
Setelah menyelesaikan acara mandi paginya, Gina pun bersiap dengan pakaian rapi karena hari ini dirinya akan berkunjung ke rumah ayahnya setelah mengantar Arsen ke sekolah.
Bib,
Sebuah notif masuk ke ponsel Stefan dan pria itu dengan cepat membukanya. Rupanya itu adalah notif dari sekertaris pribadinya yang memberitahukan bahwa cabang perusahaan yang ada di Dubai sedang dalam masalah.
'Arrkh, ada - ada saja.' umpatnya dalam hati.
"Papa, Papa ... itu mama," beritahu Arsen kepada Stefan yang duduk disampingnya, menunggu Gina untuk sarapan bersama.
'Apa aku ajak saja istriku?'
"Hai, sayang maaf yah, lama ya nungguin mama sarapan?" Gina mengacak rambut Arsen yang sufah rapi.
Arsen hanya tersenyum lebar sembari menggeleng.
"Sayang, hari ini mama akan ke rumah kakek setelah mengantar Arsen ke kelas. Jadi, mama tidak tunggui sampai Arsen pulangan sekolah. Tak apa kan sayang?"
"Iya, Mah." jawab anak itu, singkat.
....
Keluarga itu pun sarapan dalam keadaan hening.
"Pah, Mah, siang hari ini aku akan ke Dubai."
"Yah? Fan, kamu ... kalian baru saja menikah. Minggu depan baru resepsi kalian."
"Itu sebabnya, aku ... ingin mengajak istriku Pah, hanya 4 hari."
"Uhuk," Gina tersedak.
Dengan cekatan Stefan mengelus punggung belakang istrinya. "Gin, pelan-pelan."
"Oh, bagus. Sekalian ajak istri kamu ke Dubai, habiskan waktu bulan madu disana. Ya kan pah?" Menoleh ke arah suaminya.
"Yah, tentu saja, silahkan saja." ujar papa Toni.
"Bagaimana Gin? Kamu mau kan, ikut ke Dubai?"
"Ehm. Ba-baiklah." Gina tersenyum kecil. 'Bulan madu di Dubai tanpa rencana? Ini menarik.' batinnya.
....
"Gin, aku akan ke kantor. Kamu bersiaplah untuk keberangkatan kita berdua. Kamu bisa pamit ke papa kamu dulu. Kamu mau ke tempat papa kan?"
"Emmm ... aku akan menelpon Papa."
"Okeh, baiklah. Aku pergi. Bersiaplah dirumah. Biarkan Arsen diantar oleh pengawalnya."
"Iya, aku ... mengerti."
"Oia, Jangan lupa. Hukumanmu akan kamu terima di Dubai." Stefan mengedipkan sebelah matanya, nakal.
"Hukuman? Ih, kenapa dia sangat pendendam?" gumam Gina, menatap kepergian Stefan.
Drrrrt drrrrt drrrrt.
__ADS_1
Sebuah panggilan masuk ke ponsel Gina dengan nomor tanpa nama.
(Ha-halo) jawab Gina.
(Halo, Gina ... ini mama Veni Gin)
Gina:
(Ya? Ada apa? Kenapa mama menangis?)
Mama Veni:
(Gin, apa papa sama Nio menghubungi kamu?)
Gina:
(Tidak ada Ma, ada apa?)
Mama Veni:
(Bisakah kamu ke kantor Papa? Papa sedang dalam masalah besar Gin).
degh.
'Masalah apa lagi ini?'
Gina:
(Baik, aku akan kesana Ma.)
Gina bergegas menuju kantor ayahnya dengan naik taxi.
Dengan langkah cepat Gina menuju ke ruang kerja papa Farrel.
Tok tok tok.
CEKLEK.
"Pah!"
"Rio? Sedang apa kamu di sini?"
Pemandangan mengejutkan penuh tanya di kepala Gina. Rio sedang duduk dengan gaya bossy pada sofa khusus milik ayah Gina itu, sementara sang ayah dan juga Nio sedang duduk dalam posisi kepala tertunduk.
