“Selamat siang. Mau bertemu siapa?”

__ADS_1


“Maaf, saya kesini ingin bertemu anda, kakak ipar,”


Stefan segera membatalkan rencana makan siangnya dengan Gina dan beralih makan siang bersama Nio, calon adik iparnya. Pria itu pun mengirim pesan pada Gina.


(Gin, maaf! Makan siangnya kita batal yah, aku mendadak punya tamu penting.)


“Apa? Pria ini, benar-benar. Dia memintaku menunggu lalu membatalkannya seenak hati?”


Beberapa saat setelah bergumam kesal, Gina pun segera sadar dan menyesali umpatannya. ‘Mungkin aku sangat lapar, jadi sedikit sensitif.’


Kebetulan Arsen dan kakek neneknya sedang melakukan perjalanan ke luar kota, Gina memutuskan untuk keluar jalan-jalan sekalian makan siang, walaupun hanya seorang diri.


Di kediaman Yares.


“Tante Veni, bagaimana ini? Aku tidak rela Gina bahagia dengan Stefan.” Keluh Helena.


“Hel, maaf. Tante tidak bisa bertindak apapun. Ibunya Stefan itu adalah teman tante. Dia itu terkenal tegas. Dia tidak akan segan mempermalukan tante didepan relasi kami jika berani mengusik Gina. Dia terlihat sangat menyukai Gina.”


“Tante ... pleaseee, satu kaliii aja. Buatlah agar nyonya Yoris itu membenci Gina.”


“Helena, aku tidak punya kemampuan melakukan itu. Farrel bisa menghukumku jika tau aku mengganggu Gina.”


'Baik, aku akan berusaha sendiri. Wanita itu telah menantangku bahwa aku harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan Stefan lagi. Hehe, Gina ... Gina ... Gina. Kita lihat saja nanti, apa yang akan kau lakukan jika Stefan berpaling darimu dan kembali padaku.'


Di Restaurant.


Dua pria tampan itu telah menyelesaikan makan siangnya.


"Kakak ipar, apa kau akan mencintai kakakku?"


Degh.


Stefan tak pernah mengira pertanyaan ini terlontar dari mulut seorang Nio Fernando.


"Kenapa? Kau ... meragukan aku?"


"Jika iya, maka nikahi kakakku secepatnya."


"Lalu bagaimana dengan kakakmu? Apa dia ... akan mencintaiku?"


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2