"Gina, kenapa kesini sayang? Pulanglah." perintah papa, dengan nada pelan, tanpa melihat ke arah putrinya.
"Pa ..., situasi apa ini?" tanya Gina lagi, dengan wajah paniknya. Perasaan wanita itu sudah tidak nyaman.
Tidak ada jawaban dari Nio maupun Farrel. Sedangkan Orland Mario kini menatap Gina dari tempatnya, sedikit menyeringai.
"Rio, kenapa dengan papa dan adikku?" menatap tajam kearah Rio.
"Gina, kau terlihat sangat panik. Ini bukanlah masalah besar karena kau pun bisa menyelesaikannya."
"Apa maksudmu?"
"Ah, Gina ... aku bingung harus bicara dari mana dulu ya," Pria itu memainkan jari dibawah dagunya sendiri.
__ADS_1
"Cepat, jangan banyak basa-basi." bentak Gina.
"Gina Feroni, segera tinggalkan Stefan dan menikahlah denganku."
"Apa? Apa kau gila?"
"Lakukan seperti yang aku minta, maka ... keluargamu aman. Kau mungkin belum tahu, hampir seluruh harta milik keluargamu sekarang berada di genggamanku."
"Apa? Kau mengancamku?"
"Aku tidak mengancammu, tapi ... itu adalah kenyataan."
"Rio, jangan main-main denganku. Kau tidak mengenal pria yang ku nikahi? Jika aku memberitahunya tentang ini, kau akan berakhir." tegas Gina, penuh percaya Diri.
"hahahaha." Mario tertawa jahat dengan tingkahnya yang benar-benar menjengkelkan.
"Apa kau yakin suamimu sehebat itu? Ingat, kalian memiliki skandal beberapa tahun yang lalu. Jika itu terekspose, apa kau pikir dia tidak akan terancam? Siapa namanya? Arsen? Kau bahkan tidak mengumumkan kepada semua orang bahwa kaulah ibu kandung anak itu."
"Stop! Darimana kau mengetahui tentang putraku?"
"Apa kau yakin semuanya akan baik-baik saja jika semua orang tahu jika kau telah meninggalkan anak itu dan ayahmu ini juga membuang kalian? Hei Gina, jangan bodoh. Nama baik dua keluarga kalian akan tercoreng karena ini."
"Jangan bawa-bawa nama Putraku. Kau tidak berhak."
Sekali lagi, Gina harus melihat seringai jahat pria di depannya.
"Jadi, kalian pikirkanlah ini baik-baik. Jika masih ingin memiliki restorant dan mengambil alih perusahaan mainan itu, maka ... itu saja yang aku minta, yaitu ... Gina. Aku tunggu keputusanmu 3 hari lagi. Aku akan mengabarimu tempat pertemuan kita berdua."
Rio pun beranjak dari sana setelah tak lupa mengatakan permisi.
Setelah kepergian Rio, akhirnya Nio dan Farrel menceritakan tentang kronologi dan situasi mengancam yang kini tengah mereka alami.
"Maafkan papa nak, Papa sangat bersemangat berinvest di perusahaan mainan itu. Papa tidak tahu jika di dalamnya ada orang yang berniat menipu." Farrel menyesali semuanya dan menganggap itu adalah kebodohannya sendiri.
"Jadi, perusahaan itu akan menjadi milik Rio, dan saham milik Papa menghilang, begitu?"
Papa hanya mengangguk pasrah.
Tok tok tok.
Ceklek.
Mama Veni memasuki ruangan dengan wajah panik.
"Sayang, bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?"
Ketiga orang itu tidak merespon apapun.
"Gin, jangan biarkan papa mengalami ini nak, minta Stefan atau ayah mertua kamu untuk bantu kita." desaknya mama, memohon.
"Ma, sadar ... aku baru 2 hari jadi bagian keluarga itu. Apa aku harus bersikap tidak tahu malu?"
.
.
Bersambung.
__ADS_1
hai ... makasih atas hadiah, ucapan selamat dan doa kalianš„